Emiten Prajogo TPIA Balik Rugi Jadi Laba, Melonjak jadi RP 18 T Apa Pemicunya?

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Kinerja emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu PT Chandra Asri Tbk (TPIA) melesat pada tahun buku 2025. Di antara emiten-emiten dalam grup Prajogo, TPIA tampil paling mencolok dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 18,22 triliun, berbalik dari posisi rugi Rp 1,1 triliun pada tahun sebelumnya. 

Dengan capaian tersebut, lonjakan kinerja TPIA mencapai sekitar 1.756% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sejalan dengan itu, pendapatan bersih TPIA juga melonjak signifikan sebesar 293,2% yoy menjadi US$ 7,02 miliar hingga akhir 2025. Kenaikan ini mencerminkan perubahan struktur bisnis yang semakin terdiversifikasi.

Kontributor terbesar berasal dari segmen energi yang melesat sangat signifikan hingga 31.984,6% yoy menjadi US$ 3,66 miliar. Selain itu, segmen kimia turut mencatat pertumbuhan 92,1% yoy menjadi US$ 3,24 miliar, sedangkan segmen infrastruktur naik 35,4% yoy menjadi US$ 121,2 juta.

Manajemen menyebut capaian tersebut mencerminkan kekuatan platform bisnis terintegrasi TPIA serta disiplin dalam eksekusi strategi. Perseroan terus berfokus pada tiga pilar utama, yakni energi, kimia, dan infrastruktur, dengan keberlanjutan sebagai inti pertumbuhan jangka panjang.

“Chandra Asri Group menyampaikan flash earnings update, dengan mencatatkan EBITDA kuartalan tertinggi sepanjang sejarah sebesar USD 421 juta dan Laba Bersih sebesar USD 205 juta pada Kuartal I 2026,” tulis manajemen TPIA seperti dikutip Senin (13/4). 

Perusahaan menjelaskan kinerja ini didorong oleh performa kilang yang kuat dan strategi pengadaan bahan baku yang optimal. Selain itu perusahaan meyakini eksekusi transformasi Grup menjadi pemain industri regional yang terdiversifikasi di Asia Tenggara berjalan dengan lancar. 

Di segmen energi, perseroan mempercepat transformasi melalui integrasi Aster Chemicals and Energy (ACE), yang sebelumnya dikenal sebagai Shell Energy & Chemicals Park. Aset tersebut diakuisisi bersama Glencore dan diharapkan memperkuat jalur dekarbonisasi serta ambisi keberlanjutan jangka panjang TPIA.

Selain itu, ekspansi regional juga dilakukan melalui akuisisi jaringan ritel bermerek Esso milik ExxonMobil di Singapura, yang memperluas basis pendapatan sekaligus memperkuat posisi TPIA di kawasan Asia Tenggara.

Dari sisi keuangan, perusahaan juga menjaga fleksibilitas yang cukup kuat. Dalam keterbukaan tersebut disebutkan bahwa “Grup juga mempertahankan likuiditas yang solid sebesar USD 3,8 miliar, mendukung ketahanan operasional dan fleksibilitas strategis.”

Di sisi operasional, TPIA juga menjalankan sejumlah inisiatif strategis, termasuk pemeliharaan terjadwal atau turnaround maintenance (TAM) pada fasilitas petrokimia di Cilegon. Selain itu, perseroan meningkatkan kapasitas produksi pabrik Butene-1 (B1) dan Methyl Tert-butyl Ether (MTBE) sebesar 25%.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk mempercepat substitusi impor sekaligus memperkuat ketahanan industri petrokimia nasional. Dengan kombinasi ekspansi agresif, integrasi aset strategis, serta perbaikan operasional, TPIA kini memasuki fase baru pertumbuhan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tersesat akibat Cuaca Buruk, 2 Wanita Pendaki Gunung Lawu asal Ngawi Dievakuasi
• 14 jam lalurctiplus.com
thumb
Bupati Bogor tegaskan jabatan ASN diisi berdasarkan kompetensi
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Ada Penyesuaian Mulai Hari Ini, Cek Jam Operasional Terbaru TMII
• 9 jam laludetik.com
thumb
Korlantas Tilang 582 Truk Sumbu Tiga yang Bandel Selama Musim Mudik Lebaran
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Bank Sentral Singapura Siapkan Kebijakan Respons Gejolak di Timur Tengah
• 13 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.