Kelas Menengah Terjepit! 66% Mengaku Alami Kesulitan Finansial Karena Biaya Hidup Naik

wartaekonomi.co.id
5 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sebanyak 66% masyarakat kelas menengah Indonesia berada dalam kondisi tertekan secara finansial di tengah kenaikan biaya hidup, ketidakpastian pendapatan, dan tingginya biaya kesehatan, sehingga mendorong perubahan prioritas dari pertumbuhan aset menjadi menjaga stabilitas keuangan.

Temuan tersebut terungkap dalam Consumer Outlook Survey FWD Group yang dilakukan bersama Ipsos terhadap lebih dari 1.000 responden kelas menengah berusia 21-65 tahun di Indonesia pada Oktober 2025.

Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance Rudy F. Manik mengatakan tekanan finansial yang semakin kompleks memaksa masyarakat mengubah cara mereka mengelola keuangan.

“Setiap generasi menghadapi tekanan dan memiliki prioritas finansial yang berbeda di setiap tahapan kehidupannya. Melalui FWD consumer outlook survey, kami ingin memahami kondisi, kebutuhan, dan kesenjangan perlindungan masyarakat kelas menengah secara lebih mendalam,” ujar Rudy di Jakarta, Senin (13/4/2026).

Survei menunjukkan bahwa kenaikan biaya hidup menjadi faktor utama yang menekan kondisi finansial kelas menengah dengan porsi 70% responden. Faktor lain yang turut memperburuk kondisi adalah ketidakpastian pendapatan sebesar 43% serta tingginya biaya kesehatan sebesar 40%.

Rudy menilai tekanan tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi keuangan jangka pendek, tetapi juga kesiapan jangka panjang masyarakat.

“Banyak individu yang belum sepenuhnya siap untuk menghadapi implikasi finansial dari usia hidup yang lebih panjang di tengah meningkatnya biaya kesehatan,” ujarnya.

Perubahan kondisi ini tercermin dari pergeseran perilaku keuangan masyarakat. Kelas menengah kini lebih fokus menjaga arus kas dan memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, dibandingkan mengejar pertumbuhan investasi atau akumulasi aset.

Di sisi lain, survei juga mengungkap adanya kesenjangan antara ekspektasi usia hidup dan kesiapan finansial. Rata-rata responden memperkirakan dapat hidup hingga usia 79 tahun, namun tabungan yang dimiliki hanya cukup menopang sekitar 19 tahun setelah pensiun.

Kondisi tersebut berpotensi semakin menekan keuangan rumah tangga, terutama dengan adanya risiko penurunan kesehatan selama dua hingga empat tahun di masa tua yang dapat meningkatkan beban biaya.

Baca Juga: 86 Juta Warga Masuk Kelas Menengah Transisi, Mandiri Institute: Lapangan Kerja Berkualitas Kunci Dorong Resiliensi

Baca Juga: Perang Ancam Krisis Keuangan Dunia, Ini Aset yang Bisa Diborong

Dari sisi demografi, tekanan finansial juga menunjukkan karakteristik berbeda antar generasi. Generasi Z lebih berfokus pada pencapaian kemandirian finansial, sementara Generasi Y menghadapi tekanan sebagai sandwich generation yang harus menopang kebutuhan keluarga. Adapun Generasi X cenderung memprioritaskan stabilitas jangka panjang serta kesiapan pensiun.

FWD menilai temuan ini mencerminkan adanya kesenjangan perlindungan finansial di kalangan kelas menengah yang perlu diantisipasi melalui peningkatan literasi serta perencanaan keuangan yang lebih terstruktur.

“Hasil survei ini semakin memperkuat komitmen kami untuk menempatkan kebutuhan pelanggan sebagai pusat dari segala hal yang kami lakukan dengan dukungan teknologi,” kata Rudy.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bantuan Jaminan Hidup Terus Mengalir, Begini Cara Satgas PRR Jaga Penyalurannya
• 1 menit lalukumparan.com
thumb
Trump Kecam Paus Leo XIV Usai Kritik Kebijakan AS terhadap Iran
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Kode! Giorgino Abraham Cari Pacar Lagi Usai Putus dari Yasmin Napper
• 2 jam lalugrid.id
thumb
Polrestabes Medan Ungkap Peredaran 50 Kg Sabu dari Thailand
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
28 Merek Permen Populer yang Mengandung Arsenik di AS
• 1 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.