JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gangguan perkembangan saraf, masih banyak anggapan bahwa Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) bisa “sembuh total” dengan terapi tertentu atau seiring bertambahnya usia.
Padahal, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat dan justru berpotensi menimbulkan harapan keliru bagi orangtua maupun penyintas.
Dalam berbagai diskusi klinis dan komunitas kesehatan mental, ADHD dipahami sebagai kondisi neurodevelopmental yang menetap. Namun, hal ini bukan berarti tidak dapat ditangani atau ditingkatkan kualitas hidupnya.
Co-Founder Komunitas Psikolog Peduli ADHD sekaligus Psikolog Klinis, Masfuukhatur Rokhmah, mengatakan salah satu miskonsepsi terbesar di masyarakat adalah keyakinan bahwa ADHD dapat sembuh sepenuhnya.
Baca juga: Kisah Dosen Baru Sadar ADHD di Usia Dewasa, Ini Tanda dan Risikonya
“ADHD itu tidak bisa sembuh, tetapi bisa membaik secara fungsi. Dengan penanganan yang tepat, individu bisa berfungsi sangat optimal dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Fukha saat dihubungi Kompas.com melalui telepon, Sabtu (11/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa ADHD berkaitan dengan perkembangan fungsi otak, terutama pada area yang mengatur perhatian, impulsivitas, dan regulasi diri.
Karena itu, pendekatan yang dibutuhkan bukan “penyembuhan”, melainkan pendampingan jangka panjang.
Fukha menambahkan, komunitas yang ia dirikan sejak 2018 bertujuan meningkatkan kompetensi psikolog dalam menangani ADHD di seluruh Indonesia.
Saat ini, komunitas tersebut beranggotakan 277 psikolog dari berbagai daerah.
Penanganan Disesuaikan UsiaMenurut Fukha, penanganan ADHD harus disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan individu.
Pada anak-anak, intervensi lebih berfokus pada pembentukan perilaku dasar dan struktur harian.
Pendekatan yang digunakan meliputi terapi perilaku, pelatihan regulasi diri, serta penguatan rutinitas. Anak juga perlu dibantu dengan pembagian tugas kecil agar tidak kewalahan.
“Untuk anak, intervensinya lebih banyak pada pembentukan perilaku dan struktur. Sedangkan pada remaja, fokusnya bergeser ke regulasi emosi, manajemen waktu, dan kemandirian,” jelas Fukha.
Baca juga: Dianggap Malas dan Nakal, Anak dengan ADHD Ini Berjuang Bertahan di Sekolah
Pada remaja, tantangan yang sering muncul antara lain kesulitan mengatur waktu, menunda tugas, mudah terdistraksi, serta fluktuasi emosi.
Oleh karena itu, pendekatan coaching dan psikoterapi menjadi lebih dominan.
Dalam beberapa kasus sedang hingga berat, kolaborasi dengan psikiater untuk pemberian obat (farmakoterapi) dapat membantu meningkatkan fungsi sehari-hari.
Bahaya Self-DiagnosisFukha mengingatkan orangtua agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa anak mengalami ADHD hanya berdasarkan informasi dari media sosial atau pengamatan sepintas.
Menurutnya, fenomena self-diagnosis menjadi salah satu masalah yang meningkat saat ini.
“Diagnosis ADHD itu tidak bisa dilakukan secara instan, harus melalui asesmen menyeluruh oleh psikolog atau psikiater,” ujar Fukha.
Ia menjelaskan, proses diagnosis membutuhkan informasi dari berbagai pihak, termasuk orangtua, guru, serta observasi klinis dalam jangka waktu tertentu.
Gejala yang tampak mirip ADHD juga bisa berasal dari kondisi lain seperti kecemasan, gangguan belajar, atau faktor lingkungan.
Baca juga: Jakarta Naik Peringkat Jadi Kota Teraman Kedua ASEAN, Toleransi Warga Jadi Kunci





