Mencermati Paronim Trio Kata “Runtun”, “Runtut”, “Runut”

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Paronim merupakan salah satu topik yang menjadi objek pembahasan dalam linguistik, secara khusus menjadi fokus perhatian cabang ilmu semantik dan leksikologi. Terkait dengan fenomena kebahasaan, berupa sejumlah kata yang mirip dalam pengucapan (paronim tonik) dan mirip dalam penulisan (paronim huruf/grafis), tetapi tidak persis sama dan terdapat perbedaan kandungan makna masing-masing.

Trio kata “runtun”, “runtut”, dan “runut” termasuk paronim huruf. Ada yang menyebutnya pula paronim fonemis atau paronim grafemis. Tentu saja trio kata tersebut memiliki makna yang berlainan. Trio kata tersebut terdiri atas fonem yang sama, yaitu fonem konsonan /n/, /r/, /t/ serta fonem vokal /u/.

Urutan tiga fonem awal dengan susunan yang sama, yakni /r/, /u/, /n/, sedangkan urutan selebihnya berbeda. Ada yang diikuti fonem /t/, /u/, /n/. Ada pula yang disandingi tiga urutan fonem, yakni /t/, /u/, /t/. Dan, ada juga yang hanya didampingi dengan dua fonem, yaitu /u/, /t/.

Paronim berlainan dengan homonim. Bila homonim susunan dan urutan fonemnya persis sama, seperti “bisa” dalam konteks “Dia bisa menerima kenyataan pahit itu” (bisa = mampu) dan dalam konteks “Bisa ular kobra itu mematikan” (bisa = racun).

Atau, “rapat’ pada kalimat “Rapat pemegang saham perusahaan itu berlangsung tegang” (rapat = pertemuan) dan pada kalimat “Dia memastikan tutup botol air mineral itu terpasang rapat” (rapat = erat). Maka, tidak demikian dengan paronim yang susunan fonemnya tidak persis sama. Hanya mirip.

Sebelum melangkah ke wilayah pembicaraan inti, ada baiknya sedikit saya singgung juga contoh tentang paronim tonim (kemiripan pengucapan). Kata-kata yang memiliki kemiripan susunan fonem, tapi tidak persis sama. Ada satu atau dua fonem yang berbeda.

Dalam bahasa Indonesia, kita dapat menemui paronim tonik pada kata "kolonel" (pangkat militer) versus "kolonial" (penjajahan), "korporasi" (perusahaan) versus "koperasi" (lembaga ekonomi rakyat), "preposisi" (kata depan) versus "proposisisi" (rancangan usulan).

Nah, mari sekarang kita kembali ke khitah pembahasan tentang trio kata "runtun", "runtut", dan "runut".

Sering Menjebak

Kemiripan trio kata tersebut tidak jarang menimbulkan keterlenaan perhatian dari pengguna bahasa Indonesia, sehingga sering menjebak mereka tatkala menempatkan pada konteks kalimat yang seharusnya.

Adalah seorang Ivan Razela Lanin (lahir 16 Januari 1975), salah seorang sosok yang berjasa dalam perkembangan bahasa Indonesia. Termasuk tentang penerapan trio kata “runtun”, “runtut”, dan “runut”.

Dia merupakan pakar internet dan pegiat bahasa Indonesia yang populer berkat inisiatifnya menyebarluaskan kosakata baku serta padanan istilah asing di media sosial (X/Twitter, Instagram, Facebook).

Lelaki dengan latar belakang pendidikan S-1 Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung dan S-2 Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia itu, kerap merujuk pada Senarai Padanan Asing - Indonesia (SPAI) dari Badan Bahasa dalam unggahannya.

Pencinta bahasa Indonesia, aktif sebagai editor dalam penerjemahan Google, salah seorang pengurus Himpunan Penerjemah Indonesia, dan tim penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi V itu banyak memasyarakatkan padanan istilah asing ke bahasa Indonesia lewat media sosial.

Untuk padanan istilah teknologi dan internet, seperti scroll = gulir, swipe = usap, username = nama pengguna, download = unggah, browser = peramban, link = tautan, slide = salindia.

Adapun padanan istilah umum dan bisnis, yaitu traffic cone = kerucut lalu lintas, confidentiality = konfidensialitas, content creator = kreator konten, personal branding = penjenamaan selesa (pendekatan yang berorientasi pada kenyamanan pelanggan).

Selanjutnya, emerging writer = penulis pegari (penulis muda/baru yang potensial), concierge = pramutamu, ballroom = ruang balai. Padanan lainnya: roller coaster = kereta luncur, tweet = cuitan, folder = berkas, chat = obrolan/sapaan.

Ivan Lanin merupakan Direktur Utama sekaligus pendiri Narabahasa pada 1 Februari 2020. Hingga kini terlibat aktif sebagai widyaiswara dalam berbagai pelatihan bahasa jerih penyelenggaraan penyedia jasa pelatihan dan penyuntingan bahasa tersebut.

Penerima penghargaan Peneroka Bahasa Indonesia Daring pada 2016 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan via Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa itu, pernah mencurahkan perhatian pada pembahasan tentang trio kata “runtun”, “runtut”, dan “runut”.

Sampai-sampai Ivan Lanin pernah mencontohkan satu kalimat untuk menerangjelaskan trio kata tersebut yang dua di antaranya telah mendapat prefiks (awalan). Demikian kalimat contoh dari Ivan Lanin yang ikonik itu: “Polisi merunut (menelusuri jejak) tabrakan beruntun (berturut-turut) itu untuk mendapat kronologi yang runtut (selaras/tertata)”.

Ivan Lanin menyaksamai, kerap kali dalam realitas penggunaan bahasa sehari-hari, masyarakat penutur bahasa Indonesia tanpa sengaja keliru dalam menggunakan kata “runtut” dengan “runtun” atau sebaliknya. Menurut bahasa Ivan Lanin, “runtut” lebih berurusan dengan kerapian alur atau logika. Sementara itu, kata “runtun” bertalian dengan tatanan urutan kejadian.

“Runtun” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan berada dalam kategori verba (kata kerja). Biasanya verba ini penggunaannya dengan prefiks atau awalan “be-” menjadi “beruntun” (berturut-turut, berangkai, atau berderet).

Merujuk pada rangkaian peristiwa yang berlangsung secara berurutan tanpa jeda. Bisa pula dengan prefiks dan sufiks “me-...-kan” menjadi “meruntunkan” (menjadikan beruntun). Bentuk pasifnya “diruntunkan” (dijadikan beruntun).

“Runtun” ketika mendapat prefiks “me-” dan terbentuklah kata “meruntun”. Ada alternatif makna lain, yakni “menarik kuat-kuat; menyentak; merenggut” misalnya dalam kalimat “Gadis itu berteriak sekuat tenaga sambil meruntun rambutnya sendiri”.

Bisa pula dalam verba yang biasa muncul dalam teks klasik seperti hikayat, "meruntun" teridentifikasi dengan makna “merebut” atau “merampas” sebagaimana dalam kalimat “Selir yang berhati dengki itu meruntun dengan segala cara agar takhta kerajaan jatuh ke tangan putra kandungnya”.

Kemudian ketika mendapat prefiks dan sufiks “me-...-kan” sehingga terbentuk “meruntunkan”, maknanya selain “menjadikan beruntun”, bisa juga “merebut” atau “merampas” sebagaimana makna kata “meruntun”. Selain itu, ada bentukan yang hanya memperoleh sufiks “-an”, sehingga terbentuklah “runtunan” (sesuatu yang berjajar atau berderet). Kali ini masuk kategori nomina.

Contoh kalimat yang dapat direkomendasikan, yaitu “Runtunan sepeda motor yang parkir di pinggir jalan itu ditabrak truk yang sopirnya tengah di bawah pengaruh minuman dengan kandungan alkohol tinggi”.

Menyimak “Runtut”

Sosok kata yang kerap kali menerima tudingan menjebak pengguna bahasa untuk secara gegabah melakukan penyinominan dengan “runtun”, yaitu “runtut”. Atau, kalau mengikuti versi penyaksamaan Ivan Lanin, kedua kata itu bahkan menerima perlakuan dapat saling bersulih makna. Padahal, kedua kata itu jelas berbeda makna. Dan, tentu saja kecil kemungkinan untuk dapat saling menggantikan.

Untuk memudahkan perbedaan antara “runtun” dan “runtut”, ada baiknya saya perlu mengulangi lagi tentang makna kata “runtun”. Pada uraian di atas, dalam kelas kategorial verba (telah mengalami proses afiksasi), salah satu karakteristiknya fokus pada urutan waktu atau kejadian yang berurutan. Terkadang menyiratkan jumlah yang banyak atau intensitas yang cepat.

Misalnya kalimat “Di fase grup, Timnas Indonesia secara beruntun memetik 9 poin dari tiga lawannya”. Ini bermakna, kemenangan tim sepak bola kita terjadi secara berturut-turut dalam tiga laga babak penyisihan. Tidak ada jeda satu laga pun Timnas mengalami seri atau menderita kakah.

Selanjutnya, kalimat “Tabrakan mobil beruntun terjadi di turunan jalan yang menanjak itu”. Ini juga mengangsurkan makna, kejadian tabrakan yang berlangsung pada waktu berurutan. Bisa mungkin terjadi satu demi satu. Dan, kejadian itu melibatkan beberapa mobil dalam waktu yang relatif berdekatan jaraknya.

Sementara itu, kata “runtut” berbeda jauh maknanya dari salah satu makna “runtun”. Kelas katanya bisa berlainan bisa pula sama. Bila “runtun” merujuk pada verba (beruntun, meruntun[kan]) atau nomina (runtunan), maka “runtut” dapat mengacu pada adjektiva (runtut) dan nomina (keruntutan, runtutan).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan, dalam kelas adjektiva, “runtut” menyodorkan makna “selaras, bersesuaian”. Oleh karena itu, tertata dengan baik, logis, atau berkesinambungan. Karakteristiknya cenderung fokus pada kualitas keterkaitan, kesesuaian gagasan, atau keharmonisan bagian demi bagian. Di samping itu, juga menunjukkan kerapian dan alur yang logis (koheren).

Misalnya dalam kalimat “Adegan demi adegan dalam lakon teater itu dapat dihadirkan oleh sang sutradara secara runtut sehingga enak ditonton”. Di sini, kata “runtut” itu berupaya mendeskripsikan bahwa adegan demi adegan, atau babak demi babak dalam seni pertunjukan teater itu telah muncul dengan selaras. Telah berkesesuaian satu sama lain.

Misal lain, kalimat “Cerita itu ditulis dengan runtut dan mudah dipahami”. Peran serta maknawi kata “runtut” dalam konteks ini untuk nenunjukkan alur cerita (terlebih dengan corak penulisan yang menganut realisme) bergerak dengan logis, mengalir dengan rancak, dan paragraf demi paragraf saling berkesesuaian.

Begitu pula dengan kalimat “Laporan ilmiah Anda belum runtut. Mohon alur logikanya diperbaiki”. Masih ada tuntutan kesesuaian konstruksi gagasan ilmiah yang mesti terus mendapatkan bentuk penyempurnaannya dalam proses revisi.

Kata “runtut” dapat pula mengacu pada adanya ketertataan secara rapi dan serasi sesuai dengan rancangan jadwal yang telah tersusun sebelumnya. Hal itu tampak pada contoh kalimat “Rangkaian acara pernikahan itu berjalan runtut dari akad hingga resepsi”.

Di samping hadir tanpa imbuhan (afiks) sebagaimana sejumlah contoh kalimat di atas, kata “runtut” dapat pula berkontribusi dalam suatu konteks kalimat manakala ia mendapat prefiks dan sufiks “ke-...-an” sehingga terbentuklah “keruntutan” (kondisi runtut). Sebagai nomina, kontribusinya muncul sebagaimana tertuang dalam kalimat “Susunan bab yang baik menunjukkan keruntutan keseluruhan gagasan dalam buku itu”.

Ada pula bentuk “runtutan” dalam kelas nomina yang mempunyai kesenadaan makna dengan “rangkaian”. Kalimat “Runtutan kejadian yang memicu demo besar-besaran itu tengah menjadi fokus perhatian tim pencari fakta” mengindikasikan penerapan versi pemaknaan ini.

Tidak ketinggalan pula, dengan kalimat “Film dokumenter itu menampilkan runtutan peristiwa yang menjadi faktor penyebab kerusuhan massal timbul pada puluhan tahun silam itu”.

Bila mengacu pada konsep maknawi “runtun” yang salah satunya maknanya mengacu pada keberurutan atau keberturut-turutan suatu waktu atau kejadian, maka relatif kecil peluangnya untuk berpadanan dengan “runtut” yang lebih pada adanya ketertataan alur pemikiran atau kelogisan suatu gagasan.

Lagi pula, dalam realitas penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari, relasi keduanya berada dalam atmosfer pemahaman “belum tentu”. Fakta berbicara, sesuatu yang “runtun” (berurutan atau berturut-turut) belum tentu “runtut” (logis atau selaras). Sebaliknya, sesuatu yang “runtut” belum tentu pula terjadi secara beruntun tanpa sentuhan jeda sama sekali.

“Runut” Melengkapi

Melengkapi trio kata yang terkadang tidak jarang menghadirkan peluang adanya kekhilafan pemakaian, yaitu kata “runut”. Apabila kita menengok uraian terdahulu, kata “runtun” salah satu artinya berhubungan dengan urutan kejadian dan kata “runtut” bersinggungan dengan keselarasan logika gagasan yang terbentuk. Maka, kata “runut” bertalian dengan jejak.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan, dalam kategori nomina, makna yang muncul adalah jejak, bisa berupa tapak kaki atau alur di tanah bekas roda mobil. Dengan memverbakan nomina (verba denominal) kata “runut” (nomina) menjadi “merunut” (verba), kiranya dapat melempangkan arah pembicaraan tulisan ini selanjutnya.

Misalnya pada kalimat “Aparat keamanan desa merunut bekas telapak kaki orang semalam mencuri yang masih tampak jelas di halaman belakang rumah Pak Lurah”. Peran verba denominal “merunut” dapat memberi pemaknaan “mencermati jejak”. Bisa pula, untuk kalimat “Dengan pandangan tajam, pemuda itu merunut bekas roda mobil di jalanan tanah menuju ke arah selatan”.

Selain verba denominal “merunut” ada pula “merunuti” yang kisaran pemaknaannya relatif sama. Hanya sufiks “-i” mengisyaratkan bahwa tindakan pencermatan itu berlangsung intensif atau repetitif.

Terdapat pula “terunut” (dapat dirunut atau sudah dirunut). Sebagaimana tertuang dalam kalimat “Misteri identitas lelaki tua yang mengalami demensia itu akhirnya terunut, ketika seorang tetangga kebetulan melihatnya di kantor polisi”. Di sini yang terunut adalah jejak identitasnya.

Kemudian masih dalam kategori yang tidak berubah, yaitu tetap nomina, selain “runut” ada “perunut” (orang yang merunut). Lalu ada “perunutan” (proses, cara, atau perbuatan merunut). Selanjutnya ada “serunut” (satu runut) dan “runutan” (hasil merunut). Kata tersebut akhir ini termaktub misalnya dalam kalimat “Setelah mendapat penelusuran lebih lanjut, ternyata runutan masalahnya dari kesalahan input data”.

Dalam realitas penggunaan bahasa sehari-hari, verba denominal “merunut” paling sering menberikan kontribusi makna dalam kalimat tertulis ataupun ujaran lisan. Maknanya bervariasi menurut konteks yang tersaji.

Bisa “menemukan jejak” seperti dalam kalimat “Polisi merunut ban mobil di lokasi kejadian perkara”. Dalam konteks ini, polisi berhasil menemukan adanya jejak (merunut) berupa bekas ban mobil.

Bisa pula “merunut” itu menelusuri jejak faktor penyebab kenapa suatu hal yang tidak wajar dapat terjadi. Misalnya hal yang tidak wajar itu adalah jumlah rekening seorang tersangka kasus korupsi yang jumlahnya sangat fantastis. Darimana saja aliran dana itu datang? Kira-kira begini pengkalimatannya, “Tim Reserse Polri sedang merunut alur aliran dana mencurigakan dari rekening tersangka”.

Pada uraian di atas Ivan Lanin telah membeber kalimat contoh yang mengintegrasikan kata “runut” (mendapat prefiks “me-” menjadi “merunut”), “runtun” (memperoleh prefiks “be-” membentuk “beruntun”), dan “runtut” (tetap dalam wujud kata dasar tanpa afiksasi).

Sebagai penutup tulisan, saya menambahkan beberapa contoh lain untuk lebih mempertegas pemahanan. Kali ini ada sejumlah konteks yang melingkupinya. Misalnya untuk konteks penulisan sejarah dapat muncul paragraf berikut:

Arkeolog itu berusaha keras merunut sisi lain dari sejarah Kerajaan Mataram Kuno di Situs Liyangan, Jawa Tengah berdasarkan manuskrip-manuskrip lawas yang dia temukan secara beruntun dalam seminggu terakhir. Kemudian, dia pun menyusunnya menjadi sebuah buku dengan rekonstruksi peristiwa demi peristiwa di masa lampau dengan tatanan narasi yang sangat runtut”.

Dari contoh paragraf di atas, kita dapat menemukan usaha dari arkeolog tersebut untuk “merunut” atau menelusuri jejak-jejak peninggalan sejarah sebuah Kerajaan Mataram Kuno di Situs Liyangan, Jawa Tengah.

Dia mengoperasikan seluruh perangkat ilmu sejarah yang berada dalam genggam penguasaannya berdasarkan manuskrip-manuskrip lawas yang dia temukan secara “beruntun” (berturut-turut dalam sejumlah waktu yang tidak terlalu berjauhan atau sesuai dengan informasi teks tercatat dalam seminggu terakhir).

Setelah itu, arkeolog tersebut berdasarkan pencermatan dan penuh ketelitian serta kehati-hatian menyusun kembali kepingan demi kepingan sisi lain dari serangkain peristiwa berdasarkan temuan manuskrip demi manuskrip itu. Kemudian dia menyusunnya menjadi sosok narasi sejarah yang memenuhi kriteria “runtut”. Dalam taut maknawi ada sentuhan perekonstruksian yang logis dan sistematis.

Contoh lain dalam konteks investigasi kepolisian, sebagaimana tertuang dalam paragraf “Setelah terjadi kecelakaan beruntun di jalan tol, polisi segera merunut rekaman CCTV. Tujuannya agar bisa memberikan penjelasan yang runtut ketika mendapat pertanyaan dari para wartawan. Dengan demikian, informasi yang sebenarnya dapat sampai ke publik”.

Kata “beruntun” pada contoh paragraf barusan merujuk pada peristiwa saling tabrak secara berurutan yang locus delicti-nya di jalan tol. Berdasarkan kejadian kecelakaan itu, tim Unit Penegakan Hukum Satuan Lalu Lintas (Gakkum Satlantas) Polres setempat selanjutnya “merunut” (mencari jejak faktor penyebabnya) melalui hasil CCTV.

Dengan cara demikian, mereka akan dapat memberikan jawaban yang “runtut” (masuk akal dan selaras) serta lebih dekat dengan realitas kejadian sebenarnya manakala para insan pers membutuhkan narasumber yang tepercaya terkait dengan kejadian kecelakaan itu.

Konteks presentasi bisnis dapat memunculkan paragraf dramatis, seperti “Manajer keuangan merunut asal muasal kerugian perusahaan yang terjadi selama tiga bulan beruntun. Dia pun kemudian mempresentasikan hasil temuan itu secara runtut di hadapan dewan direksi”.

Beranjak dari tekad kuat manajer keuangan untuk “merunut”, menelusuri faktor penyebab mengapa perusahaannya mengalami kerugian. Kejadian itu telah berlangsung selama tiga bulan “beruntun”, tidak ada jeda dan berturut-turut.

Dengan bekal yang matang itulah, manajer keuangan dapat mempresentasikan semua hasil temuannya dalam sidang dewan direksi secara “runtut”, rapi dan berkesinambungan.

Pada substansinya, kata “runut” yang sering menerima jelmaan kontribusi pemaknaan melalui bentuk berimbuhan “merunut” mengacu pada aksi subjek dalam mencari atau menelusuri jejak-jejak permasalahan.

Sementara itu, kata “runtun” dan sering terwakili oleh kata berafiks “beruntun” merujuk pada sifat kejadian, bisa satu per satu (tapi dalam rentang waktu yang sangat pendek) bisa pula dalam waktu yang hampir bersamaan.

Adapun “runtut”, lebih sering tanpa imbuhan, menyoroti hasil penelusuran jejak-jejak dengan susunan alur pemikiran yang logis dan rapi dalam penalarannya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Antisipasi banjir, Jaksel keruk 6.842 meter kubik lumpur Kali Krukut
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Saat Pramono Izinkan Parpol Branding Nama di Halte Hingga Stasiun di Jakarta
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Iran Siap Perang atau Damai, Klaim Posisi Lebih Unggul dalam Negosiasi dengan AS
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Warga Lebanon Turun ke Jalan, Tolak Rencana Negosiasi dengan Israel | KOMPAS SIANG
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Ruang Senja Rilis Single Jangan Jadikanku Seluruh Duniamu
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.