Konflik Geopolitik Belum Reda, IEA Pangkas Proyeksi Permintaan Minyak Dunia

idxchannel.com
9 jam lalu
Cover Berita

IEA kini memperkirakan penurunan permintaan sebesar 80 ribu barel per hari (bpd) tahun ini, dibandingkan proyeksi kenaikan 640 ribu bpd dalam laporan Maret.

Konflik Geopolitik Belum Reda, IEA Pangkas Proyeksi Permintaan Minyak Dunia. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) mengatakan perang Timur Tengah telah mengguncang prospek pasokan dan permintaan global. 

IEA kini memperkirakan penurunan permintaan sebesar 80 ribu barel per hari (bpd) tahun ini, dibandingkan proyeksi kenaikan 640 ribu bpd dalam laporan Maret.

Baca Juga:
Bursa Asia Menguat, Harapan Damai AS-Iran Redakan Lonjakan Minyak

Dalam laporan Maret dilansir Reuters, Selasa (14/42026), IEA menyebut perang di Timur Tengah menjadi gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah. Namun, EIA saat itu masih memperkirakan adanya pertumbuhan tahunan baik pada pasokan maupun permintaan.

"Penurunan permintaan akan meluas seiring kelangkaan dan harga tinggi yang terus berlanjut," kata IEA, yang juga memberi catatan bahwa penurunan konsumsi minyak terdalam sejauh ini terjadi di Timur Tengah dan Asia-Pasifik, khususnya untuk nafta, LPG, dan bahan bakar jet.

Baca Juga:
Harga CPO Turun Lebih 2 Persen Tertekan Brent dan Minyak Nabati Pesaing

Lembaga tersebut mengatakan penurunan permintaan sebesar 1,5 juta bpd pada kuartal II-2026 akan menjadi kontraksi terdalam sejak pandemi Covid-19.

Sementara itu, Kelompok produsen minyak OPEC menurunkan proyeksi permintaan minyak dunia untuk kuartal II-2026, namun mempertahankan outlook setahun penuh.

Baca Juga:
Indonesia Minta Rusia Pasok Minyak dengan Harga Terjangkau

Dari sisi pasokan, IEA memperkirakan produksi global turun rata-rata 1,5 juta bpd tahun ini jika dibandingkan dengan tahun lalu. Angka ini berbeda dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan kenaikan 1,1 juta bpd.

Serangan terhadap infrastruktur energi regional dan penutupan efektif Selat Hormuz menyebabkan hilangnya pasokan 10,1 juta bpd pada Maret, yang disebut sebagai gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

Arus minyak mentah, bahan bakar olahan, dan cairan gas alam hanya mencapai 3,8 juta bpd pada awal April, turun dari 20 juta bpd pada Februari sebelum AS dan Israel melancarkan serangan awal terhadap Iran.

“Pemulihan aliran melalui Selat Hormuz tetap menjadi faktor paling penting untuk meredakan tekanan pada pasokan energi, harga, dan ekonomi global,” kata IEA.

Skenario dasar IEA memperkirakan pengiriman rutin minyak dan gas dari Timur Tengah ke pasar internasional akan kembali normal pada pertengahan tahun, meski masih di bawah level sebelum konflik. 

Namun, lembaga tersebut juga menyajikan skenario yang lebih parah dengan gangguan pasokan jangka panjang, yang bisa menguras hampir 2 miliar barel stok minyak dan memaksa permintaan turun rata-rata 5 juta bpd secara tahunan dari kuartal II hingga kuartal IV.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Selangkah Lagi Sekolah Unggulan KKSS Pekanbaru Dibangun
• 7 jam laluharianfajar
thumb
Pelaksanaan WFH ASN Pekan Pertama Berjalan Lancar, Pemerintah Tetap Lakukan Evaluasi
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Daftar 7 Laga Sisa PSM Makassar di Super League! Tantangan Awal dari Borneo FC di GBH, Head to Head Berpihak kepada Tamu
• 16 jam laluharianfajar
thumb
Inisiatif Aiptu Jacky Bikin Rumah Belajar Victory dari Bekas Warung Miras
• 18 jam laludetik.com
thumb
UI Buka Peluang DO Mahasiswa Terduga Pelaku Pelecehan Seksual di Grup Chat
• 16 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.