Di Antara Cilok dan Buku: Raja Sinaga Nyalakan Literasi di Taman Cikapayang

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Malam perlahan turun di Taman Cikapayang Dago, Bandung. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan dan lampu kota yang temaram, seorang pria tampak sibuk melayani pembeli cilok. Namun, ada yang berbeda dari lapaknya, di samping gerobak sederhana itu, tersusun rapi buku yang bebas dibaca siapa saja.

Dia adalah Raja Saud Martua Sinaga, atau akrab disapa Raja Sinaga. Pria berusia 26 tahun ini bukan sekadar penjual cilok biasa. Sembari jualan, ia juga membuka lapak baca buku gratis yang kini menarik perhatian banyak orang.

Raja bukan orang asli Bandung. Ia lahir dan besar di Majalengka dari keluarga berdarah Batak. Sudah dua tahun terakhir ia merantau ke Kota Kembang, sekaligus memulai usahanya sebagai pedagang cilok.

“Di Bandung udah dua lebaran, ya sekitar dua tahunan,” ujarnya saat ditemui, Selasa (14/4).

Awalnya, ia hanya berjualan seperti biasa, berpindah dari satu titik ke titik lain. Namun kebiasaan kecil mengubah segalanya. Raja gemar membaca, bahkan saat berjualan. Buku selalu menemaninya di sela waktu menunggu pembeli.

“Setiap jualan saya suka bawa buku. Kalau lagi sepi ya baca. Tapi orang-orang malah sering nanya, ‘Aa kuliah ya?’ atau ‘Aa sambil kuliah?’,” ucapnya sambil tersenyum.

Dari situ, ia menangkap adanya persepsi bahwa membaca buku identik dengan kalangan tertentu. “Seolah-olah yang baca buku itu punya tingkatan,” tutur Raja.

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Raja berpikir. Ia merasa ada jarak tak kasat mata antara buku dan masyarakat. Dari situlah ide sederhana muncul: membuka akses membaca bagi siapa saja, tanpa sekat.

Ide itu akhirnya direalisasikan. Lapak baca lalu mulai ia buka saat Ramadan tahun lalu. Bersamaan itu, Raja memutuskan tidak lagi berkeliling dan memilih menetap di satu lokasi hingga malam.

"Daripada nunggu sampai subuh cuma main HP, ya mending bawa buku. Kayaknya buku yang di kontrakan menarik buat dibawa,” ungkap dia.

Awalnya hanya koleksi pribadi. Namun perlahan, buku-buku mulai bertambah dari donasi teman-temannya. Meski begitu, Raja tak sembarangan menerima sumbangan.

“Yang mau donasi itu banyak, tapi banyak juga yang saya tolak. Saya enggak mau ini jadi aji mumpung karena lagi ramai,” katanya.

Ia juga tetap membeli buku baru dengan uang dari koceknya sendiri.

“Saya baru kemarin beli empat buku. Jadi tetap ada usaha dari saya juga,” ujar dia.

Lapak baca Raja buka setiap malam, sekitar pukul 19.00 hingga tengah malam, kemudian menutup lapak buku dan bergeser ke lokasi selanjutnya di dekat sebuah klub malam. Sebelum itu, ia tetap berjualan cilok di beberapa titik.

Kini, aktivitasnya lebih terfokus di kawasan Dago.

“Dulu saya punya empat titik jualan, sekarang jadi dua. Jadi ibarat penghasilan saya itu tetap tidak terganggu, makanya saya masih bisa ngelapak buku,” jelasnya.

Soal penghasilan, Raja mengaku tidak menentu. Namun ia bersyukur hasil jualan cilok masih mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau dibilang cukup, ya cukup. Nggak rame banget, nggak sepi banget. Buat makan ya alhamdulillah,” ungkap Raja.

Di sisi lain, lapak kecil ini mulai memberi dampak. Umar Fajar (17), siswa SMA yang datang karena melihat video di media sosial, mengaku langsung tertarik.

“Jarang banget lihat tukang cilok sambil buka lapak buku. Ini pertama kali saya lihat,” kata Umar.

Ia datang bersama temannya setelah melihat video yang beredar di media sosial. “Saya tahu dari reels, terus langsung pengen ke sini,” ungkapnya.

Malam itu, Umar tampak asyik membaca buku berjudul 'Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat'. Ia menilai koleksi buku di lapak tersebut cukup menarik.

“Bukunya bagus-bagus, banyak yang tentang sosial, politik, sejarah. Itu yang saya suka,” ujarnya.

Meski jumlah buku belum terlalu banyak, kualitasnya dinilai cukup baik oleh para pengunjung. Lapak ini pun menjadi ruang alternatif bagi anak muda untuk membaca di tengah suasana kota.

Kini, di antara asap cilok yang mengepul dan suara kendaraan yang berlalu lalang, lembar demi lembar buku terus dibuka. Raja Sinaga mungkin hanya seorang pedagang kaki lima. Namun dari lapak kecilnya, ia menyampaikan pesan sederhana, bahwa membaca buku bukan hanya untuk kalangan tertentu melainkan untuk siapa saja.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Honda dan MCN 2026 Hadirkan Event Kuliner Ramah Lingkungan di Makassar
• 19 jam laluterkini.id
thumb
Prakiraan Cuaca Jabodetabek Hari Ini: Potensi Hujan Disertai Petir
• 1 jam laluokezone.com
thumb
Ekonomi Digital RI Tembus 100 Miliar Dolar AS, UNM Cetak Talenta Siap Kerja Lewat Program IEP 3+1
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
PN Solo Tolak Gugatan CLS Ijazah Jokowi
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
ULM loloskan 107 proposal penelitian didanai Kemdiktisaintek
• 13 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.