Dalam satu hari, otoritas di Arab Saudi mengeksekusi mati tujuh orang. Laporan tersebut disampaikan kantor berita Saudi, SPA, pada Minggu (12/4).
SPA melaporkan, mereka yang dieksekusi terdiri dari lima warga negara Saudi dan dua warga negara Yordania. Mereka semua tersandung kasus peredaran narkotika.
“Hukuman mati dilaksanakan sebagai hukuman diskresioner terhadap para pelaku,” lapor kantor berita tersebut, seraya menambahkan bahwa eksekusi berlangsung di wilayah Riyadh.
Sejak awal 2026, Saudi telah mengeksekusi mati 38 orang dalam kasus narkotika. Secara total, Saudi telah melakukan 61 eksekusi mati untuk berbagai kasus pada tahun ini.
Sebagian besar yang dieksekusi merupakan warga asing, dengan jumlah mencapai 33 orang.
Sementara itu, pada 2025, Saudi mencatat rekor eksekusi mati dengan total 356 kasus, termasuk 243 kasus narkotika.
Jumlah tersebut menjadi angka tertinggi dalam satu tahun sejak Amnesty International mulai mendokumentasikan hukuman mati di negara tersebut pada 1990.
Rekor sebelumnya adalah 338 eksekusi mati yang tercatat pada 2024.
Saudi kembali melanjutkan eksekusi mati untuk pelanggaran narkotika pada akhir 2022, setelah sempat menangguhkan hukuman tersebut selama tiga tahun.
Banyaknya eksekusi mati di Saudi menuai kecaman dari berbagai aktivis dan kelompok HAM. Kebijakan ini dinilai berlebihan dan bertentangan dengan upaya Saudi menampilkan citra modern di mata dunia.




