Jakarta (ANTARA) - Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik menyebutkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump keliru dalam menilai kepemimpinan Paus Leo XIV "lemah" saat menghadapi kriminalitas dan buruk untuk kebijakan luar negeri.
"Menyebut seorang pemimpin global 'lemah' hanya karena tidak menggunakan pendekatan konfrontatif merupakan penyederhanaan yang tidak tepat," kata Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Menurut dia, pernyataan tersebut lebih mencerminkan perbedaan cara pandang daripada penilaian objektif terhadap kapasitas kepemimpinan Paus Leo.
Dengan demikian, dia berpendapat Leo justru menunjukkan kepemimpinan yang relevan dengan tantangan dunia modern.
Dalam menghadapi kriminalitas, kata dia, Paus tidak memilih pendekatan instan berupa hukuman semata, tetapi menyoroti akar persoalan seperti ketimpangan sosial, kemiskinan dan budaya kekerasan.
Baca juga: Trump mencaci Paus Leo karena kritik tindakan AS di Iran
Ia menilai hal itu merupakan pendekatan yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada solusi jangka panjang.
Lebih lanjut, Gusma mengatakan kritik terhadap kebijakan luar negeri Paus Leo XIV juga tidak berdasar.
Dia menjelaskan Vatikan sejak lama memainkan peran sebagai kekuatan moral global yang mengedepankan diplomasi, dialog, dan perdamaian.
Oleh karenanya, kata dia, menilai kebijakan luar negeri Paus dengan standar kekuatan militer merupakan keliru.
Paus Leo XIV melanjutkan tradisi diplomasi damai dengan menyerukan de-eskalasi konflik dan perlindungan kemanusiaan.
Baca juga: AS blokade lalu lintas masuk dan keluar pelabuhan Iran mulai Senin
"Dalam banyak kasus, pendekatan ini justru menjadi jalan keluar ketika kekuatan senjata gagal menyelesaikan konflik,” katanya.
Untuk itu, dirinya menuturkan pernyataan Trump mencerminkan benturan dua cara pandang dalam melihat dunia. Pada satu sisi, terdapat pendekatan yang mengedepankan dominasi dan tekanan.
Tetapi di sisi lain, lanjut dia, terdapat pendekatan yang menempatkan keadilan, rekonsiliasi dan martabat manusia sebagai fondasi utama.
Kekuatan moral
Dalam konteks global saat ini, ia mengatakan pendekatan yang diambil Leo bukan merupakan kelemahan, melainkan bentuk kekuatan moral yang sangat dibutuhkan dunia.
Sebagai organisasi kepemudaan Katolik, PP Pemuda Katolik menyatakan dukungan terhadap kepemimpinan Paus Leo XIV yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian dan keadilan sosial.
Baca juga: Trump: Blokade di Selat Hormuz akan segera dimulai
Ditambahkan bahwa pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa kritik yang dilontarkan Presiden AS lebih mencerminkan preferensi politik pribadi, bukan penilaian objektif terhadap kapasitas dan peran Paus sebagai pemimpin global.
Sebelumnya, Paus Leo XIV mengaku tidak gentar setelah Presiden AS Donald Trump menyebut dirinya "lemah" karena mengkritik perang AS-Israel terhadap Iran.
"Saya tak takut dengan pemerintahan Trump," kata Leo kepada wartawan dalam penerbangan dari Roma menuju Aljazair.
Ia mengatakan akan terus bersuara menentang perang karena berpegang pada ajaran Injil.
Menurut pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu, ia hanya berpegang pada ajaran Injil dan akan terus "bersuara lantang untuk menentang perang".
Baca juga: Trump serang "influencer" sayap kanan dengan sebutan "IQ rendah"
"Saya tak berniat berdebat dengannya," kata Paus Leo, merujuk pada Trump.
Adapun di platform Truth Social, Trump mengatakan ia tak menginginkan "seorang Paus yang menganggap Iran boleh memiliki senjata nuklir."
Trump menyebut Paus asal Amerika itu "lemah dalam menyikapi kejahatan dan kebijakan luar negerinya buruk."
Presiden AS itu juga menilai Leo terpilih sebagai Paus "karena ia orang Amerika" dan itu dianggap cara terbaik untuk berurusan dengannya.
"Jika saya tak ada di Gedung Putih, Leo tak akan berada di Vatikan," kata Trump.
"Menyebut seorang pemimpin global 'lemah' hanya karena tidak menggunakan pendekatan konfrontatif merupakan penyederhanaan yang tidak tepat," kata Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Menurut dia, pernyataan tersebut lebih mencerminkan perbedaan cara pandang daripada penilaian objektif terhadap kapasitas kepemimpinan Paus Leo.
Dengan demikian, dia berpendapat Leo justru menunjukkan kepemimpinan yang relevan dengan tantangan dunia modern.
Dalam menghadapi kriminalitas, kata dia, Paus tidak memilih pendekatan instan berupa hukuman semata, tetapi menyoroti akar persoalan seperti ketimpangan sosial, kemiskinan dan budaya kekerasan.
Baca juga: Trump mencaci Paus Leo karena kritik tindakan AS di Iran
Ia menilai hal itu merupakan pendekatan yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada solusi jangka panjang.
Lebih lanjut, Gusma mengatakan kritik terhadap kebijakan luar negeri Paus Leo XIV juga tidak berdasar.
Dia menjelaskan Vatikan sejak lama memainkan peran sebagai kekuatan moral global yang mengedepankan diplomasi, dialog, dan perdamaian.
Oleh karenanya, kata dia, menilai kebijakan luar negeri Paus dengan standar kekuatan militer merupakan keliru.
Paus Leo XIV melanjutkan tradisi diplomasi damai dengan menyerukan de-eskalasi konflik dan perlindungan kemanusiaan.
Baca juga: AS blokade lalu lintas masuk dan keluar pelabuhan Iran mulai Senin
"Dalam banyak kasus, pendekatan ini justru menjadi jalan keluar ketika kekuatan senjata gagal menyelesaikan konflik,” katanya.
Untuk itu, dirinya menuturkan pernyataan Trump mencerminkan benturan dua cara pandang dalam melihat dunia. Pada satu sisi, terdapat pendekatan yang mengedepankan dominasi dan tekanan.
Tetapi di sisi lain, lanjut dia, terdapat pendekatan yang menempatkan keadilan, rekonsiliasi dan martabat manusia sebagai fondasi utama.
Kekuatan moral
Dalam konteks global saat ini, ia mengatakan pendekatan yang diambil Leo bukan merupakan kelemahan, melainkan bentuk kekuatan moral yang sangat dibutuhkan dunia.
Sebagai organisasi kepemudaan Katolik, PP Pemuda Katolik menyatakan dukungan terhadap kepemimpinan Paus Leo XIV yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian dan keadilan sosial.
Baca juga: Trump: Blokade di Selat Hormuz akan segera dimulai
Ditambahkan bahwa pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan bahwa kritik yang dilontarkan Presiden AS lebih mencerminkan preferensi politik pribadi, bukan penilaian objektif terhadap kapasitas dan peran Paus sebagai pemimpin global.
Sebelumnya, Paus Leo XIV mengaku tidak gentar setelah Presiden AS Donald Trump menyebut dirinya "lemah" karena mengkritik perang AS-Israel terhadap Iran.
"Saya tak takut dengan pemerintahan Trump," kata Leo kepada wartawan dalam penerbangan dari Roma menuju Aljazair.
Ia mengatakan akan terus bersuara menentang perang karena berpegang pada ajaran Injil.
Menurut pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu, ia hanya berpegang pada ajaran Injil dan akan terus "bersuara lantang untuk menentang perang".
Baca juga: Trump serang "influencer" sayap kanan dengan sebutan "IQ rendah"
"Saya tak berniat berdebat dengannya," kata Paus Leo, merujuk pada Trump.
Adapun di platform Truth Social, Trump mengatakan ia tak menginginkan "seorang Paus yang menganggap Iran boleh memiliki senjata nuklir."
Trump menyebut Paus asal Amerika itu "lemah dalam menyikapi kejahatan dan kebijakan luar negerinya buruk."
Presiden AS itu juga menilai Leo terpilih sebagai Paus "karena ia orang Amerika" dan itu dianggap cara terbaik untuk berurusan dengannya.
"Jika saya tak ada di Gedung Putih, Leo tak akan berada di Vatikan," kata Trump.




