Prospek Industri Pulp & Kertas Dibayangi Tekanan Biaya Produksi

bisnis.com
2 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Prospek industri pulp dan kertas nasional masih menunjukkan arah positif di tengah ketidakpastian global. Namun, pelaku usaha diminta tetap mewaspadai tekanan biaya produksi, gangguan rantai pasok, hingga persaingan produk impor yang kian ketat.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian Saleh Husin mengatakan, sektor pulp dan kertas tetap menjadi salah satu pilar strategis manufaktur nasional dengan kontribusi sekitar 3,7% terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan. Selain itu, kinerja ekspor yang kuat dan tren global yang mendukung menjadi penopang utama prospek industri ini.

“Permintaan global cenderung meningkat, terutama didorong oleh tren substitusi plastik ke kemasan berbasis kertas serta pertumbuhan e-commerce dan industri makanan-minuman,” ujarnya kepada Bisnis, Sabtu (11/4/2026).

Meskipun prospek sektor ini tetap positif di tengah tren substitusi plastik ke kemasan berbasis kertas, ketidakpastian global memaksa para pelaku usaha untuk bersikap lebih moderat dalam jangka pendek.

“Konflik Timur Tengah membuat prospek jangka pendek lebih moderat karena tekanan biaya, gangguan logistik, dan fluktuasi permintaan ekspor,” tuturnya.

Saleh menjelaskan, tekanan muncul pada dua lini sekaligus. Di hulu, harga bahan kimia, energi, dan bahan pendukung menjadi mahal dan tidak stabil. Sementara di hilir, distribusi ekspor terganggu akibat kenaikan biaya angkut dan lead time yang lebih panjang. 

Baca Juga

  • Industri Pulp & Kertas Putar Otak Hadapi Tuntutan Transformasi Hijau
  • KLH Dorong Industri Pulp dan Paper Kelola Lingkungan Capai Proper Hijau
  • Selain Migas, Riau Lebih Fokus Andalkan Sawit dan Industri Pulp & Paper Jadi Sektor Unggulan

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap efisiensi operasional dan meningkatkan biaya produksi perusahaan. Terlebih, industri pulp dan kertas merupakan sektor padat energi sehingga sangat sensitif terhadap volatilitas harga energi global.

Menurut Saleh, lonjakan harga energi telah memicu kenaikan biaya produksi (cost-push inflation), diperparah dengan kenaikan harga bahan baku global. Bahkan, harga pulp sempat melonjak sekitar 25% dalam waktu singkat, yang berdampak pada daya saing ekspor.

“Margin perusahaan tertekan, terutama bagi produsen yang tidak memiliki integrasi hulu seperti perkebunan dan kemandirian energi. Banyak perusahaan akhirnya melakukan price pass-through. Namun, ini berisiko menekan permintaan,” ungkap Saleh.

Di tengah tekanan biaya, industri juga menghadapi tantangan dari produk impor yang lebih kompetitif, khususnya dari negara dengan biaya energi lebih rendah atau dukungan subsidi. Kondisi oversupply global dan praktik dumping turut memperbesar tekanan terhadap pasar domestik.

Selain faktor siklikal akibat geopolitik, Saleh menilai industri pulp dan kertas juga dibayangi tantangan struktural, mulai dari keterbatasan bahan baku domestik tertentu, hambatan non-tarif dan standar keberlanjutan global, hingga tuntutan transisi menuju industri hijau.

Untuk menjaga daya saing di tengah kondisi ini, Kadin mendorong sejumlah kebijakan prioritas. Dalam jangka pendek, pemerintah dinilai perlu memberikan insentif biaya produksi, seperti subsidi atau kompensasi energi bagi industri padat energi, serta insentif fiskal berupa tax allowance atau tax holiday.

Kemudian, penguatan rantai pasok domestik melalui pengembangan bahan baku lokal dan peningkatan efisiensi logistik, termasuk pelabuhan, menjadi langkah strategis yang perlu dipercepat.

Kadin juga menekankan pentingnya kebijakan perdagangan yang terukur, antara lain melalui penguatan instrumen trade remedies untuk mengantisipasi praktik dumping serta pembukaan pasar ekspor baru guna diversifikasi tujuan ekspor.

Selain itu, dukungan terhadap transformasi industri hijau dinilai krusial melalui pemberian insentif investasi teknologi rendah karbon serta skema pembiayaan transisi atau green financing. Adapun, yang tidak kalah penting adalah kepastian regulasi dan konsistensi.

“Sinkronisasi kebijakan lintas sektor agar tidak menambah biaya kepatuhan,” imbuh Saleh.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Sawit Sumatra Utara Naik Terdampak Perang Iran vs Israel-AS
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Rabu pagi harga emas Antam melonjak lagi menjadi Rp2,893 juta/gr
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Sekjen PBB Serukan Kebebasan Navigasi di Selat Hormuz: Harus Dihormati Semua Pihak
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Kejari Surabaya Setop Penyelidikan Puncak CBD Wiyung, Dugaan Korupsi Mentok di Ranah Perdata
• 4 jam lalurealita.co
thumb
Miris! Clara Shinta Pergoki Suami VCS, Padahal Sedang Program Kehamilan
• 6 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.