Bank Sentral Singapura Siapkan Kebijakan Respons Gejolak di Timur Tengah

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Bank sentral Singapura menyiapkan kebijakan untuk merespons meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah yang mulai memberi tekanan pada inflasi dan prospek pertumbuhan ekonomi global.

Menurut laporan Bloomberg, Otoritas Moneter Singapura (MAS) mengisyaratkan kemungkinan penyesuaian kebijakan dalam tinjauan terbarunya, seiring lonjakan harga energi akibat konflik yang terus memanas. Kenaikan biaya impor, khususnya energi, dinilai berpotensi mendorong inflasi melampaui proyeksi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Sebagai negara yang hampir sepenuhnya bergantung pada impor energi, Singapura menjadi salah satu ekonomi yang paling rentan terhadap gejolak harga minyak dan gas. Dampaknya mulai terasa melalui kenaikan biaya transportasi, listrik, serta logistik, yang pada akhirnya membebani pelaku usaha dan konsumen.

Pemerintah Singapura sebelumnya telah memperingatkan pertumbuhan ekonomi tahun ini kemungkinan akan melambat. Bahkan, beberapa proyeksi menunjukkan kontraksi ekonomi dalam jangka pendek akibat tekanan eksternal yang meningkat.

Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, juga mengingatkan dampak konflik bisa lebih buruk dari yang diperkirakan pasar. “Saya cukup yakin pasar belum sepenuhnya memperhitungkan skenario terburuk,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Sebagai informasi, pada hari Selasa (14/4), Kementerian Perdagangan juga akan merilis kinerja ekonomi pada kuartal pertama setelah Singapura memperingatkan pertumbuhan ekonomi akan terdampak tahun ini.

Para ekonom memperkirakan produk domestik bruto Singapura menyusut 1% dalam tiga bulan pertama dibandingkan kuartal keempat. Secara tahunan, ekonomi negara tersebut diperkirakan tumbuh 5,9%.

Bank Sentral Singapura akan Revisi Prospek Inflasi

MAS, yang mengadakan empat tinjauan kebijakan setiap tahun, telah mengisyaratkan akan memperbarui prospek inflasi, ini dianggap sebagai sinyal yang menurut ekonom dapat mengindikasikan langkah kebijakan. Inflasi inti tahun ini kemungkinan berada di 1,9% menurut median survei, yang berada di batas atas proyeksi pemerintah pada Februari.

Berbeda dengan sebagian besar bank sentral yang menggunakan suku bunga, Singapura menjaga stabilitas harga jangka menengah dengan mengelola mata uangnya terhadap sekeranjang mata uang berbobot perdagangan dalam kisaran target yang tidak diungkapkan.

Dolar Singapura telah melemah terhadap dolar AS sejak perang di Iran dimulai. Meski demikian, kinerjanya masih lebih baik dibandingkan mata uang negara-negara Asia Tenggara lainnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ramalan Rebound Aset Kripto pada Kuartal II/2026
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Alhamdulillah, 15.000 Paket Sembako dari Indonesia Tiba di Gaza
• 32 menit lalujpnn.com
thumb
Efisiensi Logistik, Pemerintah Dorong Pemanfaatan Angkutan Rel & Penyeberangan
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Mensos Mulai Bahas Penebalan Bansos dengan Presiden Meski Ada Efisiensi Anggaran
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Muktamar XXI Mathlaul Anwar Resmi Dibuka, Menag Tegaskan Pentingnya Peran Organisasi Keagamaan
• 21 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.