Harga minyak dunia kembali bergejolak di awal pekan ini, menyusul gagalnya negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
IDXChannel – Harga minyak dunia kembali bergejolak di awal pekan ini, menyusul gagalnya negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memicu ketidakpastian pasar energi global.
Harga minyak melonjak menembus USD100 per barel pada Senin (13/4/2026), seiring langkah Angkatan Laut AS yang bersiap memblokade Selat Hormuz setelah perundingan antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Kontrak berjangka (futures) minyak mentah Brent melonjak 7,47 persen menjadi USD102,31 per barel pada pukul 05.04 WIB, setelah sebelumnya ditutup melemah 0,75 persen pada Jumat.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level USD104,43 per barel, melesat 8,14 persen, setelah sempat turun 1,33 persen pada sesi sebelumnya.
Perundingan maraton selama hampir 21 jam di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut Washington telah mengajukan “penawaran terbaik dan final”, sementara pihak Iran mengindikasikan negosiasi lanjutan masih diperlukan.
Kegagalan ini langsung menggeser sentimen pasar menjelang pembukaan perdagangan, dengan fokus tertuju pada risiko gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur vital yang menangani sekitar 20 persen aliran minyak global.
CEO XM Australia, Peter McGuire, memperkirakan harga minyak langsung menguat.
“Perkirakan harga minyak naik beberapa dolar. Volatilitas akan tinggi pada hari pertama perdagangan,” ujarnya.
Ia menilai perbedaan narasi antara Washington dan Teheran memperbesar ketidakpastian. “Trump mengatakan situasi baik-baik saja, sementara Iran membantah. Ini menciptakan kebingungan. Ketidakpastian seperti ini tidak baik bagi pasar,” kata dia.
Menurut McGuire, premi risiko pada minyak berpotensi kembali meningkat cepat. Bahkan, harga minyak disebut berpeluang menembus level USD100 per barel dalam 24-48 jam ke depan jika tensi geopolitik meningkat atau terjadi gangguan pasokan.
Senada, laporan Bloomberg menyebut kegagalan pembicaraan ini berpotensi “mengguncang pasar minyak dan gas”, menghapus optimisme yang sempat muncul setelah pengumuman gencatan senjata.
Kepala analis pasar AT Global Markets, Nick Twidale, menilai harga minyak kemungkinan dibuka lebih tinggi seiring penguatan dolar AS. Ia menambahkan, pasar bisa kembali ke level sebelum gencatan senjata diumumkan.
Sementara itu, Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, memperingatkan risiko krisis energi global jika kebuntuan berlanjut. “Kurangnya kemajuan berisiko mendorong pasar menuju krisis energi penuh,” tulis Hansen.
Ia menilai opsi kebijakan AS terbatas, mulai dari mundur, eskalasi militer, hingga memperpanjang gencatan senjata.
Dalam jangka pendek, skenario terakhir dinilai paling mungkin, dengan posisi Iran yang tetap kuat berkat kendali atas Selat Hormuz.
Dengan ketidakjelasan arah konflik dan nasib gencatan senjata, pasar kini bersiap menghadapi lonjakan volatilitas.
Setiap gangguan, bahkan sekadar persepsi pembatasan akses di Selat Hormuz, dapat mendorong harga minyak naik tajam dalam waktu singkat.
Pekan lalu, minyak mentah Brent turun 0,8 persen menjadi USD95,20 per barel pada Jumat, sekaligus menutup pekan dengan penurunan 12,7 persen.
Pelemahan ini terjadi setelah aksi jual tajam menyusul kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara Iran dan AS yang dimediasi Pakistan pada Selasa.
Penurunan tersebut menjadi yang terdalam bagi Brent sejak Agustus 2022.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi 1,3 persen menjadi USD96,57 per barel pada Jumat, dengan penurunan mingguan 13,4 persen, terbesar sejak April 2020 saat lockdown pandemi. (Aldo Fernando)





