Penulis: Harry Saktiono
TVRINews, Lamongan
Harga minyak goreng di Pasar Sidoharjo, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, mengalami lonjakan cukup tajam pada Minggu, 12 April 2026. Kenaikan ini memicu kekhawatiran di kalangan pedagang hingga pelaku usaha kecil.
Lonjakan harga tersebut diduga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat setelah Idulfitri, serta dampak tidak langsung dari konflik geopolitik di Timur Tengah yang menyebabkan biaya logistik dan bahan pendukung seperti plastik kemasan ikut naik.
Untuk minyak goreng kemasan program pemerintah atau Minyakita ukuran 800 ml, kini dijual dengan harga Rp 18.000 dari harga sebelumnya Rp 16.000. Kenaikan paling mencolok terjadi pada minyak goreng curah yang kini menembus angka Rp 21.000 per kilogram dari harga normal Rp 19.000.
"Sepertinya imbas konflik Timur Tengah juga, mas. Itu buat bahan baku seperti plastik naik, ditambah lagi mungkin permintaan dari masyarakat memang sedang tinggi," ujar Rama saat ditemui di lapaknya.
Tidak hanya pedagang pasar, dampak kenaikan ini juga dirasakan langsung oleh para pelaku usaha kecil seperti yang dialami Said, penjual gorengan yang selalu menggunakan minyak curah untuk produksi.
Dengan modal Rp 50.000, kini ia hanya mendapatkan volume minyak yang lebih sedikit. Meski biaya produksi membengkak, Said memilih tidak menaikkan harga jual gorengannya karena khawatir akan ditinggal pelanggannya.
“Biasanya Rp 50.000 itu dapat 2 kilogram lebih, sekarang berkurang. Untuk jualan jadi agak sulit, untungnya jadi tipis banget. Saya tidak berani menaikkan harga gorengan, takut pembeli kabur," keluh Said.
Para pedagang berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga minyak goreng di pasaran agar daya beli masyarakat kembali normal dan usaha kecil tetap bisa bertahan.
Editor: Redaktur TVRINews





