Ribuan Aktivis Menantang Blokade Bantuan ke Gaza, Greenpeace Indonesia Ambil Bagian

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kapal legendaris milik organisasi lingkungan Greenpeace, Arctic Sunrise, siap menantang blokade bantuan ke Gaza yang dilakukan Israel. Bahtera ini berlayar bersama lebih dari 70 kapal dan ribuan aktivis dalam misi Global Sumud Flotilla.

Dalam konvoi itu, Arctic Sunrise berperan memberikan dukungan teknis dan operasional maritim guna memastikan armada dapat melintasi Laut Mediterania dengan aman, termasuk menuntaskan rute terakhir sekitar 200 mil laut menuju Gaza.

Direktur Eksekutif Greenpeace Spanyol Eva Saldaña mengatakan, partisipasi organisasinya merupakan respons atas meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, aksi tersebut juga menjadi simbol solidaritas global di tengah krisis kemanusiaan yang terus berlangsung.

“Ketika pemerintah dunia kehilangan keberanian dan keyakinan untuk menegakkan hukum internasional serta mencegah genosida di Gaza, Sumud Flotilla telah memberikan harapan untuk nyata solidaritas kemanusiaan,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Bisnis, Minggu (12/6/2026).

Rencananya, armada Global Sumud Flotilla akan bertolak dari Barcelona, Spanyol, pada 12 April 2026, sebelum singgah di Syracuse, Italia, dan Lerapetra, Yunani, untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Gaza.

Direktur Eksekutif Greenpeace Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) Ghiwa Nakat menilai, kondisi di Gaza mencerminkan krisis kemanusiaan yang semakin meluas. Dia menegaskan pentingnya akses bantuan yang aman dan tanpa hambatan bagi warga sipil.

Baca Juga

  • Greenpeace Ragukan Target Prabowo 100% Listrik EBT dalam 10 Tahun
  • Greenpeace Indonesia Sebut Food Estate Bentuk Serakahnomics
  • Greenpeace Soroti Isu Krisis Iklim Bayangi Kemerdekaan RI Absen di Pidato Kenegaraan Prabowo

"Kami dengan tegas menentang kejahatan perang, kelaparan yang disengaja, pembersihan etnis, genosida, dan ekosida," tegasnya.

Greenpeace Indonesia juga terlibat dalama aksi ini. Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak, menyebut keterlibatan pihaknya dalam misi tersebut sebagai bagian dari komitmen mendorong perdamaian dan keadilan global, termasuk dari sisi lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Dia juga menilai partisipasi masyarakat sipil, termasuk dari Indonesia, mencerminkan kuatnya solidaritas terhadap Palestina. "Hal ini seharusnya jadi teguran keras bagi pemerintah Indonesia untuk memikirkan ulang keterlibatannya di dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace) dan mengambil sikap tegas terhadap perang di Iran dan Lebanon," sebut Leonard.

Genosida di Gaza serta perang ilegal yang dilakukan di Iran dan Lebanon, katanya hanya membawa kesengsaraan bagi warga. Emisi karbon yang dikeluarkan dari serangan udara dan darat pun semakin memperparah kondisi iklim kita. 

Partisipasi Greenpeace dalam konvoi Global Sumud Flotilla kali ini menurut Leonard menjadi bukti nyata komitmen mereka dalam menjaga perdamaian yang dibutuhkan untuk mencapai keadilan menyeluruh, baik dari segi lingkungan, sosial, dan ekonomi bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Dalam misi ini, perwakilan Indonesia turut bergabung bersama aktivis dari sekitar 100 negara dengan membawa bantuan simbolik seperti obat-obatan, makanan, dan air bersih.

Anggota Steering Committee Global Sumud Flotilla Susan Abdullah, menambahkan bahwa bergabungnya Greenpeace akan memperkuat misi pelayaran musim semi 2026 tersebut. 'Kami berlayar ke arah yang sama dengan tekad yang sama untuk mengakhiri pengepungan ilegal Israel atas Gaza," tegasnya.

Sebelumnya, pada September 2025, armada Global Sumud Flotilla yang terdiri dari 42 kapal dan ratusan aktivis dilaporkan menghadapi pencegatan di perairan dekat Gaza. Insiden tersebut menjadi salah satu latar belakang meningkatnya perhatian internasional terhadap upaya pembukaan jalur bantuan kemanusiaan.

Sebagai informasi, Arctic Sunrise telah menjadi bagian dari armada Greenpeace sejak 1995 dan digunakan dalam berbagai kampanye global, mulai dari kawasan Kutub Utara hingga Kutub Selatan. Kapal sepanjang 50,5 meter itu dirancang untuk menghadapi kondisi laut ekstrem, termasuk perairan es, dengan kapasitas hingga 30 orang dan kecepatan maksimum sekitar 13 knot.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Negosiasi AS-Iran Gagal, Trump Hadiri Laga UFC di Miami? | KOMPAS PAGI
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Bali United Pede Kalahkan Persib di GBLA, Bojan Hodak: Kami Bukan Biak!
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Shopee Cs Wajib Pungut PPh Merchant, Ampuh Perluas Basis Pajak?
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
SAR Gabungan Selamatkan Nelayan Kepri yang Hanyut ke Malaysia
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dinkes Papua Barat Kembangkan Edukasi Kreatif untuk Cegah HIV/AIDS pada Pelajar
• 7 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.