Pakar Lingkungan Ungkap Fakta Pilu Dampak Kabut Asap Karhutla

jpnn.com
1 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, PALANGKARAYA - Pakar Lingkungan Universitas Palangka Raya (UPR), Ir. Aswin Usup, M.Sc, Ph.D., mengungkap fakta pilu dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Menurutnya, dampak Karhutla sangat merusak mimpi-mimpi generasi muda, warga desa sekitar hutan.

BACA JUGA: Dalang Karhutla di Bengkalis Ditangkap, AKBP Fahrian: Kami Pasti Tegas

Aswin Usup mengungkap temuan riset mendalam timnya bahwa manusia yang terpapar asap kebakaran hutan secara berulang mengalami perubahan struktur paru-paru sebagai upaya adaptasi terhadap lingkungan.

Tubuh melakukan adaptasi yang menyedihkan: paru-paru mengurangi volume udara yang masuk agar asap yang terserap tidak terlalu banyak. Kapasitas tampung berkurang secara signifikan dan membuat kekuatan fisik korban paparan asap karhutla tidak pernah bisa optimal.

BACA JUGA: Rapat Koordinasi Karhutla 2026, Menhut Bakal Tindak Tegas Pembukaan Lahan dengan Membakar Hutan

“Jadi, jangan harap ada atlet kaliber dunia dari Kalimantan kalau karhutla dibiarkan,” kata Aswin Usup menyinggung bencana kabut asap nasional 1989 dan 2019 yang melanda hutan Kalimantan dan Sumatera.

Pakar mempelajari gambut hingga Hokkaido University, Jepang itu menyatakan dampak tersebut jauh lebih fatal bagi anak-anak.

BACA JUGA: Dalang Karhutla Seluas 500 Hektare di Pelalawan Ditangkap Polisi, Tak Diberi Ampun

Secara alami, paru-paru balita (usia 1–5 tahun) hanya memiliki kapasitas 0,5 hingga 1,5 liter, dan anak usia sekolah sekitar 2 hingga 4 liter. Masa kanak-kanak adalah waktu krusial bagi kantong-kantong udara (alveoli) untuk tumbuh pesat.

Paparan partikel halus (PM2.5) dari asap yang menembus hingga ke alveoli memicu peradangan kronis. Jaringan paru-paru yang seharusnya elastis berubah menjadi kaku (fibrosis) untuk membentengi diri dari polusi.

Akibatnya, pertumbuhan paru-paru anak 'terkunci' atau kerdil sejak dini. Mereka memulai hidup dewasa dengan kapasitas napas yang sudah cacat secara permanen.

Tragedi kabut asap bisa berulang karena penanganan di lapangan sering terlambat. Di antara pangkal masalahnya yakni anggaran yang tertahan di tingkat provinsi atau kabupaten, sementara api sudah berkobar di desa terpencil.

"Kepala desa tidak bisa bergerak cepat karena tidak punya dana darurat di tangan," ucap Aswin Usup.

Ketika pemadam kebakaran dari kota tiba di desa, masalah berikutnya menghadang. Banyak peralatan impor yang caggih gagal digunakan karena tidak sesuai medan. Tenaga terlanjur terkuras untuk memasang pipa air hingga berkilo-kilo meter dari sungai terdekat hingga ke titik api.

"Bayangkan waktu yang terbuang, selama itu api terus membesar dan menyebar," tambahnya.

Mencegah kesia-siaan yang sama terulang, Aswin mengingatkan pemerintah memanfaatkan musim hujan yang segera berakhir ini. Yaitu menabung air dengan membangun sumur-sumur bor, memperbaiki sekat-sekat kanal dan revitalisasi embung-embung sekitar titik rawan saat air masih melimpah.

"Dan memberi kewenangan anggaran langsung ke desa dan memberdayakan Masyarakat Peduli Api (MPA) memantau surface fire dan rutin melakukan pembasahan," lanjut Ketua Ikatan Cendikiawan Dayak Nasional (ICDN) Kalteng itu.

Menurutnya, mencegah kebakaran bukan sekadar menjaga pohon dan gambut. Lebih jauh yakni menjaga paru-paru anak-anak agar mereka tetap punya peluang menjadi juara di masa depan.

"Pencegahan adalah harga mati. Jangan biarkan asap kembali mencuri napas dan impian anak-anak kita," tutupnya. (jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ASN Jawa Barat Dipantau Ketat, Selama WFH Diwajibkan pakai Gercep Asik Mobile
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Dikatain Pansos, Arya Khan Ungkap Awal Mula Nikahi Pinkan Mambo, sang Penyanyi yang Ngejar Duluan?
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Dalam 24 jam, Jatim-Jateng dilanda cuaca ekstrem sebabkan korban jiwa
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Deretan Bajaj yang Masih Mangkal di Area Pasar Tanah Abang Meski Sudah Ditertibkan
• 3 jam laluliputan6.com
thumb
Waketum Nasdem Sebut Belum Ada Wacana Fusi Nasdem dengan Gerindra
• 7 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.