Di tengah dinamika pasar modal yang masih dibayangi volatilitas global dan fluktuasi harga komoditas, kinerja emiten-emiten di bawah kendali konglomerat kembali menjadi sorotan. Salah satu yang mencuri perhatian adalah gurita bisnis milik Prajogo Pangestu, yang dalam beberapa tahun terakhir agresif melakukan ekspansi, akuisisi, hingga konsolidasi lintas sektor.
Strategi tersebut mulai tercermin dalam laporan keuangan terbaru tahun buku 2025. Sejumlah entitas bahkan menunjukkan lonjakan kinerja yang signifikan, baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih, seiring kontribusi aksi korporasi dan penguatan lini bisnis utama.
Beberapa perusahaan bahkan mencatatkan lonjakan pada laba bersih ratusan hingga ribuan persen. Namun di balik pertumbuhan tersebut, investor juga mencermati faktor keberlanjutan kinerja serta implikasinya terhadap valuasi saham masing-masing emiten di pasar.
Adapun perusahaan-perusahaan milik Taipan asal Kalimantan Barat tersebut antara lain PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Chandra Saya Investasi Tbk (CDIA). Berikut ringkasan kinerja keuangan emiten di grup Prajogo.
Bagaimana pertumbuhan kinerja emiten-emiten di bawah konglomerasi grup Prajogo? Berikut rangkumannya
Merujuk laporan keuangan PT Petrosea Tbk (PTRO), perusahaan membukukan pendapatan sebesar US$ 886,46 juta pada 2025, melonjak 28,32% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pendapatan emiten terafiliasi Prajogo Pangestu ini mayoritas dari penambangan yang mencapai US$389,25 juta, terbang 34,15% (yoy).
Kemudian ada konstruksi dan rekayasa US$379,75 juta atau naik 26,93% (yoy). Lalu, pendapatan yang baru ada pada 2025, yaitu EPCI-minyak bumi dan gas lepas pantai US$32,87 juta. Selanjutnya ada pula pendapatan dari sektor jasa sebesar US$30,07 juta, ambles 13,17% (yoy), serta pendapatan lainnya US$2,51 juta atau turun 6,51% (yoy).
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 197,02% (yoy) pada 2025 menjadi US$28,81 juta. Sampai 31 Desember 2025, PTRO mencatatkan aset sebesar US$1,58 miliar, melejit 82,51% (yoy). Aset tersebut terdiri dari liabilitas yang meroket 106,54% (yoy) menjadi US$1,28 miliar dan ekuitas yang melesat 23,11% (yoy) menjadi US$307,46 juta.
Baru-baru ini PTRO mengamankan kontrak proyek liquefied natural gas (LNG) di Blok Masela dengan nilai kontrak sekitar Rp 989 miliar. Manajemen Petrosea mengatakan bahwa pada 2 Maret 2026, konsorsium Petrosea–PT Enviromate Technology International dan PT Nindya Karya telah menandatangani kontrak Onshore LNG Perimeter Construction Works dengan INPEX Masela Ltd. Adapun stimasi jangka waktu kontrak itu selama 36 bulan.
“Proyek ini merupakan salah satu proyek pengembangan gas dan LNG strategis di Indonesia yang berperan dalam mendukung ketahanan energi nasional,” ungkap manajemen dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (26/3).
Adapun porsi partisipasi Petrosea dalam konsorsium tersebut sebesar 36%. Mananjemen PTRO mengatakan ruang lingkup pekerjaan proyek mencakup pembangunan pagar perimeter dan public expansion road, pembangunan jalan pengalihan, relokasi jaringan listrik eksisting, serta opsi pembangunan pioneering jetty dan fasilitas mini Intensive Vital Care Unit (IVCU).
Laba Bersih Emiten Prajogo BRPT Meroket 775%Emiten Prajogo selanjutnya adalah BRPT. Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$ 490 juta atau setara Rp 8,31 triliun. Jumlag tersebut melonjak 775% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$ 56 juta. Dari sisi top line, pendapatan perseroan juga tumbuh pesat.
Sepanjang 2025, pendapatan bersih mencapai US$ 7,63 miliar, meningkat 219,7% secara tahunan atau year on year (yoy) dari US$ 2,38 miliar. Kontributor utama pendapatan masih berasal dari segmen petrokimia sebesar US$ 7,02 miliar. Sementara itu, segmen energi menyumbang US$ 605 juta dan pendapatan lainnya sebesar US$ 5 juta.
Kenaikan pendapatan tersebut terutama didorong oleh konsolidasi akuisisi Aster pada segmen kimia, termasuk penambahan sub segmen kilang. Langkah ini mendorong kinerja segmen Chemicals & Energy dengan peningkatan pendapatan hampir empat kali lipat.
Selain itu, peningkatan produksi panas bumi juga turut menopang kinerja, seiring kontribusi unit binary Salak dan stabilnya kinerja pembangkitan dari aset panas bumi yang telah beroperasi.
Laba Bersih Emiten Prajogo Pangestu BREN Naik Jadi Rp 2,2 TKemudian, emiten di sektor energi terbarukan milik Prajogo yaitu BREN membukukan laba bersih sebesar US$ 132,19 juta atau setara Rp 2,21 triliun sepanjang 2025. Capaian tersebut meningkat 8,26% dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang sebesar US$ 122,10 juta.
Peningkatan laba bersih didorong oleh naiknya pendapatan serta penurunan biaya pendanaan. Sepanjang 2025, BREN mencatatkan pendapatan sebesar US$ 605,18 juta, meningkat dari US$ 596,82 juta secara tahunan atau year on year (yoy).
Pendapatan perseroan terutama berasal dari penjualan listrik sebesar US$ 291,2 juta, penjualan uap US$ 123,7 juta, pendapatan sewa operasi US$ 147,8 juta, serta pendapatan sewa pembiayaan sebesar US$ 42,3 juta.
CEO Barito Renewables Hendra Soetjipto Tan mengatakan, sepanjang 2025 perseroan telah menyelesaikan proyek retrofit Salak serta mencatatkan kontribusi dari Unit Binary Salak yang memperkuat kapasitas panas bumi.
“Meskipun segmen (pembangkit tenaga) angin menghadapi kondisi yang lebih menantang dibandingkan tahun lalu, aset panas bumi kami menghasilkan produksi listrik yang stabil dan menjadi penopang utama kinerja Perseroan,” ujar Hendra dalam keterangan resmi dikutip Jumat (20/3).
TPIA Balik Rugi Jadi Laba, Kenaikan Hampir 1.800%Di antara emiten-emiten Prajogo, TPIA mencatatkan kinerja paling gemilang, Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 18,22 triliun, berbalik dari posisi rugi Rp 1,10 triliun pada tahun sebelumnya.
Sejalan dengan itu, pendapatan bersih TPIA melonjak 293,2% secara tahunan (yoy) menjadi US$ 7,02 miliar hingga akhir 2025.
Kontributor terbesar berasal dari segmen energi yang melesat sangat signifikan hingga 31.984,6% yoy menjadi US$ 3,66 miliar. Selain itu, segmen kimia turut mencatat pertumbuhan 92,1% yoy menjadi US$ 3,24 miliar, sedangkan segmen infrastruktur naik 35,4% yoy menjadi US$ 121,2 juta.
Manajemen menyebut capaian tersebut mencerminkan kekuatan platform bisnis terintegrasi TPIA serta disiplin dalam eksekusi strategi. Perseroan terus berfokus pada tiga pilar utama, yakni energi, kimia, dan infrastruktur, dengan keberlanjutan sebagai inti pertumbuhan jangka panjang.
Memasuki 2026, TPIA membawa momentum positif yang ditopang oleh kinerja operasional yang solid serta kontribusi awal dari berbagai inisiatif strategis.
Di segmen energi, perseroan mempercepat transformasi melalui integrasi Aster Chemicals and Energy (ACE), yang sebelumnya dikenal sebagai Shell Energy & Chemicals Park. Aset tersebut diakuisisi bersama Glencore dan diharapkan memperkuat jalur dekarbonisasi serta ambisi keberlanjutan jangka panjang TPIA.
Selain itu, TPIA juga memperluas ekspansi regional melalui akuisisi jaringan ritel bermerek Esso milik ExxonMobil di Singapura.
TPIA membukukan laba bersih US$ 205 juta pada kuartal pertama 2026. Kinerja tersebut ditopang oleh performa dan strategi pengadaan bahan baku yang optimal. Di sisi lain, TPIA juga mempertahankan likuiditas sebesar US$ 3,8 miliar yang menopang ketahanan operasional.
Pada kuartal pertama tahun ini, TPIA melaksanakan pemeliharaan terjadwal atau turnaround maintenance (TAM) pada fasilitas pabrik petrokimia di Cilegon, Banten. Memasuki Januari 2026, fasilitas yang telah beroperasi lebih dari 33 tahun tersebut menjalani penguatan integritas aset sesuai standar global guna menjaga aspek keselamatan dan keandalan operasional.
Selain itu, perseroan meningkatkan kapasitas produksi pabrik Butene-1 (B1) dan Methyl Tert-butyl Ether (MTBE) sebesar 25%. Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk mempercepat substitusi impor sekaligus memperkuat ketahanan industri petrokimia nasional.
Daftar Kinerja Keuangan Emiten Prajogo Pangestu pada 2025
(Sumber: laporan keuangan masing-masing emiten serta data perdagangan BEI, dikutip Senin (13/4).



