PSIM Jogja mencatat jumlah penonton kandang terendah sepanjang Super League 2025/2026 saat menjamu PSM Makassar di Stadion Sultan Agung, Jumat (10/4). Berdasarkan match summary report, jumlah penonton hanya 1.886 orang dari kuota 7.500 yang disediakan panitia pelaksana (panpel).
Minimnya kehadiran suporter berdampak langsung pada kondisi finansial klub. Direktur Utama PSIM, Liana Tasno, mengakui pemasukan dari penjualan tiket tidak mampu menutup biaya operasional pertandingan, termasuk kebutuhan panpel dan perizinan.
“Pastilah berdampak besar. Untuk biaya panpel saja tidak nutup, apalagi perizinan juga mahal,” ujarnya ke awak media, Senin (13/4).
Menurut perempuan yang akrab disapa Cik Liana itu, kondisi ini menjadi tantangan berat karena beban pembiayaan tidak diimbangi pemasukan. Ia menegaskan persoalan tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan ke manajemen.
“Kalau semuanya dilempar ke manajemen, itu berat sekali. Saya sendiri juga tidak kuat kalau harus menanggung sendiri,” tambahnya.
Cik Liana juga menyebut perlunya dukungan lebih konkret dari pemerintah daerah. Meski ada dukungan moral, menurutnya klub membutuhkan realisasi bantuan yang lebih nyata.
“Kami butuh realisasi dukungan. Tapi saya juga paham, situasi sekarang tidak mudah,” ujarnya.
Seorang penonton menilai biaya parkir terasa janggal dibanding jumlah penonton yang hadir.
“Lebih mahal tiket parkir daripada jumlah penonton,” canda Budiarto (37) yang hadir di bangku stadion VIP ke Pandangan Jogja, Sabtu (11/4).
Kuota tiket juga kerap tak habis terjual. Pada laga kandang sebelumnya melawan Persijap Jepara, 13 Januari 2026, jumlah penonton tercatat 6.691 orang, masih di bawah kapasitas yang diizinkan.





