Rentetan gempa bumi beruntun di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dalam beberapa hari terakhir, mengingatkan pentingnya membuat bangunan dengan konstruksi tahan gempa. Konsep bangunan tahan gempa itu sudah ada, tetapi dilupakan warga yang bermukim di daerah rawan gempa tersebut.
Dekan Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang, Don Gaspar da Costa, mengatakan, Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Sikka pernah dilanda gempa besar pada tahun 1992. Gempa itu diikuti tsunami yang menewaskan ribuan orang.
"Setelah gempa itu, kami membuat panduan untuk membangun bangunan yang tahan gempa. Tahan gempa itu bukan berarti tidak rusak, tetapi proses kerusakan itu tidak langsung cepat dan mencelakakan penghuninya," kata Don saat dihubungi melalui telepon, Senin (13/4/2026).
Terkait banyaknya rumah yang rusak akibat gempa beruntun sepekan terakhir di Flores Timur, Don menyatakan, wilayah tersebut memang tergolong rawan gempa. Oleh karena itu, bangunan yang dibangun di sana seharusnya menggunakan konstruksi tahan gempa.
Akan tetapi, Don menuturkan, banyak warga mengabaikan konstruksi tahan gempa ketika membangun rumah. Alasan klasik yang kerap terdengar adalah keterbatasan uang untuk membangun rumah. "Selain itu, pengetahuan mengenai ancaman bencana juga minim," ujarnya.
Hal yang sama juga ditemukan dalam proyek infrastruktur pada sejumlah bangunan milik pemerintah. Konstruksi tahan gempa kerap diabaikan sehingga kualitas bangunan pun menjadi berkurang.
Rentetan gempa bumi di Flores Timur berawal dari gempa pertama yang terjadi pada Kamis (9/4/2026) pukul 00.17 Wita. Pusat gempa dengan Magnituo 4,7 itu berada pada koordinat 8,36 derajat Lintang Selatan dan 123,15 derajat Bujur Timur.
Pusat gempa itu berlokasi di darat pada jarak 21 kilometer arah tenggara Larantuka, ibu kota Flores Timur. Berdasarkan peta gempa yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa itu berada di ujung timur Pulau Solor dan sisi selatan Pulau Adonara.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi ini merupakan gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar aktif," kata Kepala Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastam.
Menurut data BMKG, gempa bumi tersebut dirasakan getarannya di seluruh wilayah Flores Timur dengan skala intensitas III-IV MMI. Masyarakat di kabupaten terdekat, yakni Lembata, juga merasakan gempa itu dengan getaran yang dirasakan seperti ada truk berlalu.
Setelah gempa pertama itu, terjadi ratusan kali gempa susulan. Berdasarkan laporan Stasiun Geofisika Kupang, hingga Senin (13/4) ini, sudah terjadi 120 kali gempa susulan. Dari jumlah itu, terdapat enam gempa yang dirasakan guncangannya oleh masyarakat.
Rentetan gempa itu menyebabkan potensi kerusakan bangunan meningkat. Demi keselamatan, warga pun memilih beraktivitas di luar bangunan. Hal itu juga dilakukan dalam aktivis belajar mengajar di sekolah.
"Kami tidak tahu kapan kondisi ini akan berakhir. Kami hidup dengan penuh ketakutan. Tidur pun tidak tenang," kata Bento Masan (34), warga Kelurahan Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur, saat dihubungi melalui telepon pada Senin ini.
Menurut Bento, rumah warga yang rusak pada gempa pertama kini mengalami kerusakan yang kian parah. Bahkan, rumah yang tidak rusak akibat gempa pertama pun mulai mengalami retak-retak setelah terjadinya gempa susulan beberapa kali.
Dengan kondisi itu, Bento berharap, pemerintah menambah bantuan tenda darurat untuk menampung warga yang beraktivitas di luar rumah. Apalagi, kondisi cuaca saat ini diwarnai panas terik pada siang hari dan dingin pada malam hari.
Ia juga mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur agar mendata ulang bangunan yang rusak. Sebab, banyak bangunan yang awalnya rusak sedang, tetapi kini menjadi rusak berat. Ada juga bangunan yang awalnya tidak rusak, tetapi kemudian mengalami rusak ringan dan sedang.
Ahmad Taher (40), warga lainnya, menambahkan, di sejumlah sekolah, kegiatan belajar mengajar pun berlangsung di luar ruangan. Salah satunya di SD Inpres Bilal, Kecamatan Adonara Timur. Hal itu dilakukan karena warga khawatir gempa susulan merobohkan bangunan sekolah.
Di sekolah itu, kata Ahmad, pembelajaran dilakukan di bawah pohon. Namun, ketika panas terik, pembelajaran terpaksa dihentikan. "Ini juga jadi pelajaran agar bangunan yang dirancang haruslah tahan gempa. Contohnya bangunan yang menggunakan kayu sebagai konstruksi," katanya.
Berdasarkan data pemerintah, gempa dangkal yang terjadi berulang kali di Flores Timur itu menyebabkan 257 bangunan rusak serta 1.663 warga dari 10 desa mengungsi.
Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur Maria Goretty AC Nebo Tukan, menyebut, ada dua kecamatan yang terdampak gempa itu.
Kami tidak tahu kapan kondisi ini akan berakhir. Kami hidup dengan penuh ketakutan. Tidur pun tidak tenang
Keduanya adalah Kecamatan Adonara Timur dengan tujuh desa/kelurahan terdampak dan Kecamatan Solor Timur dengan tiga desa terdampak. Jumlah pengungsi di Adonara Timur sebanyak 1.240 jiwa, sedangkan di Solor Timur sebanyak 423 jiwa. Adapun 257 bangunan dilaporkan rusak.
Maria mengatakan, beberapa jam setelah gempa bumi pertama, bantuan untuk pengungsi sudah dibagikan. Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen pun disebut langsung mendatangi lokasi bencana dan telah mengumumkan status tanggap darurat selama 14 hari.
Bantuan yang sudah disalurkan itu, antara lain, tenda dalam berbagai ukuran, kasur lipat, tikar, perlengkapan kesehatan, senter dan beras. Selain BPBD, personel gabungan dari TNI dan Polri juga terlibat dalam upaya tanggap darurat.
Namun, masih banyak kebutuhan pengungsi yang belum terpenuhi, seperti air bersih, perlengkapan balita, popok dewasa, tandu, kursi roda, makanan balita, dan perlengkapan mandi. Oleh karena itu, bantuan dari pemerintah pusat maupun pihak lain sangat dibutuhkan.
Apalagi, perhatian pemerintah daerah saat ini masih tercurah kepada pengungsi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang juga berada di Flores Timur. Ribuan pengungsi yang tinggal di hunian sementara itu masih terus didampingi. Pembangunan hunian pun masih berproses.





