Plastik Ditemukan dalam Darah dan Sperma Manusia di Jawa Timur

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Partikel plastik ukuran miko dan nano ditemukan dalam sistem peredaran darah pekerja dan mahasiswa yang diperiksa di Jawa Timur. Kontaminasi plastik juga ditemukan dalam sperma dan sebelumnya tim peneliti juga menemukannya dalam ketuban. Temuan ini menunjukkan meluasnya pencemaran plastik ke dalam tubuh manusia, yang berpotensi memicu masalah kesehatan.

Manajer Sains, Seni, dan Komunikasi Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), Prigi Arisandi, dihubungi dari Jakarta pada Senin (13/4/2026) menyampaikan temuan terbaru timnya mengenai keberadaan partikel nano dan mikroplastik (NMPs) di dalam sistem peredaran darah manusia.

Penelitian ini melibatkan 30 perempuan, terdiri dari 20 pekerja sampah dan 10 mahasiswa yang berdomisili di Blitar, Pacitan, Magetan, Lamongan dan Malang. "Kami menemukan rata-rata 9 partikel mikroplastik per satu mililiter (ml) darah," kata Prigi.

Tim peneliti Ecoton pada Februari 2026 juga melakukan studi awal dan mengidentifikasi mikroplastik dalam sperma dan air ketuban ibu hamil. Dalam empat sampel sperma ditemukan kontaminasi 6-7 partikel mikroplastik, berukuran 1,5–7,9 mikrometer berpolimer polyethylene.

Menurut Prigi, temuan ini menjadi sinyal bahaya bagi kesehatan publik, terutama karena jenis polimer yang paling mendominasi adalah polyester. Material ini paling banyak dipakai dalam industri pakaian dan tekstil modern.

Berukuran nano

Sejumlah penelitian di luar negeri, sebelumnya telah melaporkan penemuan partikel plastik di berbagai organ manusia, termasuk di dalam darah, sperma, paru-paru hingga otak. Sebelumnya, cemaran plastik dalam darah manusia juga telah dilaporkan pada responden di Jakarta. Temuan tim Ecoton dengan responden di Jawa Timur ini, mengonfirmasi meluasnya cemaran plastik dalam tubuh manusia di Indonesia.

Serial Artikel

Mikroplastik Ditemukan pada Sampel Darah Warga Jakarta, Ditemukan Kaitan dengan Gangguan Kognitif

Peneliti menemukan adanya korelasi yang kuat antara kandungan mikroplastik dalam darah dengan kondisi penurunan fungsi kognitif pada masyarakat.

Baca Artikel

Prigi mengatakan, untuk memastikan keberadaan partikel plastik dalam darah, tim Ecoton berkolaborasi dengan dengan Scientific Imaging Centre (SIC) di Institut Teknologi Bandung (ITB). Laboratorium memiliki fasilitas pemantauan material dengan ketepatan hingga 10 nanometer menggunakan Scanning Electrone Microscop (SEM).

Sebagai catatan, 1 nanometer sama dengan satu per sejuta milimeter (mm). Jika dibandingkan diameter rambut manusia yang berukuran sekitar 0,1 mm, maka 1 nanometer sekitar berarti 1 per 100.000 ukuran rambut manusia. Selain ketepatan pengukuran hingga 10 nanometer, SEM juga bisa mendeteksi unsur-unsur penyusun material.

Menurut Prigi, pemeriksaan di SIC diperlukan karena ukuran plastik yang masuk kedalam darah manusia berdimensi sangat kecil, sehingga tidak bisa diperiksa dengan peralatan yang biasa mereka gunakan. Ukuran eritrosit atau sel darah merah antara 6-8 Mikrometer (µm) rata-rata 7,2 µm. Sedangkan ukuran mikroplastik masih dalam millimeter. Definisi mikroplastik adalah pecahan plastik dengan ukuran di bawah 5 mm hingga 1 µm atau 1 per 1000 milimeter.

"Dengan menggunakan SEM di ITB, kami berhasil mengidentifikasi nanoplastik dalam darah dan sperma dengan ukuran 200-800 nanometer,” ungkap Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton. Ia menambahkan bahwa jenis nanoplastik yang ditemukan adalah jenis fiber dan fragmen.

Penelitian ini menunjukkan partikel plastik yang ditemukan berukuran antara 0,4-10 mikron. Ukuran ini jauh di bawah diameter pembuluh rambut (kapiler) manusia yang berkisar 5-10 mikron, dan pembuluh arteriol 8-100 mikron. Artinya, partikel plastik ini memiliki kemampuan mekanis untuk menembus jaringan terdalam, mengalir tanpa hambatan di arteriol, dan berinteraksi langsung dengan sel-sel vital di dalam tubuh.

Menurut Rafika, selain polyester sebesar 28 persen, polimer lain yang terdeteksi dalam pemeriksaan ini meliputi polyisobutylene (24 persen), polyethylene (PE, LDPE, HDPE total 32 persen), dan PET (16 persen).

Apa yang kita kenakan setiap hari berpotensi menjadi racun yang mengalir di dalam nadi.

Rafika menambahkan, dominasi polyester dalam temuan ini mengarahkan sorotan tajam pada industri pakaian yang menggunakan bahan-bahan berunsur plastik yang bisa lepas saat dicuci. Diduga, serat mikro dan nano yang terlepas dari pencucian baju sintetis dan limbah pabrik tekstil kini tidak hanya mencemari sungai, tetapi telah berpindah ke dalam tubuh manusia.

Selain Rafika, penelitian ini juga didukung Lestari Sudaryanti (dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga), Daru Setyorini (Direktur Ecoton), Sofi Azilan Aini (peneliti Ecoton), dan beberapa peneliti lain. "Fakta bahwa polimer tekstil menjadi penyumbang terbesar dalam darah subyek penelitian kami menunjukkan bahwa apa yang kita kenakan setiap hari berpotensi menjadi racun yang mengalir di dalam nadi," sebut tim peneliti Ecoton.

Penelitian Ecoton sebelumnya, berkerja sama dengan Fakultas Kedokteran Airlangga Surabaya menemukan adanya cemaran mikroplastik dalam air ketuban. Penelitian saat itu dilakukan dengan mengambil 45 sample ketuban di Gresik, Jawa Timur dan menemukan 3-4 partikel mikroplastik jenis polyethylene dalam amnion ibu hamil.

Prigi mengutip pendapat Philip J. Landrigan, dokter spesialis anak Amerika Serikat dalam dokumenter "The Plastic Detox" yang menyatakan bahwa ibu hamil yang terekspos bahan kimia beracun dari plastik sekaligus mengekspos organ reproduksi tiga generasi, yaitu si ibu sendiri, anak yang dikandung, dan sel telur/sel reproduksi yang sudah terbentuk di dalam janin itu. Artinya, cucu bisa terdampak dari plastik yang kita konsumsi hari ini.

Dampak kesehatan

Dalam penelitian terbaru ini, tim Ecoton belum melakukan analisis terhadap dampak kesehatan yang dialami subjek penelitian yang dalam darahnya ditemukan partikel plastik. Namun, Lestari Sudaryanti mengatakan akan melanjutkan penelitian ini terkait fragmentasi DNA akibat cemaran plastik dalam darah.

”Keberadaan plastik dalam darah ini yang saya khawatirkan adalah memicu fragmentasi DNA. Itu karena stres oksidatif bisa merusak integritas membran (darah),” kata Lestari.

Baca JugaPlastik Mahal, Saatnya Beralih

Sejumlah laporan penelitian di luar negeri juga telah mengungkap bahwa keberadaan benda asing sintetis ini di dalam darah bisa memicu rentetan reaksi biologis yang berbahaya. Penelitian Longxiao Liu dari School of Public Health, Hangzhou Medical College, China dan tim di jurnal Toxic pada Oktober 2025 menyebutkan, nanoplastik dalam darah dapat menyebabkan hemolisis atau pecahnya sel darah merah. Selain itu, hal itu dapat memicu aktivitas pro-koagulan dan interaksi dengan membran sel darah.

Hubungan langsung antara cemaran partikel plastik dalam darah dengan stroke atau kardiovaskular pada manusia sejauh ini masih dalam tahap indikatif atau belum sepenuhnya kausal. Namun kajian Liu dan tim menunjukkan mekanismenya, yaitu hemolisis dan koagulasi sangat konsisten secara biologis. Selain itu, laporan ini juga menunjukkan, keberadaan cemaran plastik dalam darah berpotensi melemahkan fungsi imun melalui inflamasi kronis.

Sementara itu, laporan Chao Seng dari College of Chemistry and Life Science, Beijing University of Technology, China dan tim di Journal of Hazardous Material pada Desember 2024 mengungkapkan bahwa cemaran nanoplastik dalam darah dapat mengaktifkan faktor pembekuan dan memicu pembentukan trombus atau gumpalan darah.

Dengan berbagai temuan cemaran plastik dan dampaknya dalam berbagai organ manusia ini, tim peneliti Ecoton mekomendasikan agar mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari, terutama dalam konsumsi makanan dan minuman serta saat berbelanja. Selain itu, juga diharapkan mengurangi penggunaan pakaian berbahan sintetis.

Upaya lain di antaranya menghindari penggunaan wadah plastik sekali pakai, membawa botol minum sendiri, serta menggunakan tas belanja guna ulang merupakan langkah konkret yang dapat dilakukan. "Upaya kolektif ini penting untuk menekan jumlah plastik yang berpotensi terdegradasi menjadi nanoplastik di lingkungan, yang pada akhirnya dapat berdampak pada kesehatan manusia dan ekosistem secara luas," kata Prigi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sinopsis Drama China Hold a Court Now, Perjuangan Hakim Muda Tangani Perselisihan Rumah Tangga
• 12 jam lalugrid.id
thumb
RUU Satu Data Indonesia Didorong Atasi Ego Sektoral dan Integrasi Data Nasional
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Bank Sulselbar Tancap Gas, KCS Maros Resmi Jadi Pusat Layanan Syariah
• 3 jam laluterkini.id
thumb
KPK Ungkap Pejabat OPD Pinjam Uang untuk Penuhi Permintaan Bupati Tulungagung
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
PTPP Perkuat Momentum Awal Tahun, Raih Kontrak Baru Rp3,87 Triliun hingga Februari 2026
• 15 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.