EtIndonesia. Tiongkok, Provinsi Guizhou — sebagai akibat penambangan batu bara selama bertahun-tahun, sebuah gunung mengalami retakan parah. Lebih dari 400 warga desa di sekitarnya kini menghadapi kondisi berbahaya, dengan rumah-rumah mengalami penurunan tanah dan retakan dinding. Namun, karena saling lempar tanggung jawab antar pihak berwenang, warga tidak memiliki tempat untuk pergi dan kesulitan mendapatkan bantuan.
Menurut laporan media daratan “Da Xiang News”, di Desa Pojiao, Kota Liupanshui, sebuah gunung setinggi sekitar 800 meter di belakang desa telah menjadi “kosong” akibat penambangan jangka panjang.
Gunung tersebut kini dipenuhi banyak retakan, dengan lebar mencapai 4–5 meter—cukup besar hingga kendaraan berat bisa terperosok—dan kedalamannya tak terlihat. Pada malam hari, sering terdengar suara batu retak, dan saat hujan deras, risiko longsor besar sangat tinggi.
Karena banyaknya retakan, pemerintah setempat telah menutup semua akses jalan menuju gunung.
Lebih dari 400 warga desa hidup dalam ketakutan setiap hari. Rumah mereka umumnya mengalami penurunan tanah, retakan pada dinding, serta atap yang mulai runtuh. Pada malam hari, warga sering mendengar suara retakan batu dari gunung—yang menurut mereka menandakan retakan terus melebar.
Dalam rekaman terlihat rumah seorang warga dengan retakan yang membentang dari sudut dinding hingga ke atap. Warga tersebut mengatakan bahwa awalnya retakan hanya kecil, tetapi dalam dua hingga tiga bulan berubah menjadi celah besar. Tangga semen juga mulai longgar dan bergetar saat diinjak, sehingga tidak berani digunakan.
Warga lain, Liu Na, mengatakan bahwa dalam tiga bulan terakhir, dinding rumahnya sering mengelupas dan runtuh, hingga dalam waktu kurang dari setengah hari, dapur dan meja makan dipenuhi debu tebal. Karena tidak tahan, ia bersama empat anaknya pindah ke rumah kakaknya. Namun rumah tersebut juga dipenuhi retakan di setiap dinding, bahkan celah terlebar bisa dimasuki telapak tangan.
Yang paling mengkhawatirkan adalah datangnya musim hujan. Ancaman dari gunung jauh lebih berbahaya dibanding retakan rumah. Jika terjadi longsor, keselamatan lebih dari 400 warga desa tidak dapat dipastikan.
Menghadapi situasi ini, warga berkali-kali mengajukan permohonan relokasi kepada pemerintah kota dan komite desa, tetapi ditolak karena saling lempar tanggung jawab antar instansi. Meskipun ada dokumen “evakuasi darurat” dari pihak terkait, kepala desa menyatakan bahwa warga tidak memenuhi syarat untuk dipindahkan.
Pejabat pemerintah setempat juga menolak dengan alasan “perlu dibahas dalam rapat”, bahkan menyarankan warga untuk “mengajukan gugatan lagi”.
Sebelumnya, 14 keluarga warga pernah mengajukan gugatan ke pengadilan dan memenangkan kasus dengan kompensasi sekitar 450.000 yuan (RMB). Namun setelah dikurangi biaya penilaian dan pengacara, masing-masing keluarga hanya menerima kurang dari 10.000 yuan—jumlah yang jauh dari cukup untuk memperbaiki rumah.
Lebih mengejutkan lagi, setelah mengajukan gugatan, beberapa warga mengalami pembalasan. Banyak dari mereka yang bekerja di tambang batu bara dipecat. Tanpa sumber penghasilan, warga terpaksa terus tinggal di rumah yang retaknya semakin parah.
Sumber : NTDTV.com





