Bisnis.com, MAJALENGKA- Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Majalengka mencatat, luas panen padi sepanjang Januari hingga Maret 2026 mencapai 31.253 hektare dengan total produksi sekitar 204.261 ton gabah kering panen.
Kepala DKP3 Majalengka, Gatot Sulaeman menyebutkan, rata-rata produktivitas padi pada periode tersebut berada pada angka stabil, didukung kondisi cuaca yang masih cukup bersahabat pada awal tahun.
"Kalau melihat angka luas panen 31 ribu hektare dan produksi di atas 200 ribu ton, ini menjadi sinyal positif. Artinya, stok awal kita cukup untuk mengantisipasi tekanan di musim kemarau,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Dia menambahkan, distribusi produksi tersebar di sejumlah kecamatan sentra padi seperti Ligung, Jatitujuh, dan Kadipaten. Wilayah-wilayah tersebut menjadi penyumbang utama terhadap total produksi gabah selama tiga bulan pertama tahun ini.
Pemerintah daerah juga terus mendorong percepatan tanam untuk musim tanam kedua guna mengamankan siklus produksi.
Meski demikian, kata Gatot, ancaman kemarau lebih dini tetap menjadi perhatian utama. Berdasarkan proyeksi klimatologi, periode kering diperkirakan mulai berlangsung lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Baca Juga
- Pacu Produksi Padi, Sumedang Perluas Pola Tabela
Kondisi ini berpotensi memengaruhi ketersediaan air irigasi dan berdampak langsung pada luas tanam serta hasil panen.
“Karena itu, kami mendorong petani segera melakukan percepatan tanam. Dengan begitu, fase kritis tanaman tidak bertepatan dengan puncak kemarau,” kata dia.
Di tingkat petani, capaian produksi awal tahun ini dirasakan cukup membantu. Asep (47), petani padi asal Kecamatan Jatitujuh, mengatakan hasil panen pada musim pertama tergolong baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dia mengaku produktivitas lahannya meningkat berkat ketersediaan air yang masih mencukupi.
“Alhamdulillah, panen kemarin lumayan. Dari satu hektare bisa dapat sekitar 6 sampai 6,5 ton. Ini jadi pegangan buat musim berikutnya,” kata Asep.
Namun, ia juga mengungkapkan kekhawatiran terkait potensi kekeringan yang lebih cepat datang. Menurut dia, pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa keterlambatan tanam bisa berdampak besar terhadap hasil produksi.
“Kalau kemarau maju, air biasanya cepat susut. Jadi kami sekarang sedang kejar tanam supaya tidak kekurangan air di tengah masa pertumbuhan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan petani lainnya, Dedi (52), yang menyebutkan bahwa keberhasilan panen awal tahun ini tidak serta-merta membuat petani tenang. Dia menilai tantangan ke depan justru lebih berat karena ketidakpastian cuaca.
“Memang awal tahun bagus, tapi ke depan belum tentu. Kalau air irigasi berkurang, biasanya hasil turun. Jadi kami berharap ada bantuan pengairan atau pompa dari pemerintah,” katanya.





