Saham konglomerat mencatat rebound tajam dalam sepekan lalu setelah sebelumnya sempat tertekan pengumuman daftar emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
IDXChannel - Saham-saham konglomerat mencatat rebound tajam dalam sepekan lalu setelah sebelumnya sempat tertekan pengumuman daftar emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC) oleh bursa.
Penguatan ini terjadi seiring kabar FTSE Russell yang mempertahankan status Indonesia di secondary emerging market, serta gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat menenangkan pasar global.
Namun, perkembangan terbaru pada Minggu (12/4) menunjukkan negosiasi tersebut gagal mencapai kesepakatan, sehingga mengancam keberlanjutan gencatan senjata tersebut.
Meski begitu, reli ini belum sepenuhnya aman karena pasar masih menanti keputusan krusial dari MSCI.
Penguatan paling mencolok terjadi pada saham-saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu.
Saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melonjak 49,61 persen sepekan lalu ke Rp1.915 per unit dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) naik 45,68 persen ke Rp6.075 per unit per data Jumat (10/4/2026).
Kemudian, diikuti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang naik 28,71 persen ke Rp1.345, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) naik 25,31 persen ke Rp1.015, serta PT Petrosea Tbk (PTRO) naik 25 persen ke Rp5.375.
Sementara itu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turut menguat 20,83 persen ke Rp5.800.
Kenaikan juga terlihat pada saham-saham Grup Bakrie.
Saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melesat 40,95 persen ke Rp148, diikuti PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) yang naik 25,16 persen ke Rp970, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) naik 14,97 persen ke Rp845.
Selanjutnya, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) naik 13,67 persen ke Rp1.705, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik 10,04 persen ke Rp515, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 7,89 persen ke Rp246.
Rebound juga terjadi pada Grup Hapsoro, dengan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) naik 20,27 persen sepekan ke Rp4.390, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) naik 19,39 persen ke Rp1.170, serta PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) naik 14,33 persen ke Rp5.625.
Sementara itu, emiten Sinarmas PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) naik 10,28 persen menjadi Rp3.110. DSSA baru saja resmi melakukan stock split dengan rasio 1:25 pada Kamis (9/4).
Dari kelompok lain, saham Grup Salim seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 15,43 persen ke Rp5.425 dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) naik 13,07 persen ke Rp8.650.
Saham Grup Haji Isam juga bergerak variatif dengan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) naik 6,86 persen ke Rp2.180 dan PT Prima Andalan Mandiri Tbk (PGUN) naik 6,40 persen ke Rp8.725, sementara PT TBS Energi Utama Tbk (TEBE) justru turun 6,92 persen ke Rp1.345.
Selain itu, PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) milik Hashim Djojohadikusumo naik 9,86 persen ke Rp2.340.
Konglo dan Indeks Global
Rebound saham-saham konglomerat ini terjadi setelah sebelumnya banyak terkoreksi sejak awal tahun di tengah isu investabilitas yang diumumkan pengelola indeks MSCI serta goncangan konflik Iran yang memicu volatilitas pasar global.
“Saham konglomerasi memang erat kaitannya dengan indeks. Pengumuman oleh FTSE kemarin memberi angin segar terhadap emiten-emiten konglo di IHSG dan itu membuat banyak saham konglo selain Prajogo juga mengalami rebound,” ujar pengamat pasar modal Michael Yeoh, Kamis (9/4/2026).
Dia mencontohkan, penguatan tidak hanya terjadi pada saham Grup Barito milik Prajogo Pangestu, tetapi juga terlihat pada konglomerasi lain di pasar.
“Sebut saja contoh saham-saham Happy Hapsoro dan Grup Bakrie,” katanya.
Menanti MSCI
Michael menambahkan, arah saham konglomerasi ke depan masih akan sangat bergantung pada keputusan indeks global berikutnya, terutama dari MSCI yang akan melakukan rebalancing besar pada Mei.
“Saham konglo masih perlu menunggu kejelasan dari indeks MSCI, karena saat ini akan terjadi rebalancing besar-besaran global pada Mei,” ujarnya.
Sementara, analis CGS International (CGSI) Sekuritas Indonesia, Hadi Soegiarto, menyampaikan, dalam riset pada 2 April 2026, Indonesia mulai menjalankan inisiatif reformasi pasar modal yang sebelumnya telah diumumkan, termasuk penerapan daftar emiten dengan konsentrasi kepemilikan saham tinggi (HSC) serta pengenalan 39 kategori oleh KSEI per 2 April 2026.
Menurut dia, perkembangan selanjutnya kini bergantung pada keputusan MSCI.
“Kami menilai keputusan kini berada di tangan MSCI, yang diperkirakan akan merilis pembaruan sebelum pengumuman rebalancing indeks pada 12 Mei 2026, kemungkinan menjelang akhir April,” tulis Hadi.
Hadi menilai peluang Indonesia untuk diturunkan ke status Frontier Market kini semakin kecil seiring langkah reformasi tersebut.
Namun, dia memperkirakan bobot Indonesia di indeks MSCI berpotensi turun (downweight) secara moderat, seiring kemungkinan adanya saham yang dikeluarkan, diturunkan peringkatnya, atau mengalami penurunan free float.
Meski demikian, dia mengingatkan bahwa kasus Indonesia saat ini tergolong belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga risiko hasil yang lebih buruk dari ekspektasi tetap terbuka.
Kondisi ini dinilai dapat membuat investor tetap waspada, terutama mendekati akhir April.
Dari sisi pasar, CGSI melihat skenario penurunan bobot moderat sudah sebagian besar tercermin dalam harga.
Dalam skenario tersebut, potensi arus keluar dana pasif diperkirakan berkisar USD1,1 miliar hingga USD2,1 miliar (sekitar Rp18,8 triliun hingga Rp35,9 triliun), tergantung besaran penurunan free float.
Sekitar USD1,4 miliar dinilai telah terdiskon (priced-in) di pasar, sejalan dengan skenario tersebut.
Hal ini tercermin dari aksi jual investor asing sekitar USD1,4 miliar pada saham MSCI Indonesia Standard Cap dalam 2,5 pekan setelah peringatan MSCI pada 27 Februari, yang mengindikasikan penurunan bobot Indonesia sekitar 15 persen dalam indeks MSCI Emerging Markets. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.





