Bisnis.com, MAJALENGKA - Ancaman musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal pada 2026 mendorong Pemerintah Kabupaten Majalengka mengambil langkah antisipatif.
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) setempat meminta petani segera mempercepat masa tanam musim tanam II (MT II) untuk menjaga stabilitas produksi pangan.
Prediksi tersebut merujuk pada rilis Stasiun Klimatologi Jawa Barat yang menyebutkan awal kemarau tahun ini berlangsung lebih cepat dibanding pola normal.
Berdasarkan analisis data klimatologi periode 1991–2020, sebagian besar wilayah Jawa Barat diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal dengan fase peralihan menuju kemarau terjadi bertahap sejak Maret hingga Juni 2026. Puncak musim kering diprakirakan mulai terasa di banyak daerah pada Mei.
Kepala DKP3 Kabupaten Majalengka Gatot Sulaeman mengatakan pihaknya telah menginstruksikan jajaran penyuluh pertanian lapangan untuk segera bergerak melakukan pendampingan intensif kepada kelompok tani.
"Saat ini kondisi di lapangan belum seragam. Sebagian petani masih dalam tahap panen MT I karena sebelumnya sempat terjadi keterlambatan tanam akibat distribusi hujan yang tidak merata," kata Gatot, Senin (13/4/2026).
Baca Juga
- Aplikasi Nyari Gawe Milik Pemprov Jabar Sudah Dimanfaatkan 382 Ribu Pelamar
- Proyek BRT di Kota Bandung Jangan Asal Jadi, Kualitas Fisik Harus Mumpuni
- Majalengka Genjot 3.000 Rumah Subsidi, Libatkan Industri Genteng Lokal
Menurutnya, percepatan tanam menjadi krusial untuk memanfaatkan sisa ketersediaan air sebelum memasuki periode kering.
Terlebih, sejumlah wilayah seperti Kecamatan Jatitujuh, Ligung, dan sebagian Kertajati telah lebih dulu menghadapi kendala pasokan air irigasi yang berdampak pada mundurnya jadwal tanam.
DKP3, lanjut Gatot, memberikan perhatian khusus pada areal persawahan tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan. Petugas lapangan diminta memastikan petani segera mengolah lahan dan melakukan penanaman begitu panen selesai dilakukan.
"Petugas kami sudah disiagakan, terutama di daerah yang rawan kekeringan. Waktu yang tersisa harus dimanfaatkan seefektif mungkin agar tanaman masih mendapatkan suplai air yang cukup," katanya.
Meski demikian, kondisi di tingkat petani masih diwarnai sejumlah kekhawatiran, terutama terkait ketersediaan air dan sarana produksi.
Dedi (45), petani asal Kecamatan Ligung, mengaku siap mengikuti imbauan percepatan tanam, tetapi tetap bergantung pada kondisi irigasi di wilayahnya.
"Kalau air masih mencukupi, kami siap tanam lebih cepat. Tapi kalau sudah mulai kering, tentu sulit. Kami berharap ada solusi, misalnya bantuan pompa atau pengaturan irigasi yang lebih baik," ujarnya.
Hal senada disampaikan Ujang (50), petani dari Kecamatan Jatitujuh. Ia menilai langkah percepatan tanam merupakan strategi yang tepat, namun harus diiringi dengan kesiapan sarana pendukung di lapangan.
"Benih, pupuk, dan air harus tersedia. Kalau semua itu siap, kami optimistis tetap bisa panen dengan hasil baik meskipun kemarau datang lebih awal," kata Ujang.





