FAJAR, SURABAYA — Kekalahan telak 0-3 dari Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno bukan sekadar hasil buruk bagi Persebaya Surabaya. Lebih dari itu, laga tersebut menjadi cermin dari problem yang lebih dalam—krisis struktur permainan, mentalitas, hingga kegagalan membangun ulang kekuatan tim secara utuh.
Di bawah arahan Bernardo Tavares, Persebaya justru belum menemukan stabilitas yang diharapkan. Alih-alih bangkit, Green Force malah menunjukkan tren inkonsistensi yang mengkhawatirkan. Dalam tiga laga terakhir, dua di antaranya berakhir dengan kekalahan telak—termasuk saat dihajar 5-1 oleh Borneo FC.
Masalah paling mencolok ada di lini belakang.
Statistik saat menghadapi Persija memperlihatkan betapa rapuhnya pertahanan Persebaya. Dengan hanya 33% penguasaan bola, mereka terus berada di bawah tekanan. Sebanyak 12 tembakan dilepaskan oleh lawan, enam di antaranya tepat sasaran, dan tiga berbuah gol. Ini bukan sekadar angka—ini adalah gambaran bagaimana lini pertahanan gagal mengantisipasi serangan, membaca ruang, dan menjaga koordinasi.
Menurut Tavares sendiri, titik balik kekalahan terjadi saat penalti yang dieksekusi Allano Lima berbuah gol. Setelah itu, Persija bermain semakin lepas, sementara Persebaya justru kehilangan kendali.
Namun jika ditarik lebih dalam, masalahnya bukan hanya soal satu momen.
Mentalitas menjadi faktor krusial. Tekanan dari puluhan ribu suporter di GBK terbukti memengaruhi fokus pemain. Dalam situasi tertinggal, tim justru kehilangan ketenangan—sesuatu yang seharusnya menjadi fondasi bagi tim yang ingin bersaing di papan atas.
“Kontrol emosi dan fokus menurun,” kata Tavares. Pernyataan ini secara tidak langsung menegaskan bahwa problem Persebaya bukan hanya teknis, tetapi juga psikologis.
Di sisi lain, persoalan rekrutmen pemain juga ikut memperparah situasi.
Jika dibandingkan dengan tim yang pernah ia bangun di PSM Makassar, Tavares tampaknya belum menemukan sosok dengan kualitas setara di Persebaya. Salah satu contoh paling jelas adalah absennya figur seperti Yuran Fernandes—bek tangguh yang tidak hanya kuat dalam duel, tetapi juga memiliki kepemimpinan dan ketenangan dalam mengorganisasi lini belakang.
Di Persebaya, sosok seperti itu belum terlihat.
Akibatnya, pertahanan menjadi mudah goyah, terutama saat menghadapi tekanan tinggi atau bermain di kandang lawan.
Masalah lain muncul di lini depan. Kehadiran Pedro Matos yang diharapkan mampu menggantikan peran Dejan Tumbas belum memberikan dampak signifikan. Ketajaman yang diharapkan tidak kunjung terlihat, sementara efektivitas serangan menjadi menurun.
Dalam sepak bola modern, keseimbangan antara lini belakang dan lini depan sangat menentukan. Ketika dua sektor ini sama-sama tidak optimal, maka tim akan kesulitan bersaing—bahkan untuk sekadar menjaga konsistensi.
Data berbicara jelas. Sejak ditangani Tavares pada Januari, Persebaya mencatatkan 17 gol dan kebobolan 18. Selisih gol minus satu ini menjadi indikator bahwa tim belum menemukan keseimbangan ideal antara menyerang dan bertahan.
Meski secara keseluruhan musim mereka masih memiliki surplus gol (+5), tren negatif ini menjadi sinyal bahaya. Jika kekalahan telak terus berulang, bukan tidak mungkin selisih tersebut akan berubah menjadi negatif—dan itu akan berdampak langsung pada posisi klasemen.
Situasi ini menempatkan Persebaya dalam persimpangan.
Di satu sisi, mereka masih memiliki potensi untuk bangkit. Di sisi lain, tanpa evaluasi menyeluruh—baik dari segi taktik, mental, maupun komposisi pemain—tim ini berisiko terus terjebak dalam inkonsistensi.
Tavares tentu bukan pelatih tanpa kualitas. Ia pernah membuktikan kemampuannya bersama PSM. Namun sepak bola selalu kontekstual. Apa yang berhasil di satu tim belum tentu bisa langsung diterapkan di tim lain tanpa adaptasi.
Persebaya membutuhkan lebih dari sekadar perubahan strategi. Mereka membutuhkan identitas baru—struktur permainan yang jelas, pemimpin di lapangan, serta pemain yang mampu menjalankan visi pelatih dengan konsisten.
Tanpa itu semua, kekalahan demi kekalahan bukan lagi sekadar hasil buruk, melainkan gejala dari masalah yang lebih besar.
Dan jika tidak segera diperbaiki, ambisi untuk kembali bersaing di papan atas bisa berubah menjadi perjuangan untuk sekadar bertahan.





