Semua ini berawal dari hal yang sederhana: saya mulai membaca tulisan-tulisan teman-teman guru saya yang terbit di media yang membuat saya merasa senang. Ada gagasan, ada pengalaman, ada refleksi yang hidup di dalamnya. Tetapi kebahagiaan itu menjadi lebih besar ketika saya mulai membaca tulisan anak-anak didik saya. Di sana saya menemukan kejujuran, keberanian, dan cerita hidup yang nyata. Dari situlah saya tersadar bahwa ada sesuatu yang sedang tumbuh. Dan pengalaman itulah yang mendorong saya untuk membagikan kisah ini sebagai sebuah sukacita.
Berawal dari Kritik GurukuPengalaman saya dalam menulis tidak lahir dari sebuah kebiasaan yang sejak awal terbangun secara sadar, melainkan dari sebuah proses yang diwarnai oleh ketidaksiapan, penolakan, bahkan kritik yang cukup tajam. Pada masa sekolah menengah atas, saya termasuk siswa dengan capaian akademik yang tergolong baik. Nilai-nilai saya berada di atas rata-rata, dan secara umum saya tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran.
Namun demikian, terdapat satu aspek penting yang justru saya abaikan, yaitu menulis. Saya tidak pernah berpartisipasi dalam penulisan artikel untuk majalah sekolah yang secara rutin diterbitkan dua kali dalam setahun. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak memiliki dorongan untuk melakukannya.
Dalam konteks inilah, seorang guru senior pernah menyampaikan kritik yang hingga kini tetap saya ingat: “Kamu pintar, tetapi sombong karena tidak mau menulis.” Pernyataan ini pada awalnya terasa mengganggu, tetapi di kemudian hari saya menyadari bahwa kritik tersebut menyentuh persoalan yang mendasar: adanya jarak antara kemampuan intelektual dan keberanian untuk mengekspresikannya secara tertulis.
Perubahan mulai terjadi ketika sekolah menetapkan kebijakan bahwa seluruh siswa tingkat akhir wajib menulis. Tanpa tulisan, nilai tidak akan diberikan. Dalam situasi tersebut, menulis bukan lagi pilihan, melainkan keharusan akademik. Saya mulai menulis dalam kondisi yang dapat dikatakan sebagai “keterpaksaan yang produktif.”
Menariknya, tulisan pertama saya justru mendapatkan apresiasi dari guru yang sebelumnya mengkritik saya. Pengalaman ini menjadi titik balik yang signifikan. Saya mulai memahami bahwa menulis bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi sebuah proses intelektual yang memungkinkan gagasan menjadi terstruktur, terkomunikasikan, dan memiliki daya jangkau yang lebih luas.
Perjalanan ini kemudian berlanjut ketika saya memasuki dunia perguruan tinggi, khususnya dalam studi filsafat. Dalam konteks akademik filsafat, menulis tidak dapat dipisahkan dari proses berpikir itu sendiri. Gagasan tidak cukup hanya dipahami secara internal, tetapi harus diartikulasikan secara logis, argumentatif, dan sistematis. Di sinilah saya mulai mengalami perkembangan yang lebih serius dalam menulis.
Saya mulai produktif menghasilkan tulisan, baik dalam bentuk artikel ilmiah maupun refleksi. Bahkan, saya memperoleh kesempatan untuk menulis renungan harian, baik pada tingkat lokal maupun nasional. Beberapa tulisan saya juga diterima dalam media gerejawi bahkan Surat Kabar. Pengalaman ini memperkuat keyakinan saya bahwa menulis bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan bagian integral dari pembentukan intelektual dan spiritual seseorang.
Namun demikian, perlu saya akui bahwa proses ini tidak pernah selesai. Ketika saya memasuki dunia kerja sebagai pendidik sekaligus pengelola sekolah, tantangan baru muncul. Beban kerja yang tinggi, tanggung jawab administratif, serta dinamika pengelolaan pendidikan sering kali membuat aktivitas menulis tidak lagi menjadi prioritas utama. Menulis tetap menjadi kebutuhan, tetapi tidak selalu mendapat ruang yang memadai.
Kesadaran baru muncul ketika saya mengikuti studi banding ke sebuah yayasan pendidikan yang menjadi acuan pengembangan institusi kami. Dalam pengalaman tersebut, saya melihat bagaimana budaya menulis dibangun secara sistematis. Tulisan tidak hanya dipandang sebagai produk akademik, tetapi sebagai instrumen strategis dalam pendidikan.
Tulisan menjadi sarana untuk mendidik, membangun wacana, serta melawan berbagai bentuk “kematian” dalam dunia pendidikan—baik dalam arti rendahnya literasi, terbatasnya ruang refleksi, maupun dominasi informasi yang tidak mendidik. Dalam konteks ini, menulis dapat dipahami sebagai bentuk intervensi kultural yang memiliki dampak jangka panjang.
Menulis: Ungkapan Eksistensi ManusiaJika ditarik lebih jauh, kesadaran ini memiliki dasar historis dan antropologis yang kuat. Dalam Sapiens: A Brief History of Humankind (2011), Yuval Noah Harari menjelaskan bahwa kemampuan manusia untuk menciptakan dan menggunakan simbol merupakan fondasi utama perkembangan peradaban. Sebelum mengenal sistem alfabet seperti sekarang, manusia telah menggunakan berbagai simbol untuk menandai pengalaman, menyampaikan pesan, dan membangun makna kolektif. Tulisan, dalam pengertian ini, bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana pewarisan makna. Ia memungkinkan manusia melampaui keterbatasan ruang dan waktu. Ia menjadi medium di mana pengalaman individual dapat diolah menjadi pengetahuan bersama.
Dalam perspektif filsafat eksistensialisme, hal ini memperoleh dimensi yang lebih dalam. Jean-Paul Sartre (1905-1980) menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang membentuk dirinya melalui tindakan. Dalam berbagai esainya, termasuk yang berkaitan dengan refleksi eksistensial seperti dalam tradisi Essays Saint-Solange, Sartre menunjukkan bahwa ekspresi—termasuk melalui tulisan—merupakan bentuk konkret dari keterlibatan manusia dalam dunia. Dalam hal ini, ide dasar Sartre merujuk pada konsepnya tentang filsafat eksistensialisme, yakni, “existence precedes essence”— eksistensi mendahului esensi. Artinya, manusia tidak dilahirkan dengan makna yang sudah jadi; manusia harus menciptakan makna itu melalui pilihan dan tindakannya. Menulis, dalam konteks ini, adalah salah satu tindakan paling konkret untuk menegaskan eksistensi itu.
Demikianlah menulis merupakan tindakan eksistensial. Melalui tulisan, seseorang tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga menegaskan keberadaannya sebagai subjek yang berpikir, merefleksikan, dan memberi makna.
Mendorong Budaya MenulisBerangkat dari pemahaman tersebut, saya mulai mengembangkan inisiatif untuk mendorong budaya menulis di lingkungan sekolah. Saya tidak hanya melanjutkan praktik menulis secara pribadi, tetapi juga mengajak rekan-rekan guru dan peserta didik untuk terlibat dalam proses ini. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah membuka ruang publikasi, termasuk melalui media seperti Kumparan, sebagai wadah aktualisasi gagasan.
Dampak dari inisiatif ini sangat signifikan. Guru-guru mulai menulis tentang pengalaman profesional mereka: dinamika pembelajaran, tantangan pedagogis, serta refleksi atas panggilan sebagai pendidik. Sementara itu, para siswa mulai mengekspresikan pengalaman hidup mereka secara lebih terbuka—tentang pergulatan dalam belajar, relasi dalam keluarga, serta pencarian jati diri di tengah berbagai tantangan.
Tulisan-tulisan tersebut memperlihatkan bahwa menulis bukan hanya aktivitas akademik, tetapi juga proses pembentukan diri. Dalam tulisan, saya melihat bagaimana individu berusaha memahami dirinya, mengolah pengalaman, dan mengartikulasikan makna hidupnya.
Pada titik inilah saya menemukan kebahagiaan yang tidak saya duga sebelumnya. Bukan semata-mata karena saya mampu menulis, tetapi karena saya melihat orang lain mulai menulis. Inspirasi yang pada awalnya bersifat personal, ternyata dapat bertransformasi menjadi gerakan kolektif.
Sebagai pendidik, pengalaman ini membawa saya pada pemahaman yang lebih dalam tentang makna mengajar. Mengajar tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi, tetapi juga dengan penciptaan ruang bagi peserta didik untuk menjadi subjek yang aktif, reflektif, dan ekspresif.
Menulis menjadi salah satu medium penting dalam proses tersebut. Melalui menulis, peserta didik tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga memproduksi makna. Mereka tidak hanya belajar tentang dunia, tetapi juga belajar menempatkan diri mereka di dalam dunia itu.
Dengan demikian, pengembangan budaya menulis di lingkungan pendidikan bukan sekadar program tambahan, melainkan bagian esensial dari proses pendidikan itu sendiri. Menulis membantu membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga mampu merefleksikan dirinya dan memberi kontribusi nyata melalui gagasan.
Pada akhirnya, ketika rekan guru dan siswa mulai menulis, saya menyadari bahwa di situlah letak makna terdalam dari tugas saya sebagai pendidik. Sebab melalui tulisan, mereka tidak hanya belajar, tetapi juga menyatakan dirinya—bahwa mereka ada, berpikir, dan memiliki makna. (SP, 2026)





