JAKARTA, KOMPAS.TV - Batik bukan sekadar kain tradisional. Di balik motifnya, tersimpan nilai sejarah, filosofi, hingga pesan toleransi yang terus hidup lintas zaman.
Hal ini juga terlihat dalam batik peranakan—karya khas pesisir Pulau Jawa yang memadukan budaya lokal dengan pengaruh Tiongkok.
Ragam motif batik peranakan sarat simbol perpaduan dua budaya yang terjalin sejak sekian abad silam, menunjukkan keselarasan akulturasi yang harus senantiasa dilestarikan.
Pesan tersebut diangkat dalam pameran bertajuk Metamorfosa: Akulturasi Batik Peranakan Jakarta, Lasem, Cirebon, Pekalongan yang digelar di Bentara Budaya Jakarta pada 9 April hingga 5 Mei 2026.
Pameran ini dibuka langsung oleh Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa pada 9 April 2026.
Sejumlah karya dari delapan seniman batik turut dipamerkan, di antaranya Dave Tjoa, Giok/Indrawati (Batik Kanoman), Liem Po Hien (Batik Liem Ping Wie), Purwati Katrin (Batik Katrin Bee), Renny Ong (Batik Maranatha Ong’s Art), Sulistyono (Batik Nyah Kiok), Valentina Ekawatiningsih (Batik Lumintu), serta Widianti Widjaja (Batik Oey Soe Tjoen).
Dalam sambutannya, Ni Luh menegaskan pentingnya batik sebagai identitas bangsa sekaligus kekuatan budaya Indonesia di mata dunia.
Baca Juga: Kuasa Hukum Terdakwa Kasus Pembunuhan Kacab Bank Minta Berkas Perkara Dipisah
“Batik merupakan warisan budaya bangsa yang kaya akan nilai estetika, filosofi, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi. Lebih dari sekadar kain, batik merupakan bagian dari identitas bangsa dan menjadi salah satu soft power Indonesia di mata dunia," katanya, dikutip dari keterangan tertulis Bentara Budaya.
Ni Luh mengatakan Kementerian Pariwisata mendorong agar batik dan wastra Indonesia tidak hanya menjadi pelengkap di sektor pariwisata, tetapi harus menjadi tujuan dari pariwisata itu sendiri.
"Pameran batik seperti ini memiliki peran yang sangat strategis, tidak hanya sebagai ruang apresiasi terhadap karya dan tradisi batik, tetapi juga sebagai upaya menarik wisatawan dan menghadirkan pengalaman budaya yang autentik. Regenerasi pengrajin batik menjadi kunci dari eksistensi budaya bangsa kita,” ungkapnya.
Bentara Budaya Angkat Warisan Lintas Generasi
Direktur Bentara Budaya Glory Oyong menekankan, lembaganya telah hampir 45 tahun menjadi ruang ekspresi bagi seniman dari berbagai daerah di Indonesia.
“Bentara Budaya telah hadir hampir 45 tahun sebagai lembaga budaya yang mengoleksi dan memamerkan karya seniman-seniman seluruh Indonesia. Saat ini jumlah koleksinya sudah mencapai 3.000 karya yang setiap bulannya kami tampilkan di ruang galeri ini," kata Glory.
"Ini adalah perpanjangan dari corporate social responsibility Kompas Gramedia menyediakan ruang untuk para seniman berkarya dan dikenal publik. Pada pameran kali ini, kami sangat bangga dapat menghadirkan karya wastra Indonesia yang begitu kaya, khususnya batik peranakan yang merupakan bukti nyata bagaimana akulturasi budaya dapat melahirkan keindahan yang tak lekang oleh waktu.”
President Director KompasTV Rosianna Silalahi juga mengapresiasi kualitas karya yang ditampilkan, khususnya dari Dave Tjoa.
"Saya melihat karya-karya Dave Tjoa dan sungguh-sungguh takjub. Hanya dalam dua tahun berkarya, ia sudah menghasilkan mahakarya yang luar biasa. Dari situ kita belajar bahwa ini bukan tentang lama atau sebentarnya seseorang dalam berdedikasi, tapi bagaimana tentang kecintaan, kesungguhan, konsistensi, dan kerja keras," ujar Rosianna.
Penulis : Ade Indra Kusuma Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- batik peranakan
- pameran batik
- akulturasi budaya
- batik lasem
- batik cirebon
- bentara budaya jakarta





