Kasus keluhan terhadap BYD Seal Premium milik politisi Akbar Faizal akhirnya menemui titik terang. Pihak BYD Indonesia memastikan persoalan tersebut telah diselesaikan secara damai setelah melalui komunikasi intensif dengan seluruh pihak terkait.
Head of PR and Government BYD Indonesia, Luther Panjaitan, mengatakan proses penyelesaian melibatkan konsumen, dealer, perusahaan asuransi, hingga pihak leasing. Ia menyebut komunikasi yang terbuka menjadi kunci dalam menyelesaikan kasus tersebut.
“Berdasarkan update terakhir diler telah melakukan komunikasi dengan seluruh pihak terkait termasuk konsumen secara langsung,” buka Luther kepada kumparan, Selasa (14/4/2026).
“Kami mengapresiasi atas keterbukaan semua pihak dalam proses tersebut, sehingga kini telah mencapai penyelesaian secara baik dan damai antara konsumen, dealer, asuransi dan leasing,” lanjutnya.
Luther menambahkan, kejadian ini menjadi evaluasi penting bagi perusahaan dalam meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan. BYD menegaskan komitmennya untuk memperkuat respons terhadap setiap keluhan konsumen.
“kami juga akan terus mendorong dealer untuk mengedepankan respon yang cepat dan penanganan yang optimal dalam setiap keluhan konsumen,” tegasnya.
Sebelumnya, kasus ini mencuat setelah Akbar Faizal mengungkapkan keluhan melalui media sosial pribadinya. Ia mengaku mobil listrik yang dibelinya pada Desember 2025 mengalami masalah.
“Saya membeli BYD Seal Premium di Sudirman. Desember 2025, mobil bermasalah karena oleng dan joget saat dikendarai,” tulis Akbar di media sosial Instagram pribadinya.
Masalah tersebut disebut tidak kunjung terselesaikan dalam waktu lama. Bahkan, ia menilai terjadi kesalahan analisa yang membuat kondisi kendaraan semakin memburuk.
“Dua bulan mobil saya tidak jelas nasibnya, dan ternyata mereka salah analisa, sehingga kerusakan semakin parah,” ujarnya.
Persoalan semakin kompleks ketika pembayaran kredit ikut terdampak akibat kondisi mobil yang belum jelas. Akbar mengaku sempat menghentikan pembayaran dan mendapat tekanan dari pihak leasing.
“April saya tidak bayar karena mobil tak jelas, dan mereka menelepon seperti orang gila menggunakan puluhan nomor dan saya abaikan,” ujarnya.
Situasi tersebut membuat Akbar melayangkan somasi kepada sejumlah pihak, termasuk perusahaan pembiayaan Clipan Finance dan Asuransi MAG. Ia juga sempat menyinggung peran Otoritas Jasa Keuangan dalam mengawasi kasus tersebut.





