Bisnis.com, JAKARTA — Kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berimpak pada struktur biaya industri baja nasional.
Pasalnya, porsi energi mencapai 20% hingga 30% dari total biaya produksi industri baja di Tanah Air.
Direktur Eksekutif The Indonesian Iron and Steel Association (IISIA) Harry Warganegara menyampaikan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga energi dan biaya logistik. Dalam struktur biaya industri baja, energi menjadi komponen krusial dengan porsi mencapai 20%–30% dari total biaya produksi.
“Perubahan harga energi sangat memengaruhi struktur biaya industri baja,” tuturnya kepada Bisnis, Sabtu (11/4/2026).
Untuk merespons tekanan tersebut, pelaku usaha katanya mulai melakukan penyesuaian, seperti meningkatkan efisiensi operasional, menetapkan target produksi yang lebih konservatif, serta menunda rencana ekspansi.
“Fokus utama saat ini adalah menjaga keberlanjutan usaha di tengah tekanan biaya dan ketidakpastian pasar,” ucap Harry.
Baca Juga
- Efek Pemangkasan Anggaran Infrastruktur ke Industri Baja-Semen
- Industri Baja Waspadai Gangguan Logistik Energi Imbas Konflik Timur Tengah
- Krakatau Steel (KRAS) Prediksi Kebutuhan Baja untuk Industri Galangan Kapal Melonjak
Di sisi lain, dia mengatakan, industri baja nasional menghadapi tekanan berat akibat kelebihan kapasitas global.
Proyeksi menunjukkan kapasitas baja dunia pada 2027 mencapai 2,6 miliar ton, sementara permintaan hanya sekitar 1,9 miliar ton, sehingga terdapat surplus sebesar 721 juta ton.
“Kondisi ini memperketat persaingan di pasar global dan berdampak hingga ke pasar domestik,” tambah Harry.




