Jakarta, VIVA – IHSG dibuka melemah 48 poin atau 0,65 persen di level 7.410 pada pembukaan perdagangan Senin, 13 April 2026.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman memprediksi, IHSG bakal tes support berpotensi rebound pada perdagangan hari ini.
"IHSG berpotensi tes support di 7.400 dan jika bertahan, akan melanjutkan reboundnya ke 7.600-an," kata Fanny dalam riset hariannya, Senin, 13 April 2026.
- Antara
Dia mengatakan, Bursa Asia mayoritas meningkat pada perdagangan Jumat pekan lalu. Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 1,84 persen, Hang Seng Hong Kong menguat 0,55 persen, Taiex Taiwan naik 1,60 persen, dan Kospi Korea Selatan melonjak 1,40 persen.
Sedangkan, indeks ASX 200 Australia melemah 0,14 persen dan Topix Jepang turun 0,04 persen. Sementara itu, FTSE Straits Times menguat 0,25 persen dan FTSE Malay KLCI naik 0,30 persen.
Pasar Asia-Pasifik sebagian besar menguat, karena gencatan senjata dua minggu yang lemah antara AS dan Iran membuat investor tetap waspada.
Konflik Timur Tengah, yang telah berlangsung lebih dari sebulan, menyebabkan penutupan Selat Hormuz, dan lalu lintas sebagian besar masih dibatasi melalui jalur air energi yang penting ini meskipun ada gencatan senjata.
Teheran mengatakan akan membuka kembali selat tersebut selama semua serangan terhadap negara itu dihentikan, menurut pernyataan dari menteri luar negerinya. Laporan media mengatakan bahwa Israel juga telah menyetujui gencatan senjata tersebut.
"Support IHSG berada di level 7.330-7.400 sementara resist IHSG di rentang 7.560-7.600," ujarnya," ujarnya.
Sebagai informasi, Wall Street ditutup beragam dengan investor wait and see akhir pekan dan terus memantau negosiasi perdamaian Timur Tengah. Pada Jumat pekan lalu, indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,56 persen, S&P 500 turun 0,11 persen, sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,35 persen. Sementara itu, saham Broadcom dan Nvidia masing-masing naik 4,7 persen dan 2,6 persen.
Di sisi lain, indeks harga konsumen (CPI) Departemen Tenaga Kerja, indikator inflasi utama pertama yang dirilis sejak dimulainya perang, menunjukkan harga konsumen mencatat lonjakan bulanan terbesar dalam hampir empat tahun. Hal itu karena lonjakan harga energi yang diperkirakan, memicu lonjakan 21,2 persen di pompa bensin.




