Investor Selektif di Tengah Gejolak, IPO Diproyeksi Bergeliat Semester II/2026

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Aktivitas penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di pasar modal Indonesia diperkirakan bergeliat lagi pada semester II/2026. Hal itu lantaran saat ini pasar masih berhati-hati menghadapi gejolak.

Head of research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto menilai bahwa volatilitas pasar global, ketidakpastian geopolitik, serta koreksi tajam pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan perusahaan untuk melakukan IPO.

“Valuasi menjadi kurang optimal bagi calon emiten di tengah tekanan pasar saat ini,” ujarnya, Jumat (10/4/2026).

Dari sisi internal, ia menambahkan adanya wacana penyesuaian ketentuan free float minimum serta fokus regulator terhadap peningkatan kualitas emiten turut memengaruhi kesiapan perusahaan.

Baca Juga : Mengukur Daya Serap Investor di Saham IPO Usai Pencatatan Perdana WBSA

Korporasi pun kini lebih berhati-hati dalam memastikan aspek tata kelola dan struktur permodalan sebelum masuk ke pasar publik.

Ke depan, arah pengembangan pasar modal Indonesia diperkirakan akan semakin menitikberatkan pada kualitas IPO dibandingkan sekadar kuantitas. Regulator dan bursa disebut telah mempertegas standar yang lebih tinggi, mulai dari persyaratan masuk entry requirement, porsi kepemilikan publik, transparansi pemegang saham pengendali, hingga kejelasan kebijakan exit.

“Langkah ini penting agar emiten yang masuk benar-benar siap menjadi perusahaan publik dalam jangka panjang,” jelasnya.

Di tengah fluktuasi pasar, minat korporasi untuk menghimpun dana melalui pasar modal sebenarnya masih terjaga. Namun, pendekatan yang diambil menjadi jauh lebih selektif. Perusahaan dengan fundamental kuat dan kebutuhan pendanaan jangka panjang seperti ekspansi, belanja modal (capex), hingga deleveraging, dinilai tetap melihat pasar modal sebagai opsi menarik.

Hal ini tidak terlepas dari keunggulan pasar modal yang menawarkan biaya dana relatif kompetitif serta peluang diversifikasi sumber pendanaan.

Untuk prospek ke depan, Rully memproyeksikan aktivitas IPO berpotensi kembali menggeliat pada semester II/2026. Namun, hal tersebut sangat bergantung pada sejumlah prasyarat, seperti stabilisasi sentimen global, kejelasan arah kebijakan domestik, serta pulihnya minat risiko atau risk appetite investor.

Dari sisi sektoral, pipeline IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini didominasi oleh perusahaan di sektor energi dan sumber daya, keuangan, infrastruktur, serta teknologi berbasis digital. Sektor-sektor tersebut dinilai memiliki daya tarik tinggi karena sejalan dengan kebutuhan pembiayaan jangka panjang dan transformasi ekonomi nasional.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Usai Viral Laporan Warga via JAKI Dibalas Foto AI, Pramono akan Kumpulkan Petugas PPSU Pekan Depan
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
DPR Soroti OTT Global, Dorong Skema Fair Share untuk Infrastruktur Digital di Indonesia
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
IDAI Angkat Suara Terkait Viral Evakuasi Bayi Hipotermia di Gunung Ungaran
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
IHSG Awal Pekan Uji Level 7.592, Cermati Saham AMMN hingga TLKM
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Periksa 5 Saksi, KPK Dalami Penerimaan Uang oleh Oknum KPP Banjarmasin
• 18 menit lalukompas.com
Berhasil disimpan.