JAKARTA, KOMPAS.TV - Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan masyarakat mengenai potensi kembalinya wabah pes di Indonesia.
Meski dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia, peneliti BRIN Ristiyanto menjelaskan adanya fenomena silent period, yaitu kondisi ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, namun masih memiliki potensi untuk kembali muncul.
"Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali," katanya, Senin (13/4/2026), dikutip Antara.
Ristiyanto mengatakan pes diduga masih berada dalam fase tersebut. Hal ini diperkuat dengan temuan adanya bakteri penyebab penyakit, serta vektor dan reservoir seperti pinjal dan tikus yang masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.
Baca Juga: Mengenal Virus Nipah: Asal-usul, Cara Penularan, Gejala, dan Langkah Pencegahan
Dengan kata lain, meski tidak ada laporan kasus pada manusia, potensi penularan masih tetap ada di lingkungan tertentu.
Perubahan Lingkungan Jadi Pemicu Risiko
Menurut BRIN, faktor lingkungan menjadi salah satu pemicu penting yang dapat memunculkan kembali penyakit ini.
Beberapa perubahan lingkungan yang memengaruhi risiko tersebut antara lain:
- Deforestasi
- Alih fungsi lahan
- Pertumbuhan penduduk
Kondisi tersebut mengganggu keseimbangan ekosistem dan membuat habitat tikus semakin mendekat ke area permukiman manusia.
Penulis : Ade Indra Kusuma Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Antara
- wabah pes
- perubahan iklim
- silent period
- pinjal
- tikus
- kasus pes di indonesia





