FAJAR, SOLO — Kemenangan krusial Persis Solo atas Semen Padang FC dengan skor 2-1 di Stadion Manahan tidak hanya mengubah posisi klasemen, tetapi juga menggeser peta persaingan di zona degradasi BRI Super League musim 2025/2026.
Hasil ini membuat Persis berhasil keluar dari jeratan tiga terbawah dan naik ke peringkat ke-15. Sebaliknya, Semen Padang kini semakin tertekan—dan mulai masuk dalam radar kandidat kuat degradasi.
Namun pertanyaan besarnya: apakah hanya Semen Padang dan PSBS Biak yang terancam? Bagaimana dengan tim lain seperti PSM Makassar, Persijap Jepara, dan Madura United FC?
PSBS Biak & Semen Padang: Alarm Paling Nyaring
Jika melihat tren performa dan posisi klasemen, dua nama yang paling rawan saat ini memang mengarah ke PSBS Biak dan Semen Padang.
Semen Padang, misalnya, baru saja kalah dalam laga “enam poin” melawan Persis. Kekalahan ini bukan hanya soal angka, tetapi juga kehilangan momentum. Dalam situasi papan bawah, kalah dari rival langsung sering kali berdampak ganda: kehilangan poin dan memberi napas bagi lawan.
PSBS Biak, di sisi lain, juga belum menunjukkan konsistensi yang cukup untuk keluar dari tekanan. Tanpa perbaikan signifikan dalam beberapa laga ke depan, mereka berisiko tertinggal dalam perburuan bertahan.
PSM Makassar: Belum Aman, Tapi Punya Modal
Berbeda dengan dua tim di atas, posisi PSM sedikit lebih “abu-abu”.
Kemenangan dramatis atas PSIM memberi suntikan moral penting. Namun secara matematis, mereka belum sepenuhnya aman. Jarak poin dengan zona merah masih cukup dekat, dan satu hasil buruk bisa langsung mengubah posisi.
Yang menjadi pembeda adalah kualitas dan momentum. PSM mulai menemukan bentuk permainan, terutama dengan kontribusi lini belakang seperti Dusan Lagator dan Yuran Fernandes. Jika konsistensi ini terjaga, peluang mereka untuk selamat jauh lebih besar.
Namun jika kembali inkonsisten, mereka bisa terseret kembali ke pusaran degradasi.
Persijap Jepara & Madura United: Ancaman Nyata
Persijap Jepara justru menjadi salah satu tim yang paling berbahaya di papan bawah. Kemenangan atas Bhayangkara FC menunjukkan bahwa mereka masih memiliki daya saing.
Dalam situasi seperti ini, tim dengan momentum positif sering kali menjadi “kuda hitam” yang lolos dari degradasi.
Hal serupa juga berlaku untuk Madura United FC. Kemenangan terbaru mereka membuat persaingan semakin padat. Mereka bukan lagi sekadar tim yang bertahan, tetapi mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan.
Persis Solo: Dari Tertekan ke Momentum
Kemenangan Persis atas Semen Padang bisa menjadi turning point.
Gol Miroslav Maricic dan Dejan Tumbas bukan hanya memastikan tiga poin, tetapi juga mengangkat mental tim. Dalam situasi papan bawah, kepercayaan diri sering kali menjadi faktor penentu.
Kini, Persis memiliki momentum—dan itu bisa menjadi pembeda antara bertahan atau kembali terjerumus.
Kesimpulan: Belum Ada yang Aman
Zona degradasi musim ini tidak memiliki garis tegas. Tidak ada tim yang benar-benar “jatuh”, tetapi juga belum ada yang sepenuhnya “selamat”.
Paling terancam: PSBS Biak, Semen Padang
Rawan terseret: PSM Makassar
Sedang naik: Persijap Jepara, Madura United, Persis Solo
Dengan sisa pertandingan yang semakin sedikit, setiap laga kini bernilai final. Satu kemenangan bisa mengangkat posisi, satu kekalahan bisa menjatuhkan ke zona merah.
Dan dalam situasi seperti ini, bukan hanya kualitas yang menentukan—tetapi juga mental, konsistensi, dan kemampuan memanfaatkan momentum.




