Analisis SBY soal Dampak Perang di Timur Tengah terhadap Ekonomi Dunia

cnbcindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita
Foto: Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (Instagram/agusyudhoyono)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai kondisi perekonomian dunia bisa memburuk jika perang di Timur Tengah tidak segera usai. Hal itu diungkapkan SBY saat acara Supermentor 28 on Leadership di St Regis, Jakarta, Selasa (14/4/2026).


Baca: Analisis SBY soal Gejolak Harga Energi: Untuk RI, Kita tak Perlu Panik



Saat memberikan paparan, SBY bicara mengenai krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 2008. Menurutnya, kepemimpinan merupakan hal pentung dan dibutuhkan untuk terlepas dari tujuan yang ditetapkan, yaitu melewati krisis yang terjadi.

"Saya kira semua tahu ada gejolak ekonomi. Sekarang hati-hati, kalau perang tidak segera berakhir di Timur Tengah, barangkali nasib dunia terutama perekonomian dunia akan sungguh buruk," kata SBY.

SBY juga menyinggung perundingan yang sedang dilakukan oleh pihak Iran dengan Amerika Serikat - Israel di Islamabad, Pakistan. Meskipun perkembangan terakhir masih berakhir buntu, karena persyaratan yang tidak bisa diterima oleh dua pihak.

Menurut Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat tersebut, jika hasil perundingan juga bisa diakhiri, dampak perang juga tidak bisa kembali dinormalisasi dalam waktu cepat. Hal itu juga bisa membuat krisis ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 2008 bisa terulang. Sehingga dia menitipkan pesan kepada pemimpin dunia.

"Kalau perang berakhir today, kalau deal bisa dicapai di Islamabad, tidak berarti kita sudah kembali normal. Perlu waktu sekian bulan untuk stabilize, to normalize our economy, global economy. Apalagi kalau tidak, bisa dibayangkan," tuturnya.

"So, apa yang kita alami dulu global economy crisis tahun 2008 bisa terjadi lagi kalau tidak ada kesadaran global, kalau pemimpin dunia gagal melaksanakan tugasnya, penderitaan akan kita alami bersama," tambahnya.

Lebih lanjut, SBY juga berpesan kepada pemimpin untuk tidak panik, gamang, dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Menurutnya, semua opsi harus dijalankan dengan rasional dan realistis, dan bisa dicapai. Selain itu, pemimpin juga harus menjaga rakyatnya yang tidak mampu.

"Oleh karena itu, on the one hand, jaga pertumbuhan ekonomi, jaga jangan sampai terlalu banyak PHK, jaga stabilitas harga, tapi jangan lupa pula social safety net. Melindungi yang lemah, memproteksi saudara-saudara kita," ujarnya.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Momen Jokowi-SBY Gandeng Prabowo Rayakan Lebaran di Istana

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Komisi III DPR RI Puji Transparansi Polri, Pemuda Timur: Itu Realitas
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Pasca-OTT Bupati Gatut Sunu, Kemendagri Turun Tangan Dampingi Pemkab Tulungagung
• 4 jam laluliputan6.com
thumb
Tragis! Kebakaran Kos di Kemayoran, 1 Orang Tewas
• 22 jam laluokezone.com
thumb
PM Pakistan Kunjungi Arab Saudi dan Turki di Tengah Prospek Dialog Baru AS-Iran
• 59 menit lalubisnis.com
thumb
Polisi Penolong di Paotere, Satpolairud Polres Pelabuhan Makassar Bantu Ibu-ibu, Lansia, dan Anak Turun dari Kapal
• 39 menit laluharianfajar
Berhasil disimpan.