Perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel membuat harga emas sempat terkoreksi, alih-alih terjadi reli seperti beberapa waktu sebelumnya meski kini harganya bergerak fluktuatif. Meski begitu, berinvestasi di instrumen emas dinilai masih jadi pilihan tepat.
Perencana keuangan Andy Nugroho menyebut investasi emas memang masih tepat, meski harganya sempat terkoreksi. Ini karena emas berfungsi sebagai nilai lindung terhadap kekayaan yang berbentuk mata uang.
“Namun di balik fenomena tersebut, bila kita kembalikan ke fungsi dan kelaziman investasi emas, maka emas tetap worth it sebagai instrumen investasi yang patut dikoleksi, dan sebenarnya kita tidak perlu terlalu panik menghadapi koreksi tersebut. Pertama, karena fungsi emas adalah sebagai lindung nilai mata uang kita,” kata Andy kepada kumparan, Minggu (12/4).
Selain itu, emas merupakan instrumen investasi jangka menengah sampai panjang. Mendapatkan keuntungan dari instrumen emas biasanya membutuhkan lebih lama.
Andy juga memperingatkan adanya risiko kerugian bila membeli emas saat harga sedang tinggi, lalu menjualnya saat terjadi koreksi.
“Justru apabila saat ini bila kondisinya merugi karena harganya turun, maka bila kita jual maka kita akan merealisasikan kerugian tersebut. Tapi semisal tujuannya adalah untuk melakukan cut loss, maka hal tersebut akan menjadi sah-sah saja,” ujarnya.
Jika harus mencari instrumen alternatif pada situasi geopolitik seperti ini, Andy menyarankan agar Surat Utang Negara seperti ORI maupun Sukuk Ritel bisa menjadi pilihan. Hal ini karena instrumen tersebut memberikan imbal hasil lebih tinggi dibandingkan deposito, namun dengan risiko yang masih lebih rendah dibandingkan dengan pasar saham. Selain itu, investasi di pasar uang juga bisa jadi pilihan.
“Selain itu, bisa juga masuk ke reksadana berbasis pasar uang, karena reksadana ini adalah yang masih mampu memberikan imbal hasil positif walaupun dengan risiko lebih tinggi dibandingkan dengan SUN,” kata Andy.
Perencana keuangan Mike Rini Sutikno juga menjelaskan, hakikat investasi emas itu merupakan investasi jangka menengah sampai panjang. Maka dari itu, ketika harga emas sempat terkoreksi dan bergerak fluktuatif akibat perang, ia menyarankan agar investor tak langsung terburu-buru menjual emas.
“Jadi untuk emas ini bisa di hold saja. Jadi tidak perlu harus panik (selling), di hold. Karena penurunan dalam jangka pendek ini biasanya trend emas itu memang dia naik dalam jangka panjang. Jadi penurunan yang terjadi saat ini tidak harus terlalu dikhawatirkan, simpan saja. Karena apa, hedging itu tetap penting. Tetapi untuk significant growth itu memang bukan yang diutamakan di sini,” ujarnya.
Sebagai alternatif, ia menyarankan investor bisa masuk ke beberapa instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN), obligasi retail maupun sukuk. Hal ini karena dalam situasi seperti ini, terdapat kecenderungan suku bunga acuan akan stabil bahkan meningkat.
“Kalau kita lihat bahwa kecenderungan suku bunga itu stabil bahkan akan meningkat, setidaknya stabil. Ini akan membuat instrumen surat berharga negara itu akan juga berbanding lurus. Di sini akan menarik. Karena dalam situasi ketidakpastian kita harus tetap bisa menjaga preserve our capital. Mempertahankan modal investasi kita dan juga harus tetap bertumbuh,” kata Mike.
Ia juga mengingatkan pentingnya diversifikasi instrumen investasi. Hal ini bisa disesuaikan dengan tujuan investasi masing-masing investor.
“Jadi strategi terbalik itu bukan 100 persen emas atau fokus pada emas aja, atau semuanya saham aja, tidak. Jadi melainkan kalau dari pendekatan perencanaan keuangan, berdasarkan fundamental investasi kita, kita membangun portofolio investasi sesuai dengan tujuan keuangan atau sesuai dengan rencana keuangan kita,” ujarnya.





