Anak dengan ADHD Masih Sering Salah Dipahami

kompas.id
17 jam lalu
Cover Berita

Gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada anak-anak masih sering disalahpahami. Sebab, gejala penderitanya sering kali dianggap sebagai ”kenakalan” atau hal lumrah untuk anak seusianya. Baik anak dan keluarganya membutuhkan dukungan masyarakat dalam menjalani kehidupan di ruang publik.

Ira Farmawati (34), seorang ibu yang kini mendampingi tumbuh kembang anak pertamanya yang didiagnosis ADHD, mengaku, dirinya menghadapi tantangan yang tidak mudah. Tantangan tersulit adalah ketika dirinya pulang bekerja dalam keadaan lelah, anaknya sedang berada di fase hiperaktif. Begitu juga dengan komentar negatif atau ekspektasi dari lingkungan sekitar yang terpaksa ia terima.

Begitu juga perjuangan yang dialami Petra Hoggarth, seorang psikolog klinis anak, yang memiliki putra berusia enam tahun dengan berbagai gangguan, termasuk ADHD. Petra mengatakan, selama bertahun-tahun ia telah mengikutsertakan anaknya dalam berbagai terapi. Semua perjuangan dan pengalamannya ia tuliskan dalam situs blog agar dapat membantu orangtua yang mengalami kondisi seperti dirinya.

Dari cuplikan dua kisah orangtua yang memiliki anak dengan ADHD, dapat dibayangkan tantangan yang begitu kompleks. Mulai dari cara bersikap di internal keluarga, terapi rutin, hingga penerimaan yang besar dari tiap anggota keluarga. Belum lagi, anak dan keluarganya menerima cibiran serta stigma negatif dari lingkungan sekitar.

Pada dasarnya, ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf dengan tiga gejala utama yang memengaruhi anak, yaitu kesulitan dalam memusatkan perhatian (inattentiveness), perilaku motorik berlebih (hiperaktivitas), serta impulsivitas. Kondisi tersebut membuat ADHD pada anak sering kali baru disadari ketika gejalanya mulai mengganggu aktivitas belajar hingga hubungan sosial.

Penyebab utama ADHD dan autisme hingga kini belum diketahui dengan pasti. Namun, faktor genetik dianggap memiliki peran penting. Studi klinis komprehensif dari Universitas Kopenhagen, Denmark, menemukan hubungan pola makan ibu selama kehamilan dengan perkembangan ADHD dan autisme pada anak-anak.

Serial Artikel

Tren ADHD pada Orang Dewasa Meningkat, Bagaimana Menanganinya?

Penyebab utama ADHD belum diketahui dengan pasti. Namun, kini tren gangguan ini pada orang dewasa meningkat.

Baca Artikel

Temuannya, makin sering perempuan hamil mengkonsumsi makanan instan dan/atau ultra-olahan, minuman kadar gula tinggi, susu berlemak tinggi, dan produk fruktosa tinggi, semakin besar pula risiko anak terkena ADHD atau autisme.

Upaya deteksi dini ADHD pada anak bisa melalui observasi oleh orangtua dengan cara pengamatan yang cermat dan berkelanjutan, melihat ciri dari gejala umum ADHD. Perilaku tersebut harus muncul secara konsisten, berlangsung setidaknya selama enam bulan, terlihat intens dibandingkan anak seusianya. Selain itu, gejala harus terlihat di berbagai situasi, baik di rumah, di sekolah, maupun lingkungan sosialnya.

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 330 Tahun 2011 dijelaskan tentang pedoman deteksi dini gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak. Disebutkan, anak yang terdiagnosis ADHD akan mengalami kesulitan dalam memusatkan konsentrasi saat belajar sehingga menyulitkan mereka dalam mengekspresikan diri. Pada anak usia sekolah, gangguan ini dapat menyebabkan kesulitan dalam membaca, menulis, hingga berhitung.

Dalam kesehariannya, anak dengan ADHD cenderung sulit mengendalikan diri, tidak mampu mematuhi aturan, sering mengganggu orang sekitar, serta menyalahkan orang lain. Perilaku ini mengindikasi anak kehilangan kendali diri, terutama dalam interaksi dengan orang yang lebih dewasa.

Gangguan lain pada anak dengan ADHD meliputi terganggunya pemusatan perhatian dan hiperaktivitas, yang ditandai dengan aktivitas motorik berlebih, banyak bergerak, dan sulit ditenangkan. Mereka sulit memiliki kontrol  serta mengoordinasikan aktivitasnya sehingga tidak dapat membedakan suatu  gerakan yang penting dan tidak penting.

Oleh sebab itu, diperlukan pemeriksaan yang komprehensif untuk memastikan diagnosis. Langkah-langkah yang dilakukan cukup panjang, meliputi observasi perilaku anak melalui kuesioner, rujukan ke psikiater atau dokter anak, pemeriksaan kondisi fisik dan riwayat kesehatan, hingga evaluasi lingkungan tempat tinggalnya. Jika hasil pemeriksaan sesuai dengan kriteria diagnosis ADHD, langkah selanjutnya adalah pengobatan psikostimulan.

ADHD mengintai anak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pedoman Mental Health Gap Action Programme 2023 mengidentifikasi ADHD sebagai salah satu gangguan perilaku yang umum. Prevalensinya diperkirakan 5 persen secara global.

Sementara itu, organisasi advokasi kesehatan mental anak, Children and Adults with Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder, pada 2023 juga melaporkan bahwa prevalensi ADHD secara global mencapai 7,2 persen dari populasi anak. Jika dihitung seturut angka riil, jumlahnya setara dengan 129 juta anak di seluruh dunia.

Laporan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey menemukan, prevalensi masalah kesehatan mental di kalangan remaja usia 10-17 tahun dalam 12 bulan terakhir sebesar 10,6 persen mengalami ADHD. Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi laki-laki penderita ADHD mencapai 58 persen, sementara pada perempuan sebesar 42 persen. Dari segi usia, kelompok 10-13 tahun sebesar 63 persen dan usia 14-17 tahun sebesar 27 persen.

Data tersebut menunjukkan, ADHD merupakan salah satu gangguan perkembangan yang paling umum pada masa kanak-kanak. Hal ini juga menandakan bahwa ADHD termasuk masalah kesehatan mental dengan prevalensi cukup tinggi dan berpotensi memengaruhi satu dari 10 anak di Indonesia.

ADHD lebih sering terdiagnosis pada anak laki-laki dengan gejala yang lebih terlihat berupa hiperaktivitas dan impulsivitas. Temuan tersebut terdapat dalam hasil riset dari Pusat Riset Autisme Cambridge.

Sebab, otak anak laki-laki bertumbuh lebih cepat daripada anak perempuan. Dalam otak orang yang mengalami gangguan ADHD, pertumbuhan ini meningkat menjadi lebih ekstrem.

Kelompok usia 10-13 tahun merupakan fase dengan indikasi ADHD yang lebih tinggi, yakni saat anak berada pada masa sekolah dasar hingga awal sekolah menengah pertama. Penurunan pada usia 14-17 tahun dapat disebabkan oleh adaptasi perilaku, gejala yang tidak lagi tampak jelas, atau tidak semua remaja tetap terpantau.

Secara umum, gangguan ADHD biasanya sudah muncul sejak masa kanak-kanak meskipun pada sebagian orang baru terdiagnosis ketika dewasa. ADHD tidak muncul secara tiba-tiba pada usia dewasa. Selain itu, ada pula orang dewasa yang baru didiagnosis meskipun telah mengalami gejala sejak usia muda, tetapi sebelumnya diabaikan atau salah diagnosis.

Dukungan dari lingkungan terdekat

Penanganan terhadap anak yang terdiagnosis ADHD tidak hanya berupa terapi atau pengobatan. Di tingkatan paling mendasar, anak dengan ADHD membutuhkan kepedulian serta pemahaman dari lingkungan terdekat, seperti orangtua, guru, dan teman sebaya.

Terkait dengan itu, dokter spesialis kejiwaan Dharmawan Purnama menyatakan, penanganan ADHD, baik di rumah maupun di sekolah, harus mengedepankan pembinaan yang berorientasi pada pembentukan karakter. Peran orangtua begitu penting dalam membantu pengembangan potensi anak dengan ADHD.

Anak perlu diajak berkomunikasi secara aktif dengan semua anggota keluarga. Perlu diciptakan pula suasana rumah yang kondusif agar anak merasa nyaman dalam mengemukakan perasaannya. Sebisa mungkin, orangtua menghindari tindakan menghakimi atau menyalahkan anak saat mereka mengungkapkan perasaan ataupun pikirannya.

Selain itu, anak dengan ADHD yang sulit berkonsentrasi perlu difasilitasi dengan lingkungan yang ramah, misalnya dengan menyediakan ruang bermain tersendiri dengan aktivitas yang terstruktur. Gangguan yang dapat mengalihkan perhatian, seperti penggunaan televisi dan gawai, sebaiknya dikurangi.

Pada satuan pendidikan, guru memiliki peran penting dalam membantu anak dengan ADHD yang mengalami kesulitan belajar. Diperlukan pembelajaran yang efektif melalui program pembelajaran individual yang melibatkan guru kelas dan guru bimbingan konseling (BK).

Peran guru BK antara lain memberikan konseling kepada orangtua serta menerapkan pendekatan modifikasi perilaku. Oleh karena itu, guru kelas dan guru BK perlu mengikuti pelatihan untuk menerapkan teknik modifikasi perilaku secara optimal.

Selain guru, teman sebaya juga perlu memahami anak yang terindikasi ADHD dengan tetap mengajak bermain atau bekerja kelompok tanpa memberikan label negatif, seperti bandel atau aneh. Sikap seperti ini dapat membantu anak dengan ADHD merasa aman secara emosional serta mendukung perkembangan keterampilan sosialnya sehingga tidak merasa berbeda dengan anak lain.

Mudah bosan, memiliki energi besar, berani, dan spontan yang merupakan karakteristik anak dengan ADHD tidak seharusnya dipandang sebagai kekurangan, tetapi dapat menjadi kelebihan jika dikelola dengan tepat. Metode yang dilakukan bukan dengan mengubah anak, melainkan penyesuaian dengan kondisi  lingkungannya.

Fokus perhatian perlu diarahkan pada potensi kelebihan anak dengan ADHD, bukan melulu pada kekurangannya. Kecenderungan lain menunjukkan, anak dengan ADHD biasanya memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang tinggi dibandingkan anak seusianya. Maka, pemahaman serta penanganan yang tepat sesungguhnya dapat mendorong potensi anak dengan ADHD untuk berprestasi seturut bidang yang ia minati. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Konsumsi UPF Berlebihan Bisa Bikin Anak Kurang Vitamin Meski Kenyang
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dirut Bulog: Malaysia Minta Impor Beras 200 Ribu Ton dari Indonesia
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Dinas Bina Marga DKI Siapkan Tindakan Permanen Atasi Jalan Berlubang di Jakarta
• 17 jam laluliputan6.com
thumb
Anfield Menanti Keajaiban! Liverpool Butuh Remontada Lawan PSG, Mampukah Mo Salah Balas Dendam Agregat 0-2?
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Willy Ungkap Tawaran Surya Paloh kepada Prabowo, Ternyata
• 22 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.