Kasus di Gunung Ungaran, Dokter Ungkap Alasan Balita Rawan Kena Hipotermia

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Sebuah video seorang anak balita berusia 1,5 tahun mengalami hipotermia saat diajak kedua orang tuanya mendaki Gunung Ungaran, Jawa Tengah viral di media sosial. Untungnya, anak tersebut berhasil diselamatkan berkat gerak cepat Tim SAR Semarang.

Saat kejadian, balita asal Tembalang, Semarang itu diketahui mendaki bersama ayah dan ibunya. Mereka berhasil mencapai puncak sekitar pukul 14.00 WIB.

Balita tersebut terus menangis dan menunjukkan tanda-tanda kedinginan ekstrem.

Lantas, seberapa bahaya bayi atau balita diajak mendaki gunung dan bagaimana dampaknya terhadap si bayi? Ini penjelasan dokter.

dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, SpB menegaskan balita sangat rentan mengalami hipotermia saat berada di kawasan pegunungan, terutama pada lokasi dengan suhu dingin, lembap, dan berada di ketinggian tertentu.

Ia menyoroti kasus balita yang mengalami hipotermia saat pendakian di Gunung Ungaran. Menurutnya, risiko hipotermia pada balita jauh lebih tinggi dibanding orang dewasa.

“Naik gunung saja sudah punya potensi hipotermia. Apalagi balita dibawa ke tempat tinggi dan lembap, tentu risikonya bisa dua kali lipat,” ujarnya saat dihubungi kumparan pada Senin (13/4).

Iqbal menjelaskan, balita dan bayi memiliki daya tahan tubuh yang belum sempurna sehingga lebih mudah terserang gangguan kesehatan. Selain suhu dingin, kondisi pegunungan juga berisiko memicu infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), alergi akibat serbuk tumbuhan, serta dehidrasi.

“Kulit bayi lebih tipis dibanding orang dewasa, sehingga udara dingin lebih mudah masuk ke tubuh. Kebutuhan cairan mereka juga lebih tinggi,” lanjutnya.

Ia menilai balita usia 1,5 tahun belum ideal diajak mendaki gunung, terlebih ke kawasan dengan ketinggian lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut.

“Belum saatnya dia naik gunung seperti itu. Risiko hipotermianya bisa tiga sampai empat kali lebih besar,” jelasnya.

Tanda Hipotermia pada Bayi

Menurut Iqbal, salah satu tanda hipotermia pada bayi adalah menangis terus-menerus. Jika tangisan masih keras dan melengking, kondisi umumnya masih stabil. Namun bila suara tangisan melemah, hal itu perlu diwaspadai sebagai tanda kondisi memburuk.

Ia menambahkan, penanganan cepat sangat penting untuk mencegah risiko fatal. Balita yang mengalami hipotermia harus segera dihangatkan, dibungkus dengan pelindung seperti aluminium foil atau selimut hangat, diberikan ASI atau cairan hangat, lalu segera dibawa turun ke lokasi yang lebih hangat.

“Kalau hipotermia berat bisa mengganggu listrik jantung dan berisiko menyebabkan kematian bila terlambat ditangani,” ujarnya.

Terkait usia aman anak untuk dikenalkan pada kegiatan alam bebas, Iqbal menyarankan anak sebaiknya sudah mampu berjalan, makan dan minum sendiri, serta bisa menyampaikan keluhan dengan jelas.

“Minimal saat anak sudah lebih mandiri, misalnya usia sekolah dasar awal. Jadi kalau ada masalah, anak bisa memberi kode dengan jelas, bukan hanya menangis,” katanya.

Ia juga mengingatkan orang tua agar tidak membawa anak ke lokasi dengan ketinggian di atas 2.000 mdpl, memilih jalur wisata yang mudah dievakuasi, memiliki akses kendaraan, fasilitas kesehatan, serta kondisi cuaca yang bersahabat.

Selain itu, perlengkapan anak harus lebih lengkap dibanding orang dewasa, termasuk jaket hangat, makanan bergizi, dan asupan cairan yang cukup selama perjalanan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Minyak Tembus USD100/Barel Usai Diplomasi AS–Iran Buntu
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Banyak kompetisi lahirkan banyak pemain hebat
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Arab Saudi Memberlakukan Izin Masuk Elektronik ke Makkah pada Musim Haji Tahun Ini
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Deng Kai Diserbu Fans, Dari Pangeran Sadis ke Kisah Cinta Lama
• 20 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Jangan Cuma Cari Benjolan, Ini 8 Tanda Kanker Payudara yang Sering Tak Disadari
• 20 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.