Harga Plastik Melonjak, Produsen Minuman Mulai Kembali ke Kemasan Kaca

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi Lukman, mengungkapkan industri makanan dan minuman tengah menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga plastik yang disertai kelangkaan pasokan.

Kondisi ini tidak hanya membebani biaya produksi, tetapi juga mulai mengubah strategi pelaku usaha, termasuk produsen minuman yang mempertimbangkan kembali penggunaan kemasan kaca.

Adhi menjelaskan, plastik merupakan komponen vital bagi hampir seluruh produk industri makanan dan minuman. Mulai dari kemasan sederhana hingga produk olahan, ketergantungan terhadap plastik sangat tinggi sehingga setiap gejolak harga langsung berdampak luas.

Dia menyebutkan, situasi saat ini tergolong rumit karena masalah tidak hanya datang dari sisi harga, tetapi juga ketersediaan bahan baku. Sejumlah pemasok bahkan dilaporkan mulai kehabisan stok dalam waktu dekat.

“Selain harga naik, juga ketersediaannya terbatas,” ujar Adhi kepada wartawan di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Senin (13/4).

Kenaikan harga plastik sendiri disebut sangat signifikan dan bervariasi di lapangan. Berdasarkan laporan dari anggota GAPMMI, lonjakan harga mencapai 30 persen hingga 100 persen, tergantung jenis dan peruntukan plastik tersebut.

“Kenaikannya ada yang sampai 100 persen bahkan. Rata-rata ada yang 30, 60, bahkan ada yang sampai 100 persen,” kata dia.

Dia mencontohkan, untuk kemasan sederhana seperti plastik pembungkus bakso atau produk daging beku, kenaikan harga bisa mendekati 100 persen. Sementara itu, industri tidak memiliki ruang yang cukup untuk menaikkan harga jual produk secara sebanding.

Dalam struktur biaya produksi, kemasan memiliki kontribusi yang cukup besar, yakni sekitar 20–25 persen dari total harga pokok. Dengan kenaikan harga plastik yang tinggi, dampaknya terhadap biaya produksi menjadi sangat signifikan.

Adhi menggambarkan, jika kontribusi kemasan sebesar 20 persen dan terjadi kenaikan harga hingga 60 persen, maka biaya produksi otomatis naik sekitar 12 persen. Namun, di sisi lain, kenaikan harga jual produk di pasar tidak bisa mengikuti angka tersebut.

“Katakan misalnya kalau kontribusi kemasan itu 20 persen. Kalau harganya naik 60 persen saja berarti kan sekitar 12 persen. Harganya, harga pokoknya naik. Kalau kita bisa naikkan harga jualnya 5 persen berarti kan tekornya sudah 7 persen,” jelasnya.

Kondisi ini membuat margin keuntungan industri tergerus dan berpotensi menekan kinerja pelaku usaha. Bahkan, dalam beberapa kasus, pelaku industri harus menanggung kerugian karena tidak mampu menyesuaikan harga jual dengan cepat.

Di pasar, dampak kenaikan biaya kemasan mulai terlihat. Sejumlah produk kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga, meskipun bukan berasal dari kenaikan bahan utama, melainkan dari biaya kemasan plastik yang meningkat.

Adhi menyebutkan, produk seperti beras, minyak goreng, hingga berbagai makanan olahan ikut terdampak karena hampir semuanya menggunakan kemasan plastik.

“Semua kan pakai plastik semua. Itu bukan barang yang naik tapi kemasannya yang naik,” ujarnya.

Di tengah tekanan tersebut, industri juga menghadapi keterbatasan pasokan dari dalam negeri. Produksi plastik domestik disebut mengalami penurunan, salah satunya karena ketergantungan pada bahan baku impor.

Adhi mengungkapkan, kapasitas produksi industri hulu plastik dalam negeri bahkan sempat turun hingga sekitar 30 persen. Hal ini semakin mempersempit ruang gerak industri hilir yang bergantung pada pasokan tersebut.

Untuk mengatasi kekurangan, pelaku industri terpaksa mengandalkan impor. Namun, langkah ini juga tidak mudah karena dipengaruhi kondisi global serta rantai pasok yang belum sepenuhnya pulih.

Dalam situasi yang semakin menekan, pelaku usaha mulai mencari alternatif kemasan lain. Salah satu yang kembali dilirik adalah kemasan kaca, yang sebelumnya banyak ditinggalkan karena pertimbangan efisiensi dan biaya.

Adhi mengungkapkan, sejumlah produsen minuman yang sebelumnya beralih dari kaca ke plastik kini mulai mempertimbangkan kembali penggunaan kaca sebagai solusi atas kelangkaan plastik.

“Beberapa produsen minuman plastik misalnya yang dulu kaca berubah jadi plastik sekarang sedang memikirkan kembali ke kaca,” kata dia.

Menurutnya, langkah ini bukan semata pilihan strategis jangka panjang, melainkan respons terhadap kondisi darurat akibat terbatasnya pasokan plastik di pasar.

Selain beralih ke kaca, industri juga berharap adanya solusi dari sisi penguatan rantai pasok plastik, termasuk melalui peningkatan impor bahan baku serta pengembangan industri daur ulang dalam negeri.

Adhi menilai, plastik hasil daur ulang yang memenuhi standar food grade dapat menjadi alternatif penting untuk menjaga keberlanjutan produksi. Saat ini, beberapa pabrik dalam negeri sudah mampu memproduksi plastik jenis tersebut, namun kapasitasnya masih terbatas.

Ia mendorong agar kapasitas produksi plastik daur ulang dapat ditingkatkan, baik melalui pemanfaatan limbah domestik maupun impor bahan baku sampah plastik dari luar negeri.

“Kita juga berharap industri recycle bisa ditingkatkan produksinya,” ujarnya.

Di tengah ketidakpastian ini, GAPMMI memilih untuk tidak memberikan proyeksi kinerja industri makanan dan minuman hingga akhir tahun. Fokus utama saat ini adalah mencari solusi agar tekanan biaya tidak semakin memburuk.

Adhi menegaskan, kondisi yang dihadapi industri saat ini tergolong berat dan membutuhkan respons cepat dari berbagai pihak, termasuk pemerintah.

Ia berharap ada langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan baku, sehingga industri dapat terus beroperasi tanpa harus menanggung beban yang semakin besar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Emiten Prajogo TPIA Balik Rugi Jadi Laba, Melonjak jadi RP 18 T Apa Pemicunya?
• 2 jam lalukatadata.co.id
thumb
Cara Kepercayaan Diri di Tempat Kerja
• 12 jam lalubeautynesia.id
thumb
Motor Tabrak Truk Tronton di Pantura Batang, 2 Tewas
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Denza D9 Tabrak  Separator Busway di Slipi, Lalu Lintas Macet
• 11 jam laluokezone.com
thumb
2.019 ASN Ikuti Seleksi Komcad, Siap Jalani Latihan Menembak
• 4 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.