Dampak situasi di Timur Tengah menyebabkan harga minyak melonjak tajam dan mengguncang rantai pasok global. Kota perdagangan plastik terbesar di Tiongkok selatan, yaitu Zhangmutou, baru-baru ini mengalami lonjakan harga, kelumpuhan logistik, serta aksi penimbunan panik. Pelaku usaha setempat menggambarkan dampaknya datang sangat cepat dan keras.
EtIndonesia. Konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak, sehingga harga bahan baku plastik di Tiongkok dan Eropa melonjak hingga sekitar 60% sejak Maret, membuat pabrik-pabrik hilir kewalahan.
“Kenaikan harga mencapai sekitar 50% hingga 60%. Dan saat ini sama sekali belum ada tanda-tanda akan berhenti, harga terus naik setiap hari,” kata Manajer umum Guangdong Rongsu New Materials Co., Ltd., Peng Xin.
Peng Xin menyatakan bahwa stok cadangan aman di pabrik telah habis, dan pembelian bahan baku baru hanya bisa dilakukan dengan harga pasar yang sangat tinggi. Tekanan ini akan segera diteruskan ke pelanggan di hilir.
Karena kekhawatiran bahwa situasi di Timur Tengah tidak akan mereda dalam satu hingga dua bulan ke depan, banyak perusahaan mulai menimbun barang lebih awal. Gelombang pembelian ini juga menyebabkan kemacetan serius di gudang dan jalan.
“Sejak setelah 5 Maret, dalam waktu sekitar satu minggu, seluruh Zhangmutou mengalami kemacetan. Panjang antrian bisa mencapai sekitar 10 hingga 15 kilometer. Semua gudang penuh sesak, dan aktivitas keluar-masuk barang sangat terganggu,” ujar pemilik gudang, Han Bing.
Di sisi hulu, pabrik petrokimia menaikkan harga akibat kekurangan minyak mentah dan bahan baku. Bahkan, beberapa pabrik kimia hulu menolak memenuhi kontrak lama dengan harga rendah.
“Uang muka sudah dibayar dan sudah sampai waktu pengiriman, tetapi mereka menolak mengirim barang dengan alasan force majeure. Namun, jika kami sebelumnya menandatangani kontrak dengan harga tinggi, mereka tetap bisa mengirim. Jadi bagi saya, alasan force majeure itu tidak dapat diterima,” kata seorang pedagang di pasar plastik Zhangmutou, Xiao Zejia.
Menurut laporan tahun 2025 dari Organisation for Economic Co-operation and Development, Tiongkok adalah produsen, konsumen, dan eksportir produk plastik terbesar di dunia.
Laporan disusun secara komprehensif oleh reporter NTD, Xu Zhe dan Wang Yanjiao.





