Presidential Threshold Nol Persen Bakal Akhiri Era Koalisi Gemuk?

kompas.com
15 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menghapus ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold menjadi nol persen memunculkan harapan baru bagi demokrasi elektoral di Indonesia.

Secara teoretis, kebijakan ini membuka peluang lebih luas bagi partai politik (parpol) untuk mengusung pasangan calon presiden (capres) dan wakil presiden (cawapres) tanpa harus berkoalisi.

Lantas, benarkah era koalisi gemuk akan benar-benar berakhir karena koalisi tak dibutuhkan lagi untuk mengusung capres?

Direktur Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, dan pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai realitas politik tidak sesederhana hitungan di atas kertas.

Secara teori, koalisi tak lagi wajib

Adi Prayitno menjelaskan, jika merujuk pada logika normatif, penghapusan presidential threshold seharusnya mengakhiri praktik koalisi besar dalam pencalonan presiden.

“Secara teori di atas kertas mestinya era koalisi gemuk dalam mengusung calon pilpres berakhir karena ambang batas presiden sudah zero sesuai putusan MK,” ujar Adi kepada Kompas.com, Senin (13/4/2026).

“Sebab, semua partai politik peserta pemilu, baik yang sudah lolos parlemen dan tak lolos parlemen, sudah bisa usung capres dan cawapres sendiri,” ucapnya.

Baca juga: Presidential Threshold Nol Persen dan Demokrasi yang Diuji dari Awal

Dengan aturan baru ini, setiap partai memiliki kedaulatan penuh untuk mengajukan kandidatnya tanpa harus bernegosiasi dalam koalisi.

KOMPAS.com/FREDERIKUS TUTO KE SOROMAKING Pengamat politik sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adi Prayitno berpose setelah diwawancarai KOMPAS.com dalam program Gaspol di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta pada, Jumat (13/12/2024).

Realitas politik: Koalisi masih sulit dihindari

Meski demikian, Adi meragukan semua partai akan memanfaatkan peluang tersebut. Ia menilai ada sejumlah kendala struktural yang membuat koalisi tetap menjadi pilihan rasional.

Pertama, tidak semua partai memiliki figur dengan daya tarik elektoral kuat.

Kedua, keterbatasan logistik karena biaya Pilpres yang sangat tinggi.

Ketiga, adanya mentalitas inferior, terutama dalam menghadapi petahana.

“Karena itulah, koalisi gemuk di 2029 masih terus terjadi. Ada kecenderungan partai tak punya nyali usung jagoan dari internal sendiri,” kata Adi.

Baca juga: Kaesang Targetkan PSI Dapat Kursi di DPR pada Pemilu 2024

Ia bahkan menyebut adanya fenomena underdog mentality, yakni partai merasa kalah sebelum bertarung.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Padahal, menurut Adi, penghapusan threshold merupakan “kado manis” dari MK yang seharusnya dimanfaatkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pegadaian Championship: Hitung-Hitungan Peluang PSS, Barito Putera, dan Persipura dalam Perebutan Tiket Promosi
• 7 jam lalubola.com
thumb
Dedi Mulyadi Nongkrong Bareng Geng Sosialita Rieta Amilia, Langsung Puji Kecantikan Ibunda Nagita Slavina yang Awet Muda
• 10 jam lalugrid.id
thumb
Polda Metro Jaya Gagalkan Peredaran Sabu Jaringan Iran di Pamulang
• 15 jam lalutvrinews.com
thumb
Oknum Guru di Siak Jadi Tersangka Kasus Tewasnya Siswa Kena Ledakan Senapan Rakitan
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Jurnalis ESPN Ungkap Skenario FIFA Jika Iran Mundur dari Piala Dunia 2026, Cek Fakta Timnas Indonesia
• 4 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.