HARIAN FAJAR, MAKASSAR — Pertanyaan “apakah seks itu penting dalam hubungan?” seringkali memicu perdebatan panjang. Jawabannya pun beragam: ada yang bilang sangat penting, ada yang merasa biasa saja, bahkan ada yang menganggap bukan prioritas utama.
Lantas, bagaimana sebenarnya sudut pandang kesehatan dan psikologi melihat hal ini? Menariknya, tidak ada standar baku “satu ukuran untuk semua”. Dari ulasan di healthline, kebahagiaan sebuah pasangan sangat bergantung pada kesepakatan dan kebutuhan masing-masing individu.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai peran seks dalam hubungan yang perlu Anda pahami agar tetap harmonis dengan pasangan.
1. Seks Bukanlah Syarat Mutlak Kebahagiaan
Banyak pasangan tetap merasa bahagia dan sehat meski jarang berhubungan seks. Istilahnya, seks memang bumbu, tapi bukan bahan utama masakan. Ada berbagai alasan mengapa intensitas seks menurun, mulai dari kondisi medis, stres pekerjaan, hingga orientasi seksual seperti aseksual (orang yang memiliki sedikit ketertarikan seksual).
Jika Anda dan pasangan merasa cukup dengan kedekatan emosional tanpa aktivitas ranjang yang intens, itu sah-sah saja. Yang terpenting bukanlah frekuensinya, melainkan kepuasan kedua belah pihak.
2. Manfaat Seks bagi Kesehatan Tubuh dan Mental
Bagi mereka yang menganggap seks penting, aktivitas ini menawarkan segudang manfaat medis yang sudah teruji secara ilmiah, di antaranya:
- Meningkatkan Imun: Studi menyebutkan seks teratur membantu tubuh lebih kuat melawan penyakit.
- Kesehatan Jantung: Aktivitas ini bisa jadi bentuk olahraga ringan yang baik untuk sirkulasi darah.
- Meredakan Stres: Saat berhubungan, tubuh melepaskan hormon endorfin dan oksitosin yang membuat perasaan lebih tenang.
- Bikin Awet Muda dan Cerdas: Penelitian menunjukkan orang usia 50 tahun ke atas yang aktif secara seksual memiliki fungsi kognitif dan ingatan yang lebih tajam.
3. Lingkaran Setan Kedekatan: Seks dan Kasih Sayang
Ada sebuah siklus menarik: semakin sering Anda berhubungan seks, semakin Anda merasa disayangi. Sebaliknya, semakin besar kasih sayang yang ditunjukkan (melalui pelukan atau ciuman), semakin tinggi gairah untuk berhubungan seks. Ini disebut sebagai intimacy feedback loop. Seks bisa menjadi cara paling intim untuk memperkuat ikatan batin pasangan.
4. Intim Tak Harus Selalu Telanjang
Ingat, keintiman tidak sama dengan penetrasi. Jika libido (gairah) salah satu pihak sedang turun, Anda tetap bisa menjaga kemesraan melalui cara non-seksual, seperti:
- Berpelukan dan berpegangan tangan.
- Saling memijat setelah lelah bekerja.
- Percakapan jujur dan terbuka dari hati ke hati (deep talk).
5. Masalah Libido: Kenali Penyebabnya
Jika Anda merasa gairah menurun drastis dan mengganggu keharmonisan, jangan langsung panik. Penurunan libido bisa disebabkan oleh banyak faktor eksternal, seperti stres berat, perubahan hormon (kehamilan atau menopause), efek samping obat-obatan, hingga faktor usia.
6. Kuncinya Adalah Komunikasi
Masalah terbesar dalam hubungan bukanlah “kurang seks”, melainkan “kurang komunikasi” soal seks. Jika Anda merasa ada ketidakcocokan gairah, bicarakanlah dengan pasangan tanpa saling menyalahkan. Gunakan kalimat yang lembut seperti, “Akhir-akhir ini aku merasa gairahku sedang turun karena lelah bekerja, aku harap kamu tidak salah paham ya,” atau “Ayo kita coba sesuatu yang baru agar tidak bosan.”
Pada akhirnya, seks adalah tentang kesepakatan bersama. Tidak ada yang salah dengan hubungan tanpa seks selama kedua belah pihak nyaman. Namun, jika seks menjadi cara Anda dan pasangan untuk terhubung, pastikan api asmara itu tetap terjaga dengan komunikasi yang terbuka.
Jika masalah ranjang mulai meruncing, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan ahli medis atau terapis seks demi menjaga keutuhan rumah tangga Anda. (*Nin)





