Elektrifikasi Jadi Tantangan Rencana Penambahan Rangkaian KRL Tanah Abang-Rangkasbitung

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Pemerintah bersama KAI Commuter akan menambah jumlah kereta rel listrik atau KRL dalam satu rangkaian untuk lintas Tanah Abang-Rangkasbitung guna menambah kapasitas angkut. Dengan demikian, satu rangkaian yang sebelumny terdiri atas 8-10 kereta menjadi 12 kereta. Untuk itu, daya listrik dan sistem persinyalan akan ditingkatkan.

Vice President Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda, mengatakan, KAI Commuter akan menyiapkan fasilitas dan sarana pendukung lainnya untuk meningkatkan layanan commuter line Tanah Abang-Rangkasbitung agar dapat mengoperasikan 12 kereta atau Stamformasi/SF12. Stamformasi merupakan jumlah rangkaian kereta dalam satu perjalanan KRL.

“Pembangunan peron di stasiun-stasiun lingkas Rangkasbitung untuk melayani Commuter Line SF12 juga telah dilakukan,” ujar Karina secara tertulis di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Baca JugaKetika Swasta Ikut Merintis Simpul Transportasi Kawasan Urban

Selama ini, jumlah gerbong KRL rute Tanah Abang-Rangkasbitung berjumlah 8-10 kereta per rangkaian. Penambahan gerbong ini seiring dengan elektrifikasi jalur yang tengah disiapkan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub di jalur tersebut.

KAI Commuter telah menguji coba perjalanan Commuter Line dengan SF12 pada lintas Tanah Abang-Rangkasbitung. Upaya itu dilakukan untuk mengevaluasi keandalan sarana dan prasarana layanan perjalanan kereta.

Karina mengatakan, peningkatan prasarana perkeretaapian di lintas Tanah Abang-Rangkasbitung ditopang elektrifikasi jalur sepanjang 72,8 kilometer (km) pada 2017-2018. Frekuensi perjalanan meningkat dari 148 perjalanan per hari dari Tanah Abang hingga Serpong pada 2015. Pada 2026, jumlahnya bertambah menjadi 206 perjalanan hingga Stasiun Rangkasbitung.

Volume pengguna juga bertumbuh dari tahun ke tahun pada rute Tanah Abang-Rangkasbitung. Pada 2022, KAI Commuter mencatat 43,32 juta pengguna. Empat tahun kemudian, 2026, jumlahnya naik menjadi 77,55 juta pengguna. Sementara sepanjang Januari-Maret 2026, terdapat 20,2 juta pengguna.

“KAI Commuter akan terus berkolaborasi dengan Ditjen Perkeretaapian Kemenhub dalam proses pengembangan elektrifikasi jalur dan peningkatan prasarana ini,” kata Karina.

Baca JugaRangkaian Baru KRL yang Lebih Modern dan Nyaman

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi pada konferensi pers di Jakarta, Kamis (9/4/2026), menjelaskan rencananya untuk menambah kereta pada jalur hijau atau green line, Tanah Abang-Rangkasbitung. Upaya ini dilakukan agar pergerakan masyarakat dapat makin terakomodasi.

“Tanah Abang-Rangkasbitung ini, saya sudah minta ke Pak Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian supaya mengganti kereta yang lebih banyak lagi, sehingga kapasitas angkutnya lebih banyak. Namun, memang salah satu syaratnya adalah kami memperbaiki jaringan elektrifikasinya,” ujarnya.

Upaya ini dapat membantu mobilitas masyarakat sembari menanti pembangunan Moda Raya Terpadu (MRT) yang memakan waktu lebih lama. Dengan kapasitas kereta yang lebih besar dan elektrifikasi mumpuni, maka jeda waktu perjalanan (headway) dapat lebih singkat dan kapasitas angkut lebih besar.

“Saya sangat berharap elektrifikasi ini adalah solusi yang bisa kami kerjakan sesegera mungkin. Mohon kesabarannya karena (proyek ini) melibatkan dana, kemudian juga governance. Jadi agak bersabar sedikit,” kata Dudy.

Baca JugaKereta Baru Buatan INKA Debut di Lintasan KRL Jabodetabek

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Perkeretaapian Allan Tandiono mengatakan, dokumen perencanaan teknis Tanah Abang-Rangkasbitung untuk mengakomodasi kereta dengan formasi yang lebih panjang sedang disiapkan. “Untuk perencanaan teknis selesai pada semester I-2026 untuk Tanah Abang-Rangkasbitung,” katanya.

Kemenhub bersama KAI sebagai induk perusahaan KAI Commuter juga akan bekerja sama untuk memperpanjang rute KRL dari Cikarang ke Cikampek dan Sukabumi, Jawa Barat. Dokumen perencanaan teknis juga akan segera dimulai. Targetnya, dokumen tuntas pada 2026. Kemenhub akan bekerja sama dengan KAI dan PLN untuk mempercepat proses elektrifikasi.

Menentukan skala prioritas

Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia, Aditya Dwi Laksana, berpendapat, rangkaian KRL berisi 12 kereta hanya solusi jangka pendek untuk meningkatkan kapasitas angkut. Sebab, permasalahan utama terletak pada keterbatasan daya listrik di lintasan Tanah Abang-Rangkasbitung, serta sistem persinyalan yang masih sistem petak.

“Jadi di lintas ini, daya listrik dan juga sistem persinyalan harus ditingkatkan terlebih dahulu. Jumlah pelintasan sebidang dengan jalan raya perlu dikurangi secara bertahap, agar kecepatan KRL dapat lebih stabil dan mempersingkat waktu tempuh,” tuturnya.

Baca JugaPengguna KRL Diprediksi 550.000 Orang Per Hari di Akhir Tahun

Pemerintah juga perlu membangun gardu-gardu listrik tambahan untuk meningkatkan pasokan daya listrik, agar jeda antarperjalanan KRL dapat dikurangi hingga kurang dari 10 menit sekali guna meningkatkan frekuensi perjalanan. Selain itu, pergantian sistem persinyalan ke sistem blok juga diperlukan agar jarak antar-KRL dapat lebih rapat.

Menanggapi rencana pemerintah untuk memperpanjang cakupan KRL ke Cikampek, bahkan Sukabumi setelah sebelumnya juga ada wacana ke Merak, Banten, Aditya menilai hal ini patut diapresiasi. Alasannya, elektrifikasi jalur KA dan pengoperasian KRL mendorong transportasi ramah lingkungan, efisiensi konsumsi bahan bakar minyak, serta optimasi operasional KA.

Meski demikian, Aditya menilai, pemerintah perlu menetapkan skala prioritas karena selama ini pengembangan hanya berkutat pada area Jakarta dan sekitarnya. Operasional KRL di luar Jabodetabek hanya ada di ruas Yogyakarta-Solo.

Dengan demikian, aglomerasi perkotaan lainnya seperti Surabaya dan Bandung, serta ruas Yogyakarta-Kutoarjo, belum tersentuh elektrifikasi. Padahal, daerah-daerah itu mendesak dikembangkan. Apalagi pertumbuhan penduduk dan perkembangan wilayah aglomerasi sudah pesat.

“Sehingga dalam kondisi keterbatasan fiskal, skala prioritas tetap diperlukan. Utamakan dulu yang lebih mendesak di luar jaringan Jakarta, seperti elektrifikasi angkutan KA perkotaan di Surabaya dan Bandung, serta revitalisasi angkutan KA perkotaan di Semarang, Medan, Palembang, dan Malang,” ujar Aditya.

Baca JugaTransportasi Rel Makin Diandalkan Warga Jabodetabek

Sejalan dengan peningkatan mobilitas dan pertumbuhan penduduk, masih menurut Aditya, pangsa pasar wilayah-wilayah yang belum tersentuh elektrifikasi sudah terbentuk. Daerah itu juga siap digarap karena sudah memiliki infrastruktur dasar, antara lain prasarana eksistingnya.

”Setelah tahapan itu dilakukan, baru pembangunan elektrifikasi ke Cikampek, Merak, dan Sukabumi ideal dilakukan. Sebab, sistem angkutan KA perkotaan di ketiga wilayah ini dapat ditingkatkan menggunakan sarana kereta rel diesel terlebih dahulu, sebelum ke arah elektrifikasi dan operasional KRL,” tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Biaya Hidup Naik, Kelas Menengah Pilih Stabilitas Keuangan
• 1 jam laluherstory.co.id
thumb
Bertolak Ke Rusia, Prabowo dan Putin Akan Bahas Kerja Sama Energi
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Jadwal dan Cara Unduh Kartu Peserta UTBK SNBT 2026, Begini Tahapannya
• 20 jam laludisway.id
thumb
Presiden Prabowo Tiba di Moskow Perkuat Kemitraan Strategis
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Mahasiswa Calon Pastor Tenggelam di Air Terjun Situmurun, Ibu Histeris di Tepi Danau Toba
• 4 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.