Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Rupiah Melemah ke Rp17 Ribu per USD
Dikutip dari Channel News Asia, di awal perdagangan Asia, kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei melesat sekitar 8 persen ke USD104,50 per barel. Sementara itu, Brent, patokan global, ikut naik sekitar 7 persen ke kisaran USD102 untuk kontrak Juni.
Lonjakan ini membalikkan sentimen pekan sebelumnya, ketika pasar sempat lega setelah Donald Trump menyetujui gencatan senjata sementara selama dua minggu. Namun harapan itu cepat memudar. Konflik tetap membara, ditandai oleh serangan Israel ke wilayah Lebanon dan terganggunya jalur vital energi global di Selat Hormuz. Blokade dan Eskalasi Baru Situasi memanas setelah Trump mengumumkan kebijakan agresif yakni Angkatan Laut AS akan memblokade kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran. Langkah ini secara efektif mengancam arus perdagangan energi dunia, mengingat sekitar sepertiga pasokan minyak dan gas global melewati Selat Hormuz.
Dalam pernyataan publiknya, Trump menegaskan tujuan utama adalah membuka kembali jalur pelayaran, tetapi tanpa memberi ruang bagi Iran untuk memanfaatkan kontrol atas selat tersebut.
Pihak militer AS menyatakan blokade akan mulai diberlakukan pada Senin sore waktu GMT, sementara Iran merespons keras. Garda Revolusi mengklaim tetap menguasai selat tersebut dan memperingatkan potensi eskalasi jika terjadi kesalahan langkah dari pihak lawan. Pasar Asia Melemah, Dolar Menguat Ketidakpastian ini langsung tercermin di pasar keuangan. Bursa saham Asia kompak melemah: Tokyo, Hong Kong, dan Seoul masing-masing turun lebih dari 1 persen. Tekanan juga terasa di Shanghai, Sydney, Singapura, Taipei, hingga Jakarta.
Di sisi lain, dolar AS menguat signifikan. Indeks dolar naik ke level tertinggi dalam sepekan, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven berbasis dolar di tengah ketidakpastian global.
Euro dan poundsterling melemah terhadap dolar, begitu pula mata uang berbasis komoditas seperti dolar Australia dan dolar Selandia Baru.
Negosiasi tingkat tinggi antara Washington dan Teheran, yang merupakan kontak paling intens sejak Revolusi Islam Iran 1979 yang sempat menunjukkan titik terang.
Namun perbedaan mendasar masih menganga. Wakil Presiden AS menyebut Washington telah memberikan “penawaran terbaik dan terakhir”. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai AS justru mengubah tuntutan dan mengambil langkah konfrontatif melalui blokade. Dampak ke Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga Lonjakan harga energi memperbesar kekhawatiran inflasi global. Data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen AS naik ke 3,3 persen pada Maret atau level tertinggi sejak pertengahan tahun lalu.
Kondisi ini berpotensi menahan bank sentral untuk menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, bahkan bisa mendorong kebijakan moneter tetap ketat lebih lama.
Menariknya, meski risiko geopolitik meningkat, harga emas justru tertekan. Hal ini mencerminkan ekspektasi suku bunga tinggi akan bertahan, sehingga mengurangi daya tarik aset non-yield seperti emas.
Selama konflik di Timur Tengah belum menemukan titik terang, termasuk ketegangan antara Israel dan kelompok Hezbollah, pasar kemungkinan akan tetap bergerak volatil.
Dengan Selat Hormuz sebagai titik krusial energi global, setiap eskalasi militer atau gangguan logistik berpotensi langsung mendorong harga minyak lebih tinggi, dan menyeret ekonomi dunia ke fase ketidakpastian baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





