CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, resmi memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memulai blokade di Selat Hormuz pada Minggu (12/4/2026). Langkah ini diambil setelah perundingan nuklir dengan Iran berakhir tanpa kesepakatan.
Keputusan tersebut muncul usai negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad pada Sabtu (11/4/2026) menemui jalan buntu, terutama terkait program nuklir Teheran.
Meski pembicaraan berlangsung intens dan sebagian besar isu berhasil dibahas, perbedaan tajam soal nuklir menjadi penghalang utama tercapainya kesepakatan.
Melansir Reuters, Senin (13/4), dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menegaskan sikap keras terhadap aktivitas maritim yang terkait Iran.
"Tidak seorang pun yang membayar bea masuk ilegal akan memiliki jalur aman di laut lepas. Setiap warga Iran yang menembak kita, atau kapal-kapal damai, akan DIHANCURKAN!" tulis Trump.
Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan bahwa blokade akan diberlakukan terhadap seluruh lalu lintas kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran. Operasi ini dijadwalkan dimulai pada Senin, 13 April pukul 10 pagi waktu AS.
Menanggapi langkah tersebut, Garda Revolusi Iran (IRGC) memperingatkan bahwa kehadiran kapal militer AS di sekitar Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran serius dan akan ditindak tegas.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa ancaman Washington tidak akan memengaruhi sikap negaranya.
"Jika Anda melawan, kami akan melawan, dan jika Anda mengajukan argumen logis, kami akan menanggapinya dengan logika," kata Ghalibaf, dikutip dari CNN Indonesia, Senin.
Sebelumnya diberitakan sikap Iran menolak proposal AS disebut sebagai bentuk menjaga kepentingan nasional, terutama terkait pengembangan teknologi nuklir dan jaminan jangka panjang.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut kegagalan perundingan disebabkan tuntutan berlebihan dari pihak AS.
"Wajar jika sejak awal kita tidak mengharapkan tercapainya kesepakatan dalam satu pertemuan,” kata Baqaei.
“Tidak ada yang mengharapkan itu juga.”
Ia juga mengungkap bahwa isu baru seperti Selat Hormuz turut memperumit jalannya negosiasi.
“Beberapa isu baru, seperti isu Selat Hormuz, ditambahkan ke dalam negosiasi ini, yang masing-masing memiliki kompleksitasnya sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Presiden AS, J. D. Vance, mengakui kegagalan diplomasi tersebut, namun tetap menegaskan posisi tegas Washington.
“Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Saya pikir ini merupakan kabar yang jauh lebih buruk bagi Iran dibandingkan bagi Amerika Serikat,” ujar Vance.
Ia menambahkan bahwa AS telah menawarkan kompromi, namun Iran memilih untuk tidak menerima syarat yang diajukan.
“Mereka telah memilih untuk tidak menerima syarat kami,” katanya.
Blokade yang dilakukan Amerika Serikat berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas, mengingat kawasan ini merupakan jalur vital perdagangan energi dunia.




