jpnn.com, PALANGKARAYA - Pakar lingkungan dari Universitas Palangka Raya (UPR) Ir. Aswin Usup, M.Sc, Ph.D., mengungkap fakta pilu tentang dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Menurut Aswin, dampak karhutla sangat merusak harapan warga desa sekitar hutan dan cita-cita generasi muda.
BACA JUGA: Dalang Karhutla di Bengkalis Ditangkap, AKBP Fahrian: Kami Pasti Tegas
Aswin menyampaikan hal itu berdasar temuan riset mendalam timnya bahwa manusia yang terpapar asap karhutla secara berulang mengalami perubahan struktur paru-paru sebagai upaya adaptasi terhadap lingkungan.
"Tubuh melakukan adaptasi yang menyedihkan karena paru-paru mengurangi volume udara yang masuk agar asap yang terserap tidak terlalu banyak," ujar Aswin dalam rilis tentang temuan tim risetnya, Senin (13/4/2026).
BACA JUGA: Rapat Koordinasi Karhutla 2026, Menhut Bakal Tindak Tegas Pembukaan Lahan dengan Membakar Hutan
Pakar geoekologi itu menjelaskan kapasitas tampung paru-paru berkurang secara signifikan ketika terpapar asap. Akibatnya, kekuatan fisik orang yang terpapar asap karhutla tidak pernah bisa optimal.
“Jadi, jangan harap ada atlet kaliber dunia dari Kalimantan kalau karhutla dibiarkan,” tuturnya.
BACA JUGA: Dalang Karhutla Seluas 500 Hektare di Pelalawan Ditangkap Polisi, Tak Diberi Ampun
Asap Karhutla Ancam Balita dan Anak-anak
Akademikus yang mempelajari gambut hingga Hokkaido University, Jepang, itu menyatakan dampak asap karhutla pada anak-anak jauh lebih fatal. Secara alami, katanya, paru-paru balita hanya memiliki kapasitas 0,5 hingga 1,5 liter.
Adapun kapasitas paru-paru anak usia sekolah sekitar 2 hingga 4 liter. "Masa kanak-kanak adalah waktu krusial bagi kantong-kantong udara (alveoli) untuk tumbuh pesat," imbuhnya.
Aswin memerinci paparan partikel halus (PM2.5) dari asap yang menembus hingga ke alveoli memicu peradangan kronis. Jaringan paru-paru yang seharusnya elastis, imbuhnya, berubah menjadi kaku (fibrosis) untuk membentengi diri dari polusi.
Akibatnya, pertumbuhan paru-paru anak 'terkunci' atau kerdil sejak dini. Mereka memulai hidup dewasa dengan kapasitas napas yang sudah cacat secara permanen.
Tragedi kabut asap bisa berulang karena penanganan di lapangan sering terlambat. Di antara pangkal masalahnya yakni anggaran yang tertahan di tingkat provinsi atau kabupaten, sementara api sudah berkobar di desa terpencil.
"Kepala desa tidak bisa bergerak cepat karena tidak punya dana darurat di tangan," ucap Aswin Usup.
Ketika pemadam kebakaran dari kota tiba di desa, masalah berikutnya menghadang. Banyak peralatan impor yang caggih gagal digunakan karena tidak sesuai medan.
Tenaga pun telanjur terkuras untuk memasang pipa air hingga berkilo-kilo meter dari sungai terdekat hingga ke titik api.
"Bayangkan waktu yang terbuang, selama itu api terus membesar dan menyebar," tambahnya.
Menabung Air demi Menyelamatkan Generasi
Untuk mencegah kesia-siaan yang sama terulang, Aswin mengingatkan pemerintah memanfaatkan musim hujan yang segera berakhir dengan menabung air melalui pembangun banyak sumur bor, memperbaiki sekat-sekat kanal, dan revitalisasi embung-embung sekitar titik rawan saat air masih melimpah.
"Beri kewenangan anggaran langsung ke desa dan memberdayakan Masyarakat Peduli Api (MPA) memantau surface fire dan rutin melakukan pembasahan," kata ketua Ikatan Cendikiawan Dayak Nasional (ICDN) Kalteng itu.
Menurut Aswin, mencegah kebakaran bukan sekadar menjaga pohon dan gambut, melainkan juga demi menjaga paru-paru anak-anak agar mereka tetap punya peluang menjadi juara di masa depan.
"Pencegahan adalah harga mati. Jangan biarkan asap kembali mencuri napas dan impian anak-anak kita," tuturnya.(jpnn)
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5489814/original/017529000_1769933678-WhatsApp_Image_2026-02-01_at_15.09.47.jpeg)

