Banyak siswa tanpa sadar memiliki kebiasaan membandingkan diri dengan teman yang dianggap lebih pintar, lebih aktif, atau lebih populer. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan Pendidikan, tetapi juga Psikologi karena dapat memengaruhi kepercayaan diri siswa.
Di masa sekolah, banyak siswa merasa harus memenuhi berbagai harapan dari orang-orang di sekitarnya.Harapan tersebut bisa datang dari orang tua, guru, teman, bahkan dari media sosial. Siswa diharapkan memiliki nilai yang bagus, aktif dalam kegiatan sekolah, memiliki banyak teman, dan tetap terlihat baik di depan orang lain. Tanpa disadari, ekspektasi yang tinggi seperti ini dapat membuat siswa mulai membandingkan dirinya dengan orang lain.
Kebiasaan membandingkan diri sering kali muncul ketika melihat teman yang lebih pintar, lebih aktif, lebih percaya diri, atau lebih populer. Ada siswa yang merasa dirinya kurang baik hanya karena nilainya tidak setinggi teman-temannya. Ada juga yang merasa minder karena tidak seaktif siswa lain dalam organisasi atau kegiatan sekolah.
Di era media sosial, kebiasaan membandingkan diri menjadi semakin mudah terjadi. Banyak siswa melihat unggahan teman yang terlihat bahagia, berprestasi, atau memiliki kehidupan yang menarik. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Namun, tidak sedikit siswa yang akhirnya merasa bahwa hidup mereka kurang menarik dibandingkan orang lain.
Dalam ilmu psikologi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui teori social comparison dari Leon Festinger. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang cenderung menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Ketika seseorang merasa dirinya lebih rendah dibanding orang lain, rasa percaya dirinya dapat menurun.
Selain itu, teori looking-glass self dari Charles Horton Cooley juga menjelaskan bahwa seseorang sering menilai dirinya berdasarkan bagaimana ia merasa dilihat oleh orang lain. Akibatnya, banyak siswa menjadi terlalu memikirkan penilaian orang lain dan takut dianggap tidak cukup baik.
Kebiasaan membandingkan diri yang dilakukan terus-menerus dapat memberikan dampak buruk bagi kepercayaan diri siswa. Mereka bisa merasa bahwa apa yang mereka miliki tidak pernah cukup. Mereka juga menjadi lebih mudah merasa minder, tidak percaya diri, dan takut gagal.
Padahal, setiap siswa memiliki kemampuan, kelebihan, dan proses yang berbeda-beda. Tidak semua orang harus menjadi yang paling pintar, paling aktif, atau paling populer. Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuat seseorang lupa melihat perkembangan dirinya sendiri.
Ekspektasi dari orang lain memang tidak bisa dihindari, tetapi siswa juga perlu belajar untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri. Kepercayaan diri tidak datang dari seberapa hebat seseorang dibanding orang lain, tetapi dari kemampuan untuk menerima diri sendiri dan terus berkembang sesuai kemampuan masing-masing.





