FAJAR, MAKASSAR — Selama ini, urusan rasa tidak percaya diri terhadap bentuk tubuh atau body image selalu identik dengan kaum hawa. Namun, tahukah Anda? Di balik sikap diamnya, ternyata banyak pria yang berjuang mati-matian melawan rasa tidak puas terhadap tubuh mereka sendiri.
Melansir riset terbaru dari Sophie S. Whynacht Ph.D. di Psychology Today, April 2026, ketidakpuasan tubuh pada pria adalah “perjuangan tersembunyi” yang jarang dibahas di ruang publik. Alasannya klasik: adanya tuntutan budaya bahwa pria harus selalu terlihat kuat, percaya diri, dan tidak boleh terlalu memikirkan penampilan.
Standar “Lelaki Ideal”: Kekar, Kering, dan Berotot
Saat ini, media sosial hingga film pahlawan super terus membombardir kita dengan citra pria ideal: badan yang lean (kering), bahu lebar, dan perut kotak-kotak (six-pack). Banyak pria mulai menginternalisasi standar ini. Akibatnya, bahkan mereka yang sebenarnya sudah bugar secara medis, tetap merasa ada yang “kurang” jika ototnya belum sedefinisi aktor film laga.
Memilih Diam karena Gengsi
Berbeda dengan wanita yang lebih terbuka berbagi cerita, pria cenderung memendam perasaan insecure ini sendirian.
“Pria disosialisasikan untuk mandiri dan tidak peduli pada penampilan agar tidak dianggap lemah atau tidak maskulin,” tulis laporan tersebut. Dampaknya, rasa tidak puas ini tidak hilang, melainkan semakin menguat karena tidak punya ruang untuk dicurahkan.
Tanda-Tanda Pria Mengalami Gangguan Citra Tubuh
Hati-hati, ketidakpuasan ini sering kali menyamar di balik istilah “disiplin” atau “gaya hidup sehat”. Berikut tandanya:
- Olahraga Kompulsif: Nge-gym bukan lagi untuk kesehatan atau kesenangan, melainkan karena merasa bersalah atau terobsesi mengejar bentuk tubuh tertentu.
- Pola Makan Ekstrem: Terlalu kaku menghitung protein atau hanya mau makan makanan “bersih” secara berlebihan demi komposisi tubuh.
- Penggunaan Suplemen Berlebih: Mulai mencari jalan pintas lewat suplemen atau zat peningkat performa karena merasa pertumbuhan otot terlalu lambat.
Stigma pada Pria Berbadan Besar
Bagi pria dengan berat badan berlebih, tekanan yang dirasakan berbeda lagi. Ada stigma sosial yang menganggap mereka “kurang kontrol diri” atau tidak “maskulin”. Hal ini bisa memicu kecemasan sosial, membuat mereka menghindari tempat-tempat umum seperti kolam renang atau gym, hingga mengganggu hubungan intim.
Kesimpulan: Kesehatan Mental di Balik Otot
Body image bukan sekadar soal gaya-gayaan. Ini adalah masalah kesehatan mental. Menyadari bahwa pria juga punya hak untuk merasa tidak nyaman dengan tubuhnya adalah langkah awal untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.
Ingat, menjadi pria sejati bukan berarti harus punya badan seperti superhero, tapi memiliki mental yang sehat dan menerima diri apa adanya. (*Nin)





