Member teman kumparan Running Club, Yuga Eka (34), ambil bagian dalam salah satu ajang lari paling bergengsi di dunia, London Marathon 2026. Namun, perannya adalah sebagai private pacer, mendampingi pelari berusia 64 tahun.
Yuga awalnya hanya menjadikan lari sebagai hobi. Ia mulai berlari sejak 2017 demi mendapatkan bentuk tubuh ideal menjelang wisuda. Setelah merasakan manfaatnya, ia justru tergerak untuk semakin serius menekuni lari.
Langkah besarnya dimulai saat ia menuntaskan full marathon pertamanya di Borobudur Marathon 2023 dengan catatan waktu 4 jam 30 menit. Sejak itu, Yuga semakin aktif mengikuti berbagai ajang lari dan menargetkan peningkatan performa.
“Tahun ini saya akan mencoba berlari di Jakarta Running Festival 2026 dengan target waktu finish 4.15 jam,” tuturnya.
Cerita Menjadi Pacer AndalPerjalanan Yuga sebagai pacer bermula dari sebuah kebetulan. Ia pertama kali diminta oleh coach-nya untuk mendampingi seorang pelari senior di Maybank Bali Marathon 2022. Kebetulan, saat itu ia juga berada di Bali untuk mengikuti ajang yang sama, sehingga Yuga pun memutuskan untuk mengambil kesempatan tersebut.
Meski saat itu belum memiliki banyak pengalaman sebagai pacer, Yuga menjalani peran tersebut dengan penuh tanggung jawab. Ia mendampingi pelari tersebut sesuai target finish yang telah ditentukan, tanpa terlalu memikirkan fee. Baginya, “Mendapat fee itu hanyalah bonus semata.”
Sejak itu, Yuga kerap mendapat permintaan untuk kembali menjadi pacer di berbagai race lokal. Chemistry yang sudah terbangun membuatnya terus dipercaya. Bahkan, perannya berkembang hingga ke ajang internasional.
“Tahun pertama saya dipercaya menemani race di dalam negeri. Tahun kedua, pertama kali saya dipercaya beliau di luar negeri adalah di Singapore Marathon. Puncaknya di tahun 2024, saya diminta dan dipercaya untuk menemani race di Berlin,” ujarnya. Selama tiga tahun menjadi pacer, ia bahkan konsisten mencatatkan personal best di setiap ajang.
Menjadi private pacer bagi pelari senior tentu bukanlah tugas ringan. Yuga harus menjalani latihan yang lebih intens dibandingkan biasanya. Selain meningkatkan porsi latihan fisik, ia juga menjaga pola makan sehari-hari serta rutin memantau kondisi tubuh agar tetap prima menjelang race.
Di sisi lain, ia juga aktif berkoordinasi dengan coach dari pelari yang didampingi untuk memahami riwayat latihan, catatan waktu, hingga kondisi kesehatan. Hal ini penting agar strategi yang diterapkan benar-benar sesuai dengan kapasitas pelari dan dapat dievaluasi secara berkala.
Nah, untuk menghadapi London Marathon 2026 pada 26 April mendatang, Yuga juga menyiapkan strategi pacing yang matang. Ia mengombinasikan catatan waktu dari race sebelumnya dengan target waktu yang telah disepakati bersama coach. Dari situ, ia membuat “contekan pacing” dalam bentuk gelang tahan air yang akan digunakan selama race.
Berbekal pengalaman, kedisiplinan, serta strategi yang terukur, Yuga optimistis dapat menjalankan perannya dengan baik dan membantu pelari yang didampinginya menuntaskan London Marathon 2026 dengan target finish 6 jam.
Jangan ketinggalan info event Fun Run! Gabung komunitas teman kumparan Running Club sekarang http://kum.pr/running





