Orang dengan ADHD tak jarang tumbuh dalam diam membawa keganjilan sejak masa kanak-kanak tanpa pernah benar-benar dikenali. Gejala yang muncul sering kali tersamar sebagai kebiasaan yang kemudian harus dimaklumi dan diterima begitu saja.
Baru ketika dewasa, saat tuntutan hidup kian kompleks, banyak yang mulai menyadari bahwa dirinya memiliki kondisi ADHD. Namun, perjalanan untuk sampai pada kesadaran itu tidaklah mudah. Banyak individu harus melalui berbagai kebingungan, luka yang tak selalu terlihat, hingga akhirnya muncul keberanian untuk mencari jawaban.
Cerita itu diungkapkan oleh Lutfi (33), warga Jakarta, pekan lalu. Tanda-tanda kondisi ADHD atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas sebenarnya sudah muncul sejak ia kecil. Ia mengalami keterlambatan bicara dan baru bisa berbicara dengan baik di usia empat tahun.
Seiring bertambahnya usia, banyak kebiasaan pada dirinya yang tidak biasa dilakukan oleh orang lain di sekitarnya. Ia sering kehilangan barang, sering merusak barang, dan sering lupa menaruh atau meninggalkan barang miliknya. ”Barang ketinggalan, rusak, barang hilang, itu seperti sudah jadi bagian hidup,” katanya.
Saat usia sekolah, Lufti juga jarang bisa bersosialisasi dengan teman-temannya. Lutfi bahkan sering mendapatkan perundungan karena kebiasaan yang dinilai aneh oleh teman-temannya. Salah satunya ketika ia terobsesi dengan semut. Lutfi hampir berbulan-bulan punya kebiasaan mengamati sarang semut di sekolahnya.
Obsesi tersebut sering berganti-ganti. Namun, saat satu obsesi muncul akan bertahan dalam waktu lama. Pernah suatu waktu, ia punya obsesi terhadap video animasi Digimon. Ia bisa menonton video yang sama setiap hari sampai hafal seluruh dialog dalam video.
Lutfi bahkan sering mendapatkan perundungan karena kebiasaan yang dinilai aneh oleh teman-temannya.
Selain itu, Lutfi juga punya kecenderungan sensitif terhadap suatu tekstur. Ia tidak suka dengan tekstur nasi yang lembek. Ia harus makan nasi yang pulen. Ia juga tidak bisa duduk di kursi angkutan umum yang sobek.
Namun, di tengah kebiasaan yang dianggap aneh itu, nilai akademik Lutfi tetap baik. Orang-orang di sekitarnya, termasuk orangtuanya, pun menganggap tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam diri Lutfi.
Masalah baru mulai terasa ketika ia memasuki dunia kerja. Strategi yang selama ini dilakukan dengan cara ”masking” atau menyembunyikan ketidaknyamanannya agar terlihat ”normal” tidak lagi bisa dilakukan.
”Pas kerja itu banyak sekali variabel, terutama sosial. Saya mulai merasa ada yang tidak beres dalam diri saya. Konflik yang terjadi pada orang di sekitar saya seperti berulang,” kata Lutfi.
Itu puncaknya terjadi pada 2023. Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke psikolog. Awalnya, ia datang dengan masalah kepercayaan diri dan kecemasan.
Namun, saat ia menceritakan masa kecilnya, psikolog justru melihat adanya kemungkinan gangguan lain. Dari sejumlah proses penilaian yang dilakukan, Lutfi pun terdiagnosis mengalami ADHD.
Pada awalnya, diagnosis tersebut sempat membingungkan. Namun, Lutfi menyadari bahwa itu menjadi penjelasan atas banyak hal yang selama ini terasa ganjil olehnya. Meski begitu, penerimaan akan kondisi itu tidak mudah.
Di tempat kerja, Lutfi memilih untuk tidak membuka kondisi tersebut. Ia merasa lingkungan kerja belum tentu bisa memahami kondisinya. Ia khawatir jika diagnosis tersebut justru disalahartikan sebagai alasan jika kinerjanya buruk.
Lutfi memilih untuk membuka kondisinya kepada orang-orang terdekatnya. Mereka menjadi ruang aman untuk berbagi apa yang dirasakannya. Untuk menyiasati tantangan di tempat kerja, Lutfi memiliki strategi tersendiri.
Ia memastikan untuk memilih pekerjaan yang jauh dari tugas yang membutuhkan laporan mendetail atau notulen rapat. Ia juga mencari pekerjaan yang dilakukan dengan sistem berbasis proyek sehingga pekerjaan yang dilakukan lebih bervariasi.
”Karena proyek yang dijalankan itu berganti-ganti jadi memang lebih menyenangkan. Tapi kalau sudah harus nge-manage orang, managing timeline, dan review dokumen, itu sudah jadi kelemahan saya. Jadi sebisa mungkin saya menghindarinya,” kata Lutfi.
Cerita yang berbeda datang dari Innocent (33), yang akrab disapa Inno. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan hiperaktivitas dan kesulitan fokus. Dengan kondisi itu, lingkungannya lebih menganggapnya sebagai anak yang nakal.
Masa kecilnya dihabiskan di Manado, Sulawesi Utara, sebelum pindah ke Sorong, Papua Barat Daya. Di sekolah, ia sering kesulitan memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru, terutama yang disampaikan secara verbal. Ia juga tumbuh sangat aktif. Sebagai anak perempuan, ia bahkan terkadang terlibat perkelahian dengan teman laki-laki sebayanya.
Seiring bertambahnya usia, tekanan yang dialaminya semakin terasa. Di rumah, ia menghadapi ekspektasi yang tinggi dari orangtuanya untuk memiliki pekerjaan tetap sebagai pegawai negeri sipil. Sementara itu, ia merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang monoton.
Kondisi hiperaktivitas yang dialaminya juga sering dianggap aneh. Di tengah pergulatan itu, ia berusaha terlihat baik-baik saja. Ia seakan bertopeng, sementara tekanan yang dirasakan sebenarnya semakin menumpuk.
Serial Artikel
Diet Memainkan Peran Kunci dalam Menurunkan Gejala ADHD pada Anak
Riset terbaru menemukan, konsumsi lebih banyak buah dan sayuran mengurangi gejala ADHD, ”attention deficit hyperactivity disorder”, gangguan mental yang menyebabkan anak sulit memusatkan perhatian dan hiperaktif.
Inno, baru beberapa tahun lalu, mencari jawaban atas kondisinya di internet. Berbagai kemungkinan muncul, termasuk kemungkinan akan kondisi ADHD. Pada 2021, ia akhirnya memberanikan diri ke psikiater dengan kondisi depresi berat yang dialami.
Perjalanan diagnosisnya tidak berhenti di situ. Ia sempat menunda pemeriksaan lanjutan. Hingga akhirnya pada 2023, saat mengikuti pelatihan di Bali, ia kembali merasa kesulitan menerima materi. Momen itu menjadi titik balik dirinya.
Inno kembali ke psikiater dengan menceritakan seluruh pengalaman hidupnya sejak kecil. Dari sana, ia baru mendapatkan diagnosis ADHD. Usianya saat itu sekitar 30 tahun. Setelah itu, ia menceritakan ke keluarganya. Awalnya, orangtuanya belum paham betul mengenai ADHD.
”Kini mereka mulai menerima dan tidak lagi terus menuntut saya harus menjadi ASN. Mereka mulai sadar anaknya lebih nyaman kerja di bidang yang sesuai dengan kemauannya,” tuturnya.
Ia pun kini memilih pekerjaan yang dinamis yang lebih banyak di luar ruangan. Ia juga bergabung dengan komunitas ADHD untuk mendapatkan dukungan. Menurut Inno, kesadaran dan pendampingan kepada penderita ADHD sangat penting.
Penanganan sejak dini pun akan membuat kehidupan yang lebih baik bagi orang dengan ADHD. Dengan begitu, ketika semakin dewasa, pendidikan dan pekerjaan anak bisa lebih terarah.
”Selain itu, kalau edukasi ini dilakukan sedini mungkin kepada orangtua, tidak ada lagi stigma yang membuat anak semakin dikucilkan atau salah penanganan dari orangtua di rumah,” ujarnya.
Psikolog yang juga pendiri komunitas Teman ADHD, Iriani Indri Hapsari, mengatakan, tidak sedikit orang dengan ADHD yang baru terdiagnosis saat usia dewasa. Itu terjadi karena gejala pada masa kecil tidak dikenali dengan baik. Riwayat ADHD umumnya sudah muncul sejak usia anak, tetapi tidak terdiagnosis sebagai ADHD.
Padahal, diagnosis ADHD pada usia dewasa membutuhkan proses yang panjang. Banyak faktor yang bisa tumpang tindih sehingga bisa disimpulkan dalam satu atau dua pertemuan saja. Banyak individu dengan ADHD juga mengalami depresi atau kecemasan.
ADHD itu spektrumnya sangat beragam. Intinya ’tailor-made’ (penanganan sesuai dengan kebutuhan setiap individu).
Kondisi itu membuat penanganan ADHD pada dewasa lebih kompleks. Tidak hanya kondisi ADHD yang harus ditangani, tetapi juga gangguan penyerta atau komorbid. Pendekatan yang komprehensif menjadi kunci dalam penanganan yang tepat. Penanganan pun harus disesuaikan dengan setiap kondisi.
”ADHD itu spektrumnya sangat beragam. Intinya tailor-made (penanganan sesuai dengan kebutuhan setiap individu). Ada yang memiliki komorbid, ada juga yang masih harus ’fighting’, dan juga punya support lingkungan yang beragam. Itu juga berpengaruh,” kata Iriani, yang saat ini juga merupakan Kepala Pusat Layanan Psikologi dan Bimbingan Konseling Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Iriani juga menyoroti dukungan dari lingkungan sekitar. Tanpa pemahaman yang memadai, orang dengan ADHD rentan mengalami stigma dan kesulitan berbaur di lingkungan dan tempat kerja.
Padahal, orang dengan ADHD punya potensi yang besar jika dikelola dengan tepat. Dukungan dari keluarga, tempat kerja, dan lingkungan sosial akan menentukan kualitas hidup mereka.
Orang dengan ADHD pun bisa menjalani hidup dengan baik dengan strategi tersendiri. Hal-hal sederhana yang bisa dilakukan seperti membuat catatan harian, memasang pengingat, atau menyusun daftar pekerjaan untuk mengelola gejala yang dimiliki.
”ADHD itu hidup dengan strategi. Jadi ketika ada problem, mereka tahu apa yang harus dilakukan. Jadi memang harus bisa berdamai dengan kondisi ADHD untuk survive,” kata Iriani.





