Radiator coolant umumnya mengandung Ethylene Glycol yang berperan mengatur tingkat penguapan dan efektivitas pendinginan sesuai teknologi mesin kendaraan. Komposisi cairan ini juga disesuaikan dengan kebutuhan mesin modern, mulai dari mesin direct injection, turbocharged, hybrid, hingga electric vehicle (EV).
President Director PT Autochem Industry (AI), Henry Sada, menjelaskan kualitas radiator coolant tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya menurunkan suhu mesin.
”Keandalan radiator coolant tidak hanya dilihat dari kemampuan melepaskan panas mesin. Cairan ini juga harus memiliki kemampuan dalam menekan timbulnya karat dalam sirkulasi radiator. Karat dapat muncul karena beberapa hal, seperti penggunaan air biasa atau air keran rumahan yang mengandung mineral dan klorin yang dapat memicu korosi pada logam. Kombinasi panas tinggi dari mesin dan kandungan oksigen dalam air turut mempercepat oksidasi logam,” jelas Henry Sada.
Baca Juga: Pilihan Mobil Listrik dengan Jarak Tempuh Tembus 800 KM, Belum Ada di Indonesia?
Secara umum, terdapat dua jenis teknologi aditif anti karat yang digunakan dalam radiator coolant, yaitu IAT (In-organic Acid Technology) dan OAT (Organic Acid Technology). Perbedaan IAT dan OAT Teknologi IAT merupakan teknologi lama yang banyak digunakan pada kendaraan dengan radiator berbahan tembaga atau kuningan. Aditif ini bekerja dengan membentuk lapisan pelindung pada permukaan logam untuk menghambat proses korosi.
Bahan aditifnya umumnya berasal dari unsur anorganik seperti fosfat, nitrit, borat, dan silikat. Namun teknologi ini memiliki kelemahan karena aditifnya relatif cepat terurai. Akibatnya, masa pakai coolant jenis ini lebih pendek, yaitu sekitar 2–3 tahun atau 40.000 km tergantung kondisi pemakaian.
Sementara itu, teknologi OAT merupakan pengembangan yang lebih modern. Teknologi ini menggunakan asam organik yang bekerja dengan membentuk lapisan pelindung mikroskopis pada permukaan logam sistem pendingin.
Baca Juga: Motor Matic yang Cocok Untuk Perjalanan Jauh
Berbeda dengan IAT, aditif pada OAT hanya bereaksi pada area logam yang membutuhkan perlindungan. Karena tidak mengandung unsur anorganik, risiko terbentuknya endapan juga lebih kecil.
Hal tersebut membuat radiator coolant berbasis OAT memiliki usia pakai lebih panjang, yaitu sekitar 5–10 tahun atau hingga 100.000 km, tergantung kandungan glycol di dalam formulanya.
Teknologi OAT sendiri mulai dikembangkan pada tahun 1980-an dan dalam satu dekade terakhir semakin banyak digunakan di Indonesia karena dinilai lebih cocok untuk kondisi iklim tropis. Tidak Disarankan Menggabungkan IAT dan OAT Meski sama-sama berfungsi sebagai cairan pendingin mesin, radiator coolant berbasis IAT dan OAT tidak boleh dicampur dalam satu sistem pendingin.
Penggabungan kedua jenis coolant ini dapat menimbulkan beberapa masalah. Pertama, aditif anti karat dari masing-masing teknologi dapat saling menetralkan sehingga perlindungan terhadap korosi menjadi hilang.
Selain itu, reaksi kimia antara kedua jenis aditif berpotensi menimbulkan endapan lumpur atau gel yang dapat menyumbat jalur sirkulasi radiator.
Kondisi tersebut justru dapat menurunkan efektivitas sistem pendingin dan meningkatkan risiko kerusakan komponen mesin.
Selain teknologi aditif anti karat, usia pakai radiator coolant juga dipengaruhi oleh kadar glycol dalam formulanya. Semakin tinggi kandungan glycol, maka semakin lama pula masa pakai cairan pendingin tersebut.
Karena itu, pemilik kendaraan disarankan menggunakan radiator coolant sesuai spesifikasi pabrikan serta menghindari mencampur jenis coolant yang berbeda untuk menjaga kinerja sistem pendingin tetap optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)





