Jakarta, CNBC Indonesia - Para talenta kecerdasan buatan (AI) elite sebelumnya bekerja di Amerika Serikat (AS)kini berbondong-bondong kembali ke China. Dalam 12 bulan terakhir, gelombang "reverse migration" ini bahkan mulai mengubah peta persaingan AI dunia.
Sejumlah nama besar tercatat meninggalkan Silicon Valley. Wu Yonghui keluar dari Google DeepMind untuk memimpin pengembangan model AI generasi berikutnya di ByteDance. Yao Shunyu juga meninggalkan OpenAI untuk memperkuat divisi AI Tencent. Tak hanya itu, ilmuwan senior Roger Jiang hengkang dari OpenAI untuk mendirikan startup robotika di Shenzhen, sementara Zhou Hao direkrut Alibaba dari Google DeepMind.
Para headhunter teknologi menyebut lebih dari 30 peneliti AI berbasis AS telah dipindahkan ke China dalam setahun terakhir, melonjak tajam dibanding sebelumnya.
Fenomena ini bukan sekadar nostalgia pulang kampung belaka. China kini menawarkan peluang besar yang dinilai lebih menarik dibandingkan Silicon Valley.
Berbeda dengan AS yang masih memperdebatkan etika AI, China langsung menerapkan teknologi tersebut di berbagai sektor. Mulai dari taksi tanpa sopir di Beijing hingga perdagangan berbasis AI di Shanghai, implementasi teknologi berkembang cepat dan masif.
- Punya Beban Utang Dolar, Deretan Emiten RI Ini Siap-Siap Goyang
- Bos BI Beberkan 3 Jalur Dampak Perang AS-Israel Vs Iran ke Ekonomi
Selain itu, China juga memiliki keunggulan rantai pasok untuk hardware, khususnya robotika. Shenzhen bahkan menjadi pusat industri dengan ratusan perusahaan robot humanoid. Kondisi ini membuat para peneliti bisa langsung menguji teknologi di dunia nyata.
Faktor lain yang menjadi magnet adalah kompensasi. Gaji peneliti AI top di China disebut sudah melampaui Silicon Valley setelah disesuaikan dengan pajak dan biaya hidup. Dengan pendapatan yang sama, peneliti di China bisa membeli rumah, mempekerjakan asisten rumah tangga, hingga menikmati fasilitas kelas dunia.
Kondisi sosial juga menjadi pertimbangan. Infrastruktur modern, tingkat kriminalitas rendah, serta sistem pendidikan yang kompetitif dinilai lebih menarik bagi para profesional yang ingin membangun keluarga.
"Saya kembali ke Shanghai karena menurut saya ini tempat yang lebih baik untuk membangun keluarga. China menawarkan sistem pendidikan yang lebih ketat dan berbasis merit, serta lingkungan yang lebih aman," ujar Jonathan Zhou, manajer dana kuantitatif lulusan Harvard yang memiliki anak dua tahun, dikutip dari Financial Times, Senin (13/4/2026).
Ada pula faktor "dorong" dari Amerika Serikat, yakni adanya ketegangan geopolitik dan aturan imigrasi yang semakin ketat membuat banyak peneliti China kesulitan memperoleh green card.
Akibatnya, banyak talenta mulai melihat China sebagai pilihan karier jangka panjang. Bahkan, hanya sekitar 20% lulusan teknik Universitas Tsinghua yang kini mendaftar PhD ke AS, turun dari sekitar 50% sebelum pandemi.
Kembalinya para insinyur ini menandakan sektor teknologi China semakin matang. China tidak lagi sekadar mengonsumsi inovasi AS, tetapi mulai menciptakannya sendiri.
(fab/fab) Add as a preferred
source on Google




