JAKARTA, KOMPASTV - Puluhan kapal tanker minyak dan kapal kargo dilaporkan berlabuh di Selat Hormuz pada Selasa (14/4/2026), di hari kedua penerapan blokade maritim oleh Amerika Serikat yang menargetkan pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ketegangan yang terus meningkat antara Amerika Serikat dan Iran kini mulai mengganggu salah satu jalur energi paling vital di dunia.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global melewati jalur sempit tersebut, sehingga gangguan di kawasan ini langsung berdampak besar terhadap pasar global.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa blokade ini merupakan respons atas sistem pungutan yang diterapkan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut blokade maritim di Selat Hormuz memiliki berbagai tujuan strategis, mulai dari menekan Iran kembali ke meja perundingan hingga menjaga stabilitas harga energi global.
Dalam pernyataannya kepada wartawan, Trump menegaskan bahwa langkah tersebut juga bertujuan menghentikan praktik yang ia sebut sebagai “pemerasan” oleh Iran terhadap jalur pelayaran internasional.
“Mungkin semuanya memaksa negosiasi, membuka jalur, dan lebih dari itu. Kita tidak bisa membiarkan satu negara memeras dunia,” ujar Trump.
Trump juga menekankan bahwa Amerika Serikat tidak bergantung pada jalur energi di Hormuz. Ia mengklaim produksi minyak dan gas AS saat ini melampaui negara-negara produsen besar lainnya dan akan terus meningkat.
“Kita punya lebih dari yang kita butuhkan. Tapi dunia membutuhkan jalur itu,” katanya.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Video Editor: Lintang
Baca Juga: Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Kunjungi Pentagon, Hubungan RI–AS Naik Level
Penulis : Yuilyana
Sumber : Kompas TV
- hormuz
- trump





